Tag Archives: Non-volcano

PEGUNUNGAN ARFAK (2.940 MDPL)

Gambar Pegunungan Arfak Papua Barat
c: @satyawinnie

PEGUNUNGAN ARFAK (2.940 MDPL)
Di Provinsi Papua Barat

Pegunungan Arfak masuk dalam kawaasan Cagar Alam Pegunungan Arfak. Pegunungan ini merupakan kawasan pembentuk wilayah Provinsi Papua Barat di bagian utara dan secara administratif masuk dalam kawasan Manokwari. Kawasan Pegunungan Arfak merupakan titik tertinggi di Papua Barat. Namun hal ini masih belum pasti dikarenakan di beberapa wilayah lain di Papua Barat juga terdapat puncak-puncak lain dalam deretan pegunungan yang susah untuk diakses apalagi diukur.

Kawasan Pegunungan Arak terdapat lokasi yang melegenda, yakni berupa danau. Ada dua danau kembar yang dinamakan “Anggi Ginji” dan “Anggi Gita”. Konon menurut legenda, dua danau kembar tersebut dulunya adalah dua anak manusia yang saling memadu kasih. Anggi Ginji adalah seorang laki-laki, sedangkan Anggi Gita adalah seorang wanita.

Pendakian puncak tertinggi di Pegunguan Arfak sendiri termasuk pendakian yang sulit. Sulitnya akses di wilayah Papua Barat ditambah lagi liarnya kawasan hutan di Papua menjadi alasan utama sulitnya mendaki puncak tertinggi di Pegunugnan Arfak. Belum ada catatan lengkap terkait pendakian menuju puncak tertinggi Pegunungan Arfak.

Nama lain :
Elevasi : 2.940 mdpl
Lokasi : Provinsi Papua Barat
Jenis : Non-volcano
Pengelola :
Keistimewaan : Puncak tertinggi di Papua Barat
Jalur pendakian : ?
Tempat Ikonik : Danau Anggi Ginji, Danau Anggi Gita
Puncak :
Lama pendakian : ?
Koordinat : 1°09’25.3″S 133°58’46.4″E
Level pendakian : sulit

Maps

PEGUNUNGAN LATIMOJONG (3.440 MDPL)

Gambar Gunung Latimojong
c: @latimojong_

PEGUNUNGAN LATIMOJONG (3.440 MDPL)
Di Provinsi Sulawesi Selatan

Pegunungan Latimojong adalah sebuah komplek deretan puncak gunung yang berjajar dari selatan ke utara. Salah satu puncaknya adalah puncak tertinggi di Sulawesi, yakni Puncak Rantemario dengan ketinggian 3.440 mdpl.

Pegunungan Latimojong terletak di tengah-tengah Provinsi Sulawesi Selatan. Pegunungan ini juga diyakini sebagai tempat tinggal nenek moyang bagi masyarakat Enrekang, Toraja, Luwu, dan juga Bone. Arwah-arwah para leluhur mendiami puncak-puncak di pegunungan Latimojong.

PENDAKIAN
Pendakian umumnya adalah pendakian Puncak Rantemario yaitu puncak tertinggi di Latimojong sekaligus di Sulawesi. Namun pendakian masih bisa dilanjutkan menuju puncak-puncak lainnya yang secara elevasi lebih rendah dari Rantemario, namun jika dilihat dari usaha untuk mencapainya bisa dikatakan lebih sulit berkali-kali lipat.

Jalur pendakian dimulai dari Desa Karangan (jalur paling populer), Kecamatan Baraka. Trek pendakian cukup jelas karena mengingat Gunung Latimojong adalah gunung yang terkenal dan menjadi destinasi pendakian favorit bagi pendaki dari berbagai penjuru wilayah. Total terdapat 7 pos pendakian hingga mencapai Puncak tertinggi Rantemario.

