Tag Archives: Volcano Kompleks Tipe A

GUNUNG DUKONO (1.185 MDPL)

Gambar Gunung Dukono
c: @magfirahbudiwati

GUNUNG DUKONO (1.185 MDPL)
Di Provinsi Maluku Utara

Gunung Dukono adalah gunung api strato dan juga kompleks yang terletak di Halmahera Utara dan gunung ini masih aktif. Gunung Dukono memiliki banyak saluran vulkanik dan ketinggiannya mencapai 1.185 mdpl. Berdasarkan catatan sejarah, Gunung Dukono sudah 21 kali meletus, yakni dari tahun 1550, 1719, 1868, 1901, 1933 dan masih terus berpotensi meletus kembali.

Halmahera Utara memiliki beberapa gunung api di antaranya yakni Gunung api kembar Tarakan Itji dan Tarakan Lamo, serta Gunung Mamuya. Sebagian besar gunung api yang berada di wilayah Provinsi Maluku Utara tersebar di pulau-pulau kecil.

PENDAKIAN
Pendakian Gunung Dukono dimulai dari Pos Pengamatan yang terdapat di Desa Mamuya, Kecamatan Galela. Pendakian membutuhkan 7 jam untuk bisa sampai puncak Dukono. Total panjang jalur mencapai puncak mencapai 14 km. Trek menuju puncak adalah trek landai berupa tumpukan abu vulkanik padat. Terdapat pula perbukitan bernama Bukit Bulan dan Bukit Bintang.

PUNCAK
Puncak Gunung Dukono terdiri dari beberapa kawah kubah yang sangat luas. Nama-nama kubah kawah tersebut yakni Malupang-Warirang, Dilekene, Malupang Magiwe, Telori, dan Heneowara. Kawah terbesar adalah Malupang-Warirang, yakni dengan diameter 360 meter dan kedalaman 230 meter.

Nama lain : Doekono, Sukoko, Dooekko, Dukoma, Tala, Tolo
Elevasi : 2.118 mdpl
Lokasi : Halmahera Utara , Maluku Utara
Jenis : Strato dan Kompleks Tipe A
Pengelola : Pemerintah Halmahera Utara
Keistimewaan :
Jalur pendakian : Desa Mamuya
Tempat Ikonik : Bukit Bulan, Bukit Bintang
Puncak : Malupang-Warirang, Dilekene, Malupang Magiwe, Telori, dan Heneowara
Lama pendakian : 7 jam
Koordinat : 1°41’58.3″N 127°52’33.0″E
Level pendakian : sedang

Baca Juga : Gunung Buku Sibela & Gunung Ibu

Maps

GUNUNG KELIMUTU (1.639 MDPL)

Gambar Gunung Kelimutu Danau
c: @malthezimakoff

GUNUNG KELIMUTU (1.639 MDPL)
Di Provinsi Nusa Tenggara Timur

Gunung Kelimutu adalah sebuah gunung api berjenis kompleks dan bertipe A. Terdapat sumber-sumber vulkanik yang tersebar di beberapa titik. Secara administratif, Gunung Kelimutu terletak di Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, NTT. Gunung ini berketinggian 1.639 mdpl dan tercatat meletus terakhir kali yakni pada tahun 1968. Sejak tahun 1830 hingga 1996 tercatat adanya aktivitas vulkanik yang bergejolak di gunung ini. Namun sekarang tingkat keaktifannya sangat minim, sehingga Gunung Kelimutu ini bisa dibilang aman untuk pendakian. Gunung Kelimutu berjenis gunung kompleks. Terdapat beberapa puncak di area Gunung Kelimutu yakni Gunung Kelido dan Gunung Kelibara (terpisah). Puncak Gunung Kelimutu yang terdiri dari tiga danau kawah adalah hasil bentukan dari letusan dahsyat Gunung Api Purba bernama Sokoria Purba.

Spot paling utama dan menjadi spot menarik di Gunung Kelimutu ialah puncaknya yang memiliki tiga buah danau kawah. Oleh sebab itulah masyarakat lebih sering menyebut Gunung Kelimutu dengan “Danau Kelimutu”. Tiga danau kawah Kelimutu terisi air yang memiliki warna berbeda-beda, kemudian atas keunikan inilah danau kawah Kelimutu selanjutnya dijuluki sebagai “Danau Tiga Warna”. Warna dasar ketiga danau tersebut adalah biru, merah, dan putih. Nama “Kelimutu” sendiri memiliki arti “Gunung mendidih”. Keindahan danau tiga warna Kelimutu diabadikan dalam uang kertas lima ribu rupiah keluaran tahun 1992.

