Tag Archives: Sedang

GUNUNG LOMPOBATTANG (2.870 MDPL)

Gambar Puncak Gunung Lompobattang
c: @panji.96

GUNUNG LOMPOBATTANG (2.870 MDPL)
Di Provinsi Sulawesi Selatan

Gunung Lompobattang adalah sebuah gunung yang cukup terkenal di Sulawesi Selatan. Gunung Lompobattang memiliki ketinggian 2.870 mdpl dan masuk dalam kawasan Kabupaten Gowa dan Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Nama “Lompobattang” memiliki arti “perut yang besar”.

Gunung Lompobattang merupakan salah satu puncak tertinggi yang terdapat dalam jajaran gunung di Pegunungan Lompobattang. Gunung ini berdekatan dengan Gunung Bawakaraeng. Selain berdekatan, tradisi yang dilakukan oleh masyarakat setempat juga sama, yakni melakukan “lebaran haji” di puncak gunung. Selain itu, tak jarang pula pendakian yang merangkap menjadi dua puncak yakni Puncak Lompobattang dan Puncak Bawakaraeng, atau sebaliknya. Jalur antar kedua gunung memang saling terhubung.

PENDAKIAN
Jalur pendakian Gunung Lompobattang tersedia melalui Dusun Lembang Bu’ne (1.320 mdpl), dan Lengkese/Malino (1.995 mdpl), Kabupaten Gowa. Jalur Lembang terdapat air terjun setinggi 50 meter, sedangkan pada Jalur Lengkese ada air terjun bertingkat dengan total tinggi mencapai 100 meter. Keseluruhan jumlah pos pendakian adalah 10 pos (dalam angka romawi). Menuju puncak, trek pendakian berupa bebatuan terjal dengan kanan-kiri berupa jurang.

PUNCAK
Puncak Lompobattang berupa puncak tebing dan terdapat pilar sebagai penanda puncak. Terlihat pemandangan puncak Bawakaraeng dari puncak tersebut.
Jalur untuk menuju Puncak Bawakaraeng yakni dengan turun melewati jalur kiri. Trek adalah punggungan terjal dan harus dilalui dengan berjalan miring. Kita akan melewati spot Pasar setan Anjaya dan juga puncak Gunung Ko’bang. Puncak Ko’bang (2.870 mdpl) diyakini sebagai makam Raja Gowa sehingga disakralkan. Kemudian trek dilanjutkan naik-turun bukit terjal berbatu hingga mencapai Puncak Bawakaraeng. Perjalanan seterusnya turun melalui jalur Bawakaraeng.

Nama lain : Piek van Bonthain
Elevasi : 2.870 mdpl
Lokasi : Sulawesi Selatan
Jenis : Non-volcano
Pengelola : Pemerintah Gowa
Keistimewaan :
Jalur pendakian : Dusun Lembang Bu’ne, dan Lengkese/Malino
Tempat Ikonik :
Puncak : Puncak Lompobattang, Moncong Lompobattang
Lama pendakian : 1-2 hari
Koordinat : 5°20’46.3″S 119°55’54.4″E
Level pendakian : sedang

Baca Juga : Gunung Bawakaraeng & Gunung Karua

Maps

GUNUNG BAWAKARAENG (2.883 MDPL)

Gambar Puncak Gunung Bawakaraeng
c: @alvienktazthyck

GUNUNG BAWAKARAENG (2.883 MDPL)
Di Provinsi Sulawesi Selatan

Gunung Bawakaraeng adalah sebuah gunung yang terletak di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Gunung Bawakaraeng menjadi sumber air bagi kehidupan di Kabupaten Gowa, dan beberapa wilayah lain di sekelilingnya. Gunung Bawakaraeng memiliki ketinggian 2.883 mdpl, cukup tinggi untuk dijadikan sebagai objek pendakian gunung.

Nama “Bawakaraeng” memiliki arti “Mulut Tuhan”. Banyak penafsiran terkait penamaan tersebut, salah satunya yakni mengartikan Gunung Bawakaraeng adalah tempat untuk berdoa kepada Tuhan. Gunung Bawakaraeng disebut juga “Butta Toayya” yang artinya adalah “tanah yang dituakan”. Masyarakat setempat meyakini bahwa Gunung Bawakaraeng adalah tempat leluhur mereka sehingga perlu disakralkan atau dihormati.