PUNCAK-PUNCAK
Puncak-puncak dalam rentetan puncak pegunungan Latimojong antara lain:
– Gunung Rantemario (3.440 mdpl)
– Gunung Tomoupa/Puncak Latimojong (3.305 mdpl)
– Gunung Bubundirangkang (2.410 mdpl)
– Gunung Nenemori (3.210 mdpl)
– Gunung Sumbolong (3.080 mdpl)
– Gunung Tinabang (3.000 mdpl)
– Gunung Rantekombola (3.100 mdpl)
– Gunung Sikolong (2.800 mdpl)
– Gunung Palangka (2.500 mdpl)
– Gunung Lapande (2. 500 mdpl)
– Gunung Sinaji (2.430 mdpl)
– Gunung Bajaja (3.052 mdpl)
– Gunung Katapu (2.130 mdpl)
– Gunung Pantara Siruk (2.930 mdpl)
– Gunung Aruan (3.037 mdpl)
– Gunung Pasabombo (3.200 mdpl)
– Gunung Pantelaoan (2.500 mdpl)
– Gunung Pokapinjang (2.970 mdpl)

Puncak Rantemario adalah puncak tertinggi sekaligus menjadi destinasi utama dalam pendakian Latimojong. Sedangkan puncak bernama “Latimojong” sendiri justru jarang didaki karena posisinya yang jauh dan kalah populer.

Total pendakian untuk mencapai Puncak Rantemario dan Puncak Nenemori adalah 3-4 hari. Sedangkan untuk mencapai Puncak Tinabang, Puncak Rantekombola, dan Puncak Sikolong dibutuhkan tambahan waktu 2 hari lagi. Alternatif lain jalur pendakian bisa melalui Desa Tabang dan Desa Ranterante di Kecamatan Bastem, Desa Roni di Kecamatan Mingkendek, Desa Kumila di Kecamatan Bastem, Desa Angin-angin di Enrekang, Desa Tibussan di Luwu, dan juga Desa Uluwai di Tana Toraja. Beberapa puncak bisa dicapai melalui jalur tertentu. Puncak tersulit adalah Puncak Sikolong, karena harus dilakukan panjat tebing dan peralatan climbing lengkap.

Kesimpulannya adalah pendakian Latimojong secara umum adalah pendakian mencapai Puncak Rantemario, dan pendakian keseluruhan tidak begitu sulit karena jalur dan akses yang jelas. Namun jika pendakian berlanjut ke beberapa puncak lainnya maka pendakian bisa masuk dalam kategori sulit. Begitulah keistimewaan Pegunungan Latimojong, ia menawarkan puncak tertinggi dengan pendakian yang mudah, dan menawarkan puncak-puncak lain yang tidak begitu tinggi namun dengan pendakian yang sulit.

Nama lain :
Elevasi : 3.440 mdpl
Lokasi : Sulawesi Selatan
Jenis : Non-volcano
Pengelola :
Keistimewaan : Puncak Rantemario tertinggi di Sulawesi, Puncak Sikolong tersulit di Sulawesi Selatan
Jalur pendakian : Desa Karangan, Desa Tabang, Desa Ranterante, Desa Roni, Desa Kumila, Desa Angin-angin, Desa Tibussan, dan Desa Uluwai
Tempat Ikonik :
Puncak : Rantemario, Nenemori, Tinabang, Rantekombola, Sikolong, dll
Lama pendakian : 3-4 hari
Koordinat : 3°23’06.1″S 120°01’26.9″E
Level pendakian : sulit

Baca Juga : Gunung Bawakaraeng & Gunung Nona

Maps

GUNUNG KAMBUNO (2.950 MDPL)

Ekspedisi Gunung Kambuno
c: @latimojong_tracker

GUNUNG KAMBUNO (2.950 MDPL)
Di Provinsi Sulawesi Selatan

Gunung Kambuno adalah sebuah gunung yang terletak di Kabupaten Luwu Utara dan satu kawasan dengan Tobaku (Tolangi-Balease-Kabentonu). Meski masuk dalam kawasan yang sama, namun Gunung Kambuno terletak di pegunungan yang berbeda. Gunung Kambuno masuk dalam Pegunungan Tusang dan menjadi salah satu puncak tertinggi di antara gunung yang lainnya. Gunung Kambuno memiliki ketinggian 2.950 mdpl.