Ketiga danau kawah tersebut memiliki cerita legenda yang diceritakan turun-temurun oleh masyarakat sekitar. Dahulu kala, di puncak gunung hidup dua orang yang sakti. Mereka bernama Ata Polo dan Ata Bupu. Ata Polo adalah sosok jahat yang memangsa manusia. Sedangkan Ata Bupu adalah sosok kakek tua yang baik hati. Keduanya memiliki kesaktian yang sama. Suatu saat datang dua anak kecil kepada Ata Bupu. Mereka meminta Ata Bupu untuk mengasuh mereka, karena orangtua mereka telah tiada. Ata Bupu menerimanya. Kemudian datanglah Ata Polo ke tempat Ata Bupu dan mencium bau manusia, lantas Ata Polo hendak memangsanya. Namun dihadang oleh Ata Bupu. Ata Bupu membuat sebuah kesepakatan dengan Ata Polo, yakni Ata Polo boleh memangsa dua anak manusia tersebut ketika mereka telah dewasa. Ata Polo pun menyanggupinya dan kemudian pergi. Bertahun-tahun berlalu, kedua anak tersebut tumbuh dewasa. Mereka diberi nama Ko’ofai (gadis muda) dan Nuwa Muri (laki-laki muda). Mereka berdua pamit kepada Ata Bupu untuk pergi dan bermukim di gua. Suatu ketika datanglah Ata Polo menagih janji, namun tidak ditemukan kedua manusia yang hendak dimangsanya itu. Ata Polo marah besar. Terjadilah pertarungan sengit antara Ata Polo dan Ata Bupu. Ata Bupu yang sudah tua akhirnya kalah dan menghilang ke dalam bumi. Kemudian, Ata Polo yang semakin marah justru termakan oleh kekuatannya sendiri dan ikut pula lenyap ke dalam bumi. Ko’ofai dan Nawa Muri yang tinggal di gua turut tenggelam ke dalam bumi akibat kekuatan yang dahsyat itu. Tempat menghilangnya Ata Bupu berubah menjadi danau kawah putih, tempat menghilangnya Ata Polo menjadi danau kawah merah, dan tempat menghilangnya Ko’ofai dan Nawa Muri menjadi danau kawah biru.

PENDAKIAN
Kawasan Gunung Kelimutu dijadikan sebagai wilayah konservasi yang dinamakan Taman Nasional Kelimutu (TNK). Cara untuk menuju puncak danau kawah yakni dengan menuju pintu masuk TNK yang terletak di Desa Moni, Kecamatan Kelimutu. Pendakian menuju puncak terbilang mudah, karena sudah disediakan trek berupa anak tangga dengan pembatas kanan-kiri. Kemudian dilanjutkan dengan trek berbatu.

Kawasan kaki Gunung Kelimutu adalah berupa hutan pinus, hutan cemara, dan kayu merah. Ada pula wisata pemandian air panas di kawasan Gunung Kelimutu. Berada di sekitar kawasan danau sudah ada berbagai fasilitas berupa losmen, toilet, pondok, warung, dan resto. Hal tersebut membuktikan bahwa pemerintah setempat telah memaksimalkan potensi wisata di Gunung Kelimutu.

Masalah lain yang timbul yakni berkaitan dengan kebersihan. Para wisatawan maupun pedagang kadang masih membuang sampah sembarangan. Hal tersebut tentunya menjadi masalah yang perlu ditangai segenap pengampu kepentingan di sana.

Hukum adat setempat melarang jual beli tanah di kawasan sekitar Kelimutu. Hal tersebut menjadi komitmen masyarakat setempat untuk menjaga kelestarian kawasan Gunung Kelimutu. Kawasan hutan Kelimutu dihuni mayoritas oleh monyet, babi hutan, dan rusa.

PUNCAK
Puncak Gunung Kelimutu terdiri dari tiga buah danau legendaris. Danau warna biru bernama “Tiwu Nuwa Muri Ko’ofai” yakni artinya “Danau Pemuda dan Gadis”. Danau biru tersebut memiliki kedalaman 127 meter. Danau warna merah bernama “Tiwu Ata Polo” yang artinya “Danau Orang Jahat”. Danau merah tersebut memiliki kedalaman 64 meter. Dan danau warna putih dinamakan “Tiwu Ata Bupu” yang artinya “Danau orang tua baik”. Kedalamannya mencapai 67 meter.