Sebuah tradisi telah dijalankan turun-temurun oleh masyarakat kaki Gunung Bawakaraeng. Tradisi tersebut adalah “lebaran haji di Puncak Bawakaraeng”. Banyak komentar terkait tradisi tersebut. Ada yang mengatakan pengganti “haji” di Mekkah. Namun hal tersebut dibantah oleh masyarakat Bawakaraeng. Masyarakat SEtempat mengatakan bahwa penafsiran yang benar adalah “lebaran haji” atau “perayaan” saja. Setiap bulan Dzulhijjah atau bersamaan dengan pelaksanaan ibadah Haji di tanah suci, masyarakat kaki Gunung Bawakaraeng akan melakukan pendakian mencapai puncak. Kemudian, di puncak mereka akan melalukan sholat Idul Adha sebagai salah satu kegiatan yang disunahkan. Jika umat muslim umumnya menjalankan sholat tersebut di masjid, maka masyarakat Bawakaraeng menjalankannya di puncak gunung.

Gunung Bawakaraeng merupakan puncak gunung yang masuk dalam kawasan Pegunungan Lompobattang. Beberapa puncak lain yang masuk dalam kawasan pegunungan Lompobattang yakni: Gunung Lompobattang, Gunung Assuempolong, Gunung Kaca, Gunung Ko’bong, Gunung Baria, dan Gunung Porong. Bebepa satwa endemik Sulawesi juga terdapat di kawasan pegunungan tersebut, yakni anoa dan babirusa. Flora-flora yang juga banyak dijumpai yakni pinus, anggrek, dan juga lumut.

PENDAKIAN
Jalur pendakian Gunung Bawakaraeng terletak di Desa Lembanna, Kecamatan Tinggi Moncong, atau sering dikenal dengan “Wisata Malino”. Posisi Desa Lembanna (1.400 mdpl) adalah di sisi barat laut Puncak Bawakaraeng. Selain itu ada alternatif jalur lain yakni melalui Jalur Tassoso (1.320 mdpl) yang terletak di sisi Timur Laur dari Puncak Bawakaraeng.

Jalur Lembanna adalah jalur yang paling populer. Pendakian membutuhkan waktu 2-3 hari untuk sampai di puncak dan turun kembali. Trek awal adalah kawasan perkebunan, dilanjutkan dengan kawasan hutan, dan selanjutnya trek bebatuan dengan vegetasi rendah.

PUNCAK
Puncak Gunung Bawakaraeng berupa lahan yang cukup luas dan terdapat pilar penanda puncak. Saat berada di puncak tersebut akan terlihat puncak Gunung Lompobattang. Gunung Bawakaraeng dan Gunung Lompobattan memang berdekatan, dan tak jarang pula pendakian dilanjutkan menuju Puncak Lompobattang (dan sebaliknya).

Ada sebuah kisah mistis yang terdapat di jalur pendakian Gunung Bawakaraeng dan kadung menjadi bumbu-bumbu pendakian. Cerita yang paling terkenal adalah tentang misteri Noni di Gunung Bawakaraeng. Tahun 1980 seorang wanita bernama Noni melakukan bunuh diri di Pos 3 Jalur Bawakaraeng. Ia menggantungkan diri pada sebuah pohon, diduga karena patah hati. Pohon tempat bunuh diri tersebut masih berdiri hingga sekarang dan menjadi ikon mistis bagi Pos 3. Ada pula kisah tentang meninggalnya 2 mahasiswa Universitas Hassanuddin di pos 5 akibat diterjang badai. Selain itu, ada sebuah lapangan yang diyakini sebagai pasar hantu, lapangan tersebut dijuluki “Pasar Anjaya”. Meski diliputi banyak kisah-kisah horor dan mitos, di sisi lain di bagian Bawakaraeng menyimpan sebuah keindahan. Terdapat sebuah danau yang tidak kalah indah dengan Danau Ranukumbolo di Gunung Semeru. Danau tersebut bernama Danau Tanralili. Berdekatan dengan Danau Tanralili, ada sebuah lembah yang luas yang dinamakan Lembah Ramma.

Ada orang yang tinggal sendirian di Gunung Bawakaraeng, tepatnya di dekat Lembah Ramma. Beliau adalah Tata Mandong, juru kunci Gunung Bawakaraeng sekaligus Gunung Lompobattang. Pria kelahiran 1938 tersebut bertugas menjaga hutan di Bawakaraeng. Setiap hari kegiatannya adalah memantau lingkungan di sekitar gunung, sembari mengembala sapi titipan para warga. Tahun 2004 lereng Gunung Bawakaraeng di pos 8 mengalami longsor hebat dan membuat kerusakan yang cukup parah.