PENDAKIAN
Jalur pendakian Gunung Kambuno dimulai dari Dusun Mangkaluku, Desa Malimbu, Kecamatan Malimbu. Kemudian dilanjutkan berjalan kaki dan menyeberangi sungai dengan jembatan gantung untuk menuju titik kilometer 45 (jarak titik tersebut dari jalan raya adalah 45 km), dan seterusnya adalah pejalanan mendaki. Total terdapat 8 pos pendakian. Trek awal berupa kawasan hutan kemudian diteruskan trek punggungan.

PUNCAK
Puncak Gunung Kambuno disebut Lantangunta. Namun untuk mencapai puncak ini kita harus melewati dua puncak gunung lain, yakni Puncak Kusang dan Puncak Kambuna. Teknik untuk mencapai puncak ke puncak adalah dengan mengikuti stringline (penanda pada pohon). Puncak Lantangunta sendiri berupa lahan yang tidak begitu luas dan masih rimbun dengan tumbuhan kerdil serta terdapat batu triangulasi. Total waktu yang dibutuhkan untuk mendaki Gunung Kambuno yakni 3-5 hari. Bahaya utama yang mengancam adalah longsor yang terbilang cukup sering terjadi jika musim hujan tiba, dan juga jalur yang bercabang sehingga pendaki bisa tersesat.

Nama lain : Buntu Kambuno, Lantangunta
Elevasi : 2.950 mdpl
Lokasi : Sulawesi Selatan
Jenis : Non-volcano, Pegunungan
Pengelola : Pemerintah Luwu Utara
Keistimewaan :
Jalur pendakian : Dusun Mangkaluku
Tempat Ikonik :
Puncak : Lantangunta
Lama pendakian : 3-5 hari
Koordinat : 2°21’19.4″S 120°04’16.6″E
Level pendakian : sulit

Baca Juga : Gunung Latimojong & Gunung Nona

Maps

GUNUNG LOMPOBATTANG (2.870 MDPL)

Gambar Puncak Gunung Lompobattang
c: @panji.96

GUNUNG LOMPOBATTANG (2.870 MDPL)
Di Provinsi Sulawesi Selatan

Gunung Lompobattang adalah sebuah gunung yang cukup terkenal di Sulawesi Selatan. Gunung Lompobattang memiliki ketinggian 2.870 mdpl dan masuk dalam kawasan Kabupaten Gowa dan Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Nama “Lompobattang” memiliki arti “perut yang besar”.

Gunung Lompobattang merupakan salah satu puncak tertinggi yang terdapat dalam jajaran gunung di Pegunungan Lompobattang. Gunung ini berdekatan dengan Gunung Bawakaraeng. Selain berdekatan, tradisi yang dilakukan oleh masyarakat setempat juga sama, yakni melakukan “lebaran haji” di puncak gunung. Selain itu, tak jarang pula pendakian yang merangkap menjadi dua puncak yakni Puncak Lompobattang dan Puncak Bawakaraeng, atau sebaliknya. Jalur antar kedua gunung memang saling terhubung.

PENDAKIAN
Jalur pendakian Gunung Lompobattang tersedia melalui Dusun Lembang Bu’ne (1.320 mdpl), dan Lengkese/Malino (1.995 mdpl), Kabupaten Gowa. Jalur Lembang terdapat air terjun setinggi 50 meter, sedangkan pada Jalur Lengkese ada air terjun bertingkat dengan total tinggi mencapai 100 meter. Keseluruhan jumlah pos pendakian adalah 10 pos (dalam angka romawi). Menuju puncak, trek pendakian berupa bebatuan terjal dengan kanan-kiri berupa jurang.

