Tag Archives: Monolit

GUNUNG NGLANGGERAN (700 MDPL)

Gambar Gunung Api Purba Nglanggeran
c: @sfrhmn27

GUNUNG NGLANGGERAN (700 MDPL)
Di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Gunung Nglanggeran adalah sebuah gunung yang terdiri dari banyak bebatuan besar. Gunung ini adalah salah satu gunung ikonik di Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara administratif, Gunung Nglanggeran terletak di Desa Nglanggeran, Kecamatan Pathuk, Kabupaten Gunung Kidul. Gunung Nglanggeran hanya berketinggian 700 mdpl.

Sejarahnya gunung ini adalah sebuah gunung api bawah laut jutaan tahun yang lalu. Hingga akhirnya gunung ini pun terangkat ke daratan dan menjadi gunung yang tidak aktif. Alasan itulah yang kemudian menjadikan gunung ini dijuluki sebagai Gunung Api Purba Nglanggeran.

Pemberian nama “Nglanggeran” juga memiliki sejarahnya sendiri, yakni berdasarkan kisah legenda yang beredar di masyarakat. Suatu ketika ada seorang dalang (seniman) yang diundang untuk mementaskan pementasan wayang di sebuah desa. Namun sekelompok warga datang dan merusak wayang milik si dalang. Si dalang pun murka dan mengutuk warga tersebut menjadi wayang dan kemudian dibuang ke bukit. Bukit itu dijuluki Bukit Nglanggeran. Kata “Nglanggeran” berasal dari kata “nglanggar” atau “melanggar” yang memiliki arti menghukum warga yang bersalah.

PENDAKIAN
Untuk mendaki Gunung Nglanggeran cukup mudah, karena nama gunung ini cukup terkenal di wilayah Gunung Kidul, sehingga sudah dibuat akses yang nyaman untuk menuju lokasi pendakian. Trek adalah berupa tanjakan terjal dengan bebetuan besar. Terdapat batu besar yang membentuk lorong sempit, spot ini dijuluki “Lorong Sumpitan”. Ada juga batu besar yang sering dijadikan tempat untuk pertapaan. Total dibutuhkan 1-2 jam saja untuk bisa mencapai Puncak Nglanggeran

PUNCAK
Puncak Gunung Nglanggeran dinamakan Puncak Gedhe. Dari puncak tersebut kita bisa memandang pemandangan hijau Gunung Kidul dan juga Kota Yogyakarta. Tak jauh dari puncak, atau sekitar ketinggian 500 mdpl, terdapat sebuah kolam yang sangat epic. Kolam tersebut dinamakan “Embung Nglanggeran”. Tujuan dibuat kolam ini adalah untuk mengairi sawah dan kebun di bawah bukit. Selain itu tentunya dijadikan spot wisata.

Beberapa wisata alam lain juga ada di sekitar lokasi berdirinya Gunung Nglanggeran di antaranya adalah: Desa Wisata Bobung, Air Terjun Banyunibo, Curug Gede, Bukit Bintang, dan juga Panjat Tebing.

Nama lain : Gunug Api Purba
Elevasi : 700 mdpl
Lokasi : Daerah Istimewa Yogyakarta
Jenis : Gunung batu
Pengelola : Pemerintah Gunung Kidul
Keistimewaan :
Jalur pendakian : Desa Nglanggeran
Tempat Ikonik : Embung Nglanggeran
Puncak : Puncak Gedhe
Lama pendakian : 1-2 jam
Koordinat : 7°50’28.6″S 110°32’35.1″E
Level pendakian : mudah

Maps

GUNUNG BATU DAYA (1.116 MDPL)