Antara danau kawah dibatasi oleh dinding batu yang sempit dan tipis dengan ketinggian 50-150 meter. Warna dari danau kawah tersebut kadang berubah-ubah menjadi coklat tua, hijau muda, dan hitam. Perubahan warna tersebut akibat pengaruh dari aktivitas gunung api di dalam gunung, pembiasan cahaya matahari, mikrobiota air, zat kimia terlarut, gangga dan pantulan warna dinding dan dasar danau. Penelitian lain mengungkapkan bahwa perubahan warna danau disebabkan oleh aktivitas proses geokimia di dasar danau yang menghasilkan zat kimia dan mengubah warna air. Ada mitos yang berkembang di tengah masyarakat, yakni perubahan warna Danau Kelimutu dipengaruhi oleh kondisi politik nasional. Jika sedang ‘adem’ maka warna danau adalah biru, namun jika sedang ‘panas’ maka warna danau menjadi merah.

Ada ritual pemberian sesaji jika terjadi perubahan warna air danau. Ada pula festival “Pati Ka” yaitu ritual memberi makan kepada leluhur di Gunung Kelimutu.

Nama lain : Danau Kelimutu, Danau Tiga Warna, Tiwu Kelimutu
Elevasi : 1.639 mdpl
Lokasi : Nusa Tenggara Timur
Jenis : Volcano Kompleks Tipe A
Pengelola : Taman Nasional Kelimutu (TNK)
Keistimewaan : Gunung dengan tiga danau kawah yang memiliki warna air berbeda-beda
Jalur pendakian : Desa Moni
Tempat Ikonik :
Puncak : Tiga Danau Kawah Kelimutu
Lama pendakian : 30 menit – 1 jam
Koordinat : 8°46’08.1″S 121°49’19.2″E
Level pendakian : mudah

Baca Juga : Gunung Uye Lewun & Gunung Ile Ape

Maps

GUNUNG INELIKA (1.559 MDPL)

Gambar Puncak Kawah Gunung Inelika
c: @lako2_advntr

GUNUNG INELIKA (1.559 MDPL)
Di Provinsi Nusa Tenggara Timur

Gunung Inelika merupakan gunung api berkategori kompleks (yakni terdapat banyak lubang keluarnya lava) yang berlokasi di Kabupaten Ngada, Flores. Gunung Inelika sudah aktif sejak 1905 dan terakhir tahun 2001 terjadi letusan yang cukup besar. Gunung ini memiliki ketinggian 1.559 mdpl.

Gunung Inelika merupakan bentukan dari Gunung Wolo Ngada yang meletus dan membentuk beberapa puncak lainnya yang kesemuanya hampir mengerucut. Puncak-puncak tersebut yakni: Wolo Loboleke, Wolo Betiferi, Wolo Trikora, Wolo Runu, Wolo Lega Utara, Wolo Lega Selatan.

PENDAKIAN
Jalur pendakian yang tersedia yakni melalui Kampung Menge (13 km dari Kota Bajawa), dan Kampung Bolonga (melalui lereng barat). Selain itu, ada pula pos pengamatan yang terletak di Kampung Ngelupadi, Desa Wololika. Pendakian Gunung Inelika tidak begitu sulit, trek akan melewati punggungan gunung.

PUNCAK
Puncak Inelika terdapat tiga lubang kawah yang memanjang berukuran 300×20 m dan terisi air dengan warna berbeda-beda. Warna air kawah yakni cokelat kekuningan, cokelat kemerahan, dan hijau tosca.

Ada wisata pemandian air panas bernama “Mengeruda” yang terletak di Desa Piga. Pemandian tersebut unik karena berbentuk aliran sungai. Setelah menikmati pemandian tersebut, selanjutnya kita bisa pula menikmati kopi khas daerah Bajawa yang nikmat.

Nama lain : Inielika, Koek Peak, Wolo Inielika
Elevasi : 1.559 mdpl
Lokasi : Nusa Tenggara Timur
Jenis : Volcano Kompleks Tipe A
Pengelola : Pemerintah Ngada
Keistimewaan :
Jalur pendakian : Kampung Menge, dan Kampung Bolonga
Tempat Ikonik : Mengeruda
Puncak : Puncak Inelika
Lama pendakian : 4-5 jam
Koordinat : 8°43’08.7″S 120°58’28.6″E
Level pendakian : mudah

Baca Juga : Gunung Iya & Gunung Rokatenda

Maps