Nama lain : Butta Toayya, Bulu Bawakaraeng
Elevasi : 2.883 mdpl
Lokasi : Sulawesi Selatan
Jenis : Non-volcano
Pengelola : Pemerintah Gowa
Keistimewaan :
Jalur pendakian : Desa Lembanna, Jalur Tassoso
Tempat Ikonik : Pasar Anjaya, Danau Tanralili, Lembah Ramma, Pos 3 Noni
Puncak :
Lama pendakian : 2-3 hari
Koordinat : 5°18’59.8″S 119°56’37.0″E
Level pendakian : sedang

Baca Juga : Gunung Lompobattang & Gunung Karua

Maps

GUNUNG MEKONGGA (2.620 MDPL)

Gambar Puncak Gunung Mekongga
c: @jelajahsultra

GUNUNG MEKONGGA (2.620 MDPL)
Di Provinsi Sulawesi Tenggara

Gunung Mekongga adalah gunung tertinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara, ketinggiannya adalah 2.620 mdpl. Gunung Mekongga masuk dalam kawasan Kabupaten Kolaka.
Gunung Mekongga memiliki cerita legenda yang cukup terkenal dan menjadi cerita yang dipercayai masyarakat sekitar. Dahulu di sebuah gunung ada seekor burung raksasa yang dijuluki Kongga. Burung tersebut sering berbuat onar dan meresahkan masyarakat. Kamudian datanglah seorang ksatria hebat. Ksatria tersebut berhasil membunuh Kongga. Atas prestasinya, ksatria tersebut dinikahkan dengan putri raja. Gunung itupun dinamakan Mekongga.

PENDAKIAN
Jalur pendakian Gunung Mekongga dimulai dari Dusun Suraloko, Desa Rantebaru, Kecamatan Ranteangin. Lokasi tersebut memiliki 2 aliran sungai yang cukup besar yakni Sungai Mosemebu dan Sungai Tinokari.

Pendakian Gunung Mekongga terbilang cukup panjang dan memakan waktu lama yakni mencapai 4-5 hari. Hal ini dikarenakan kita harus berjalan dari titik mdpl yang rendah terlebih dahulu. Trek di awal didominasi oleh perkebunan kakao, dilanjutkan pada kawasan hutan. Pertengah jalur adalah sebuah kawasan yang dulunya dijadikan tempat sebuah perusahaan pengolahan kayu. Oleh sebab itu, ada beberapa jalur yang cukup lebar yang dahulu merupakan jalur truk pengangkut kayu. Spot bekas perusahaan kayu ini dijuluki HBI. Trek selanjutnya berupa kawasan hutan lumut dan mulai menanjak. Kemudian sampailah pada sebuah lokasi dimana terdapat bongkahan batu besar yang mirip sebuah gerbang. Lokasi tersebut dijuluki “Gerbang Musero-sero”. Mulai dari lokasi tersebut trek adalah bebatuan cadas yang terjal dan runcing.

PUNCAK
Puncak Gunung Mekongga berupa kubah yang luas dan terdapat gua-gua stalagmit dan stalagtit. Puncak tersebut dinamakan “Musero-sero”. Secara umum trek pada pendakian Gunung Mekongga cukup panjang dan terjal, namun akses dan informasi terkait jalur cukup jelas dan lengkap sehingga memudahkan para pendaki.

Nama lain :
Elevasi : 2.620 mdpl
Lokasi : Sulawesi Tenggara
Jenis : Non-volcano
Pengelola : Pemerintah Kolaka
Keistimewaan : Gunung tertinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara
Jalur pendakian : Dusun Suraloko
Tempat Ikonik : Gerbang Musero-sero
Puncak : Musero-sero
Lama pendakian : 4-5 hari
Koordinat : 3°39’52.7″S 121°14’08.0″E
Level pendakian : sedang

Baca Juga : Gunung Sabampolulu

Maps

GUNUNG TAMATA (1.134 MDPL)

Gunung Tamata Sitaro
c: @R.Rahasia

GUNUNG TAMATA (1.134 MDPL)
Di Provinsi Sulawesi Utara

Gunung Tamata adalah stratovolcano tipe B yang terletak di Pulau Siau. Gunung ini memiliki ketinggian 1.134 mdpl dan secara administratif masuk dalam kawasan Kabupaten Kepulauan Siau Tegulandan Biaro (Sitaro). Gunung Tamata berdekatan dengan Gunung Karangetang. Kawasan Gunung Tamata adalah habitat bagi flora fauna endemik Pulau Siau.

PENDAKIAN
Belum ada catatan terkait pendakian Gunung Tamata. Namun untuk mendakinya tidak begitu sulit. Hal ini karena titik pendakian berdekatan dengan titik pendakian Gunung Karangetang.