PUNCAK
Puncak Lompobattang berupa puncak tebing dan terdapat pilar sebagai penanda puncak. Terlihat pemandangan puncak Bawakaraeng dari puncak tersebut.
Jalur untuk menuju Puncak Bawakaraeng yakni dengan turun melewati jalur kiri. Trek adalah punggungan terjal dan harus dilalui dengan berjalan miring. Kita akan melewati spot Pasar setan Anjaya dan juga puncak Gunung Ko’bang. Puncak Ko’bang (2.870 mdpl) diyakini sebagai makam Raja Gowa sehingga disakralkan. Kemudian trek dilanjutkan naik-turun bukit terjal berbatu hingga mencapai Puncak Bawakaraeng. Perjalanan seterusnya turun melalui jalur Bawakaraeng.

Nama lain : Piek van Bonthain
Elevasi : 2.870 mdpl
Lokasi : Sulawesi Selatan
Jenis : Non-volcano
Pengelola : Pemerintah Gowa
Keistimewaan :
Jalur pendakian : Dusun Lembang Bu’ne, dan Lengkese/Malino
Tempat Ikonik :
Puncak : Puncak Lompobattang, Moncong Lompobattang
Lama pendakian : 1-2 hari
Koordinat : 5°20’46.3″S 119°55’54.4″E
Level pendakian : sedang

Baca Juga : Gunung Bawakaraeng & Gunung Karua

Maps

GUNUNG BAWAKARAENG (2.883 MDPL)

Gambar Puncak Gunung Bawakaraeng
c: @alvienktazthyck

GUNUNG BAWAKARAENG (2.883 MDPL)
Di Provinsi Sulawesi Selatan

Gunung Bawakaraeng adalah sebuah gunung yang terletak di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Gunung Bawakaraeng menjadi sumber air bagi kehidupan di Kabupaten Gowa, dan beberapa wilayah lain di sekelilingnya. Gunung Bawakaraeng memiliki ketinggian 2.883 mdpl, cukup tinggi untuk dijadikan sebagai objek pendakian gunung.

Nama “Bawakaraeng” memiliki arti “Mulut Tuhan”. Banyak penafsiran terkait penamaan tersebut, salah satunya yakni mengartikan Gunung Bawakaraeng adalah tempat untuk berdoa kepada Tuhan. Gunung Bawakaraeng disebut juga “Butta Toayya” yang artinya adalah “tanah yang dituakan”. Masyarakat setempat meyakini bahwa Gunung Bawakaraeng adalah tempat leluhur mereka sehingga perlu disakralkan atau dihormati.

Sebuah tradisi telah dijalankan turun-temurun oleh masyarakat kaki Gunung Bawakaraeng. Tradisi tersebut adalah “lebaran haji di Puncak Bawakaraeng”. Banyak komentar terkait tradisi tersebut. Ada yang mengatakan pengganti “haji” di Mekkah. Namun hal tersebut dibantah oleh masyarakat Bawakaraeng. Masyarakat SEtempat mengatakan bahwa penafsiran yang benar adalah “lebaran haji” atau “perayaan” saja. Setiap bulan Dzulhijjah atau bersamaan dengan pelaksanaan ibadah Haji di tanah suci, masyarakat kaki Gunung Bawakaraeng akan melakukan pendakian mencapai puncak. Kemudian, di puncak mereka akan melalukan sholat Idul Adha sebagai salah satu kegiatan yang disunahkan. Jika umat muslim umumnya menjalankan sholat tersebut di masjid, maka masyarakat Bawakaraeng menjalankannya di puncak gunung.

Gunung Bawakaraeng merupakan puncak gunung yang masuk dalam kawasan Pegunungan Lompobattang. Beberapa puncak lain yang masuk dalam kawasan pegunungan Lompobattang yakni: Gunung Lompobattang, Gunung Assuempolong, Gunung Kaca, Gunung Ko’bong, Gunung Baria, dan Gunung Porong. Bebepa satwa endemik Sulawesi juga terdapat di kawasan pegunungan tersebut, yakni anoa dan babirusa. Flora-flora yang juga banyak dijumpai yakni pinus, anggrek, dan juga lumut.