Nama lain :
Elevasi : 1.134 mdpl
Lokasi : Pulau Siau, Sulawesi Utara
Jenis : Stratovolcano Tipe B
Pengelola : Pemerintah Sitaro
Keistimewaan :
Jalur pendakian : Lahopang, Ulu
Tempat Ikonik :
Puncak : Puncak Tamata
Lama pendakian : ?
Koordinat : 2°43’05.3″N 125°22’49.2″E
Level pendakian : sedang

Baca : Gunung Ruang & Gunung Mahawu

Maps

GUNUNG KLABAT (1.995 MDPL)

Gambar Gunung Klabat
c: @raditmahendra

GUNUNG KLABAT (1.995 MDPL)
Di Provinsi Sulawesi Utara

Gunung Klabat adalah sebuah gunung api yang tidak aktif yang terletak di Kabupaten Minahasa Utara. Gunung ini berketinggian 1.995 mdpl, sekaligus menjadi gunung tertinggi di Sulawesi Utara. Gunung Klabat juga dikenal dengan nama Gunung Tamporok. Nama “Klabat” adalah serapan dari bahasa Portugis “Calabets” yang artinya adalah Babirusa (satwa endemik Sulawesi). Beberapa hewan endemik lain juga bisa kita temui , yakni seperti Yaki Pantat Merah (Macaca nigra), dan juga Kuskus Sulawesi.

PENDAKIAN
Jalur pendakian Gunung Klabat tersedia melalui Jalur Air Madidi dan Jalur Dimembe. Trek pendakian berupa kawasan hutan yang lebat dan dibutuhkan waktu 8 jam untuk bisa sampai pada puncak Gunung Klabat.

PUNCAK
Puncak Gunung Klabat berupa kawah mati yang cukup lebat ditumbuhi pohon. Ada danau yang disebut Danau Klabat yang lokasinya berada sebelum puncak. Berada di puncak Klabat, kita bisa melihat pemandangan Gunung Lokon-Embung, Gunung Soputan, dan beberapa gunung lain di Sulawesi Utara.

Nama lain :Gunung Tamporok
Elevasi : 1.995 mdpl
Lokasi : Sulawesi Utara
Jenis : Stratovolcano Tipe B
Pengelola : Pemerintah Minahasa Utara
Keistimewaan : Gunung Klabat menjadi gunung tertinggi di Sulawesi Utara
Jalur pendakian : Jalur Air Madidi dan Jalur Dimembe
Tempat Ikonik : Danau Klabat
Puncak : Puncak Klabat
Lama pendakian : 4-5 jam
Koordinat : 1°27’15.4″N 125°01’51.9″E
Level pendakian : sedang

Baca Juga : Gunung Ambang & Gunung Soputan

Maps

GUNUNG DUKONO (1.185 MDPL)

Gambar Gunung Dukono
c: @magfirahbudiwati

GUNUNG DUKONO (1.185 MDPL)
Di Provinsi Maluku Utara

Gunung Dukono adalah gunung api strato dan juga kompleks yang terletak di Halmahera Utara dan gunung ini masih aktif. Gunung Dukono memiliki banyak saluran vulkanik dan ketinggiannya mencapai 1.185 mdpl. Berdasarkan catatan sejarah, Gunung Dukono sudah 21 kali meletus, yakni dari tahun 1550, 1719, 1868, 1901, 1933 dan masih terus berpotensi meletus kembali.

Halmahera Utara memiliki beberapa gunung api di antaranya yakni Gunung api kembar Tarakan Itji dan Tarakan Lamo, serta Gunung Mamuya. Sebagian besar gunung api yang berada di wilayah Provinsi Maluku Utara tersebar di pulau-pulau kecil.

PENDAKIAN
Pendakian Gunung Dukono dimulai dari Pos Pengamatan yang terdapat di Desa Mamuya, Kecamatan Galela. Pendakian membutuhkan 7 jam untuk bisa sampai puncak Dukono. Total panjang jalur mencapai puncak mencapai 14 km. Trek menuju puncak adalah trek landai berupa tumpukan abu vulkanik padat. Terdapat pula perbukitan bernama Bukit Bulan dan Bukit Bintang.

PUNCAK
Puncak Gunung Dukono terdiri dari beberapa kawah kubah yang sangat luas. Nama-nama kubah kawah tersebut yakni Malupang-Warirang, Dilekene, Malupang Magiwe, Telori, dan Heneowara. Kawah terbesar adalah Malupang-Warirang, yakni dengan diameter 360 meter dan kedalaman 230 meter.

Nama lain : Doekono, Sukoko, Dooekko, Dukoma, Tala, Tolo
Elevasi : 2.118 mdpl
Lokasi : Halmahera Utara , Maluku Utara
Jenis : Strato dan Kompleks Tipe A
Pengelola : Pemerintah Halmahera Utara
Keistimewaan :
Jalur pendakian : Desa Mamuya
Tempat Ikonik : Bukit Bulan, Bukit Bintang
Puncak : Malupang-Warirang, Dilekene, Malupang Magiwe, Telori, dan Heneowara
Lama pendakian : 7 jam
Koordinat : 1°41’58.3″N 127°52’33.0″E
Level pendakian : sedang

Baca Juga : Gunung Buku Sibela & Gunung Ibu

Maps