PENDAKIAN
Jalur pendakian Gunung Bawakaraeng terletak di Desa Lembanna, Kecamatan Tinggi Moncong, atau sering dikenal dengan “Wisata Malino”. Posisi Desa Lembanna (1.400 mdpl) adalah di sisi barat laut Puncak Bawakaraeng. Selain itu ada alternatif jalur lain yakni melalui Jalur Tassoso (1.320 mdpl) yang terletak di sisi Timur Laur dari Puncak Bawakaraeng.

Jalur Lembanna adalah jalur yang paling populer. Pendakian membutuhkan waktu 2-3 hari untuk sampai di puncak dan turun kembali. Trek awal adalah kawasan perkebunan, dilanjutkan dengan kawasan hutan, dan selanjutnya trek bebatuan dengan vegetasi rendah.

PUNCAK
Puncak Gunung Bawakaraeng berupa lahan yang cukup luas dan terdapat pilar penanda puncak. Saat berada di puncak tersebut akan terlihat puncak Gunung Lompobattang. Gunung Bawakaraeng dan Gunung Lompobattan memang berdekatan, dan tak jarang pula pendakian dilanjutkan menuju Puncak Lompobattang (dan sebaliknya).

Ada sebuah kisah mistis yang terdapat di jalur pendakian Gunung Bawakaraeng dan kadung menjadi bumbu-bumbu pendakian. Cerita yang paling terkenal adalah tentang misteri Noni di Gunung Bawakaraeng. Tahun 1980 seorang wanita bernama Noni melakukan bunuh diri di Pos 3 Jalur Bawakaraeng. Ia menggantungkan diri pada sebuah pohon, diduga karena patah hati. Pohon tempat bunuh diri tersebut masih berdiri hingga sekarang dan menjadi ikon mistis bagi Pos 3. Ada pula kisah tentang meninggalnya 2 mahasiswa Universitas Hassanuddin di pos 5 akibat diterjang badai. Selain itu, ada sebuah lapangan yang diyakini sebagai pasar hantu, lapangan tersebut dijuluki “Pasar Anjaya”. Meski diliputi banyak kisah-kisah horor dan mitos, di sisi lain di bagian Bawakaraeng menyimpan sebuah keindahan. Terdapat sebuah danau yang tidak kalah indah dengan Danau Ranukumbolo di Gunung Semeru. Danau tersebut bernama Danau Tanralili. Berdekatan dengan Danau Tanralili, ada sebuah lembah yang luas yang dinamakan Lembah Ramma.

Ada orang yang tinggal sendirian di Gunung Bawakaraeng, tepatnya di dekat Lembah Ramma. Beliau adalah Tata Mandong, juru kunci Gunung Bawakaraeng sekaligus Gunung Lompobattang. Pria kelahiran 1938 tersebut bertugas menjaga hutan di Bawakaraeng. Setiap hari kegiatannya adalah memantau lingkungan di sekitar gunung, sembari mengembala sapi titipan para warga. Tahun 2004 lereng Gunung Bawakaraeng di pos 8 mengalami longsor hebat dan membuat kerusakan yang cukup parah.

Nama lain : Butta Toayya, Bulu Bawakaraeng
Elevasi : 2.883 mdpl
Lokasi : Sulawesi Selatan
Jenis : Non-volcano
Pengelola : Pemerintah Gowa
Keistimewaan :
Jalur pendakian : Desa Lembanna, Jalur Tassoso
Tempat Ikonik : Pasar Anjaya, Danau Tanralili, Lembah Ramma, Pos 3 Noni
Puncak :
Lama pendakian : 2-3 hari
Koordinat : 5°18’59.8″S 119°56’37.0″E
Level pendakian : sedang

Baca Juga : Gunung Lompobattang & Gunung Karua

Maps

GUNUNG KABENTONU (2.886 MDPL)

GUNUNG KABENTONU
c: jelatangnusantara.blogspot.com

GUNUNG KABENTONU (2.886 MDPL)
Di Provinsi Sulawesi Selatan

Gunung Kabentonu adalah sebuah gunung yang terletak di Kabupaten Luwu Utara dan berketinggian 2.886 mdpl. Gunung ini masuk dalam kawasan Pegunungan Karoue. Letaknya berdekatan dengan Gunung Tolangi dan Gunung Balease yang juga sama-sama masuk dalam Pegunungan Karoue. Gunung Kabentonu jarang didaki karena untuk mencapai puncaknya kita harus melewati Puncak Tolangi dan Puncak Balease terlebih dahulu. Total waktu pendakian Gunung Kabentonu adalah 10-15 hari. Terhitung sekaligus mendaki Gunung Tolangi dan Gunung Balease.

Karena untuk mencapai Puncak Kabentonu diharuskan melewati puncak Tolangi dan Balease, maka biasanya pendaki menjuluki pendakian ini dengan “Tobaku” yakni gabungan dari “Tolangi-Balease-Kabentonu”.

PENDAKIAN
Pendakian dimulai dari Desa Bantimurung, Kecamatan Bone-Bone, Kabupaten Luwu Utara. Ada air terjun Bantimurung di awal trek. Terdapat pula beberapa sumber air di kaki gunung. Trek selanjutnya adalah kawasan hutan rotan, kemudian kawasan hutan lumut. Lalu mencapai Puncak Tolangi (3.016 mdpl). Perjalananan dilanjutkan dengan menuruni lembah yang dinamakan Lembah Waru. Berada posisi ini terdapat sumber air. Kemudian dilanjutkan trek menanjak kawasan hutan lumut yang dinamakan “Negeri Lumut”, dan sampailah pada Puncak Balease (2.894 mdpl). Perjalanan selanjutnya untuk mencapai Puncak Kabentonu harus melewati punggungan berbukit-bukit dengan trek terjal dan jalur tertutup sehingga dibutuhkan keahlian untuk membuka dan menandai jalur. Vegetasi trek rendah dan sebagian besar adalah tumbuhan kerdil. Ujung dari trek tersebut adalah Puncak Kabentonu (2.886 mdpl). Puncak Kabentonu terdapat prasasti sebagai penanda puncak. Sulitnya medan, panjangnya trek, dan lamanya waktu pendakian adalah alasan utama para pendaki untuk tidak mendaki Gunung Kabentonu.

Bukan dari ketinggian atau pemandangan yang indah yang menjadikan poin plus pada pendakian Gunung Kabentonu, melainkan usaha keras yang dibutuhkan. Dengan segala hal tersebut, pendakian Gunung Kabentonu menjadi pendakian tersulit di Sulawesi. Sedangkan pendakian Puncak Tolangi-Balease adalah tersulit kedua.

PUNCAK
Puncak Gunung Kabentonu berupa punggungan dan masih rimbun oleh tumbuhan kerdil. Akan sulit mencari tahu dimana Puncak Kabentonu karena masih ada beberapa punggungan lain yang mirip-mirip. Namun yang menjadi penanda adalah adalah prasasti atau susunan batu yang terdapat di Puncak Kabentonu.

Nama lain : Buyu Kabentonu
Elevasi : 2.886 mdpl
Lokasi : Sulawesi Selatan
Jenis : Non-volcano
Pengelola : Pemerintah Luwu Utara
Keistimewaan : Pendakian tersulit di Sulawesi, Pendakian terlama di Sulawesi
Jalur pendakian : Desa Bantimurung
Tempat Ikonik : Air terjun Bantimurung, Lembah Waru, Negeri Lumut
Puncak : Puncak Kabentonu
Lama pendakian : 10-15 hari
Koordinat : 2°22’38.4″S 120°31’04.4″E
Level pendakian : sulit

Baca Juga : Gunung Tolangi-Balease

Maps