Gambar Gunung Batu Daya
c: @cay_wiratama

GUNUNG BATU DAYA (1.116 MDPL)
Di Provinsi Kalimantan Barat

Gunung Batu Daya adalah gunung yang berada di Ketapang, Kalimantan Barat. Gunung ini adalah sebuah batu raksasa dan bukan seperti gunung pada umumnya yang berteksturkan tanah melainkan seluruhnya adalah batu. Gunung ini berdekatan dengan salah satu aset alam yang berharga lainnya di Kalimantan Barat, yakni Gunung Palung. Keduanya sama-sama masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP). Gunung Batu Daya lokasi lengkapnya berada di antara perbatasan Kecamatan Laor dan Kecamatan Sukadana (Kab. Ketapang), Simpang Hilir, Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Nama Batu Daya bukan tanpa silsilah atau sejarahnya. Ada mitos yang menceritakan bahwa nama tersebut berasal dari sebuah batu kecil yang membesar menjadi sebesar gunung. Tapi itu hanya sekadar mitos dan kepercayaan masyarakat setempat. Nama “Batu Daya” sendiri menurut penduduk yakni memiliki pengertian ‘batu yang memperdaya’. Pasalnya pada lokasi pandang tertentu, jika dilihat dari tempat yang berbeda maka terlihat bentuk yang berbeda pula pada gunung tersebut. Bila kita berlayar dari Pontianak atau Pulau Karimata, maka Bukit Batu Daya ini tampak menonjol pada gugusan Gunung Palung, karena bentuknya yang kokoh bersegi seperti gantang, yaitu takeran padi. Namun bentuk yang paling populer yakni bentuk menyerupai sebuah punggung unta. Oleh sebab itu Batu Daya dijuluki juga dengan “Bukit Unta” atau “Tebing Unta”.

Gunung Batu Daya juga memiliki cerita legenda yang berkembang di tengah masyarakat. Dahulu ada sebuah keluarga yang hanya terdiri dari ibu dan satu anaknya saja yang masih berumur 3 tahun. Anak itu bernama Daya. Keluarga itu tinggal di sebuah kampung di Kalimantan Barat. Suami ibu itu sudah lama meninggal sehingga ibu itu harus hidup berdua saja dengan anaknya yang masih kecil. Setiap melakukan pekerjaan dan pergi dari rumah, ibu itu selalu membawa anaknya. Suatu ketika si ibu hendak mencuci pakaian di sungai. Ia pun membawa turut serta anaknya. Sesampainya di tepian sungai, ibu itu meletakkan anaknya yang masih kecil di atas sebuah batu yang cukup besar dan atasnya berbentuk datar sehingga bisa untuk duduk dan meletakkan cuciannya yang banyak. Ibu itu pun disibukkan dengan urusan mencucinya sampai ia lupa untuk memperhatikan anaknya. Anaknya pun lantas memanggil si ibu “Mak…junjung batu!!” lalu ia menjawab “Ya..”, sekali lagi anak itu memanggil “Mak..junjung batu!!” kembali si ibu menjawab “Ya!” hingga beberapa kali anak itu memanggil ibunya namun si ibu sedang sibuk dengan cuciannya. Lama kelamaan suara anak tersebut semakin kecil dan menghilang, barulah si ibu sadar kalau ia benar-benar dipanggil anaknya. Lantas ia menoleh ke belakang dan betapa kagetnya ibu itu ketika melihat batu tempat anaknya duduk telah berubah menjadi batu yang teramat besar bahkan sebesar gunung. Dan anaknya pun tak terlihat batang hidungnya lagi. Kemudian gunung itu dijuluki gunung “Batu Daya”. Penduduk sekitar memiliki kepercayaan bahwa Gunung Batu Daya adalah gunung keramat. Oleh sebab itu setiap tahun rutin diadakan ritual untuk mempertahankan budaya kepercayaan tersebut.

PENDAKIAN
Bagi para pemanjat tebing atau rock climber, nama Gunung Batu Daya sudah tidak asing lagi. Si Unta ini menjadi lokasi yang sangat menawan bagi para pemanjat tebing. Namun di balik semua itu ternyata Tebing Unta ini dibilang sangat ekstrim dan bahaya. Tercatat beberapa pemanjat tewas akibat terjatuh saat memanjat. Tahun 1987 Ekspedisi Wanadri menyelesaikan pemanjatan Tebing Bukit Batudaya dan tahun 1998 Ekspedisi UKL UNPAD kehilangan satu anggotanya, Yanto Martogi Sitanggang yang tewas terjatuh dari Bukit Batu Daya. Kemudian pemanjat tebing dari UI juga meninggal akibat terjatuh.

Tahun 2012, Pemanjat tebing asal Jepang Ryosuke Obhu (25) dan Kenichiro Kosaka (24), keduanya juga mencoba memanjat Tebing Unta tersebut namun gagal mencapai puncaknya. Baru pada tahun 2013 mereka berhasil menaklukan ketiga Puncak Batu Daya.

Nama lain : Bukit Batu Daya, Bukit Unta, Tebing Unta
Elevasi : 499 mdpl
Lokasi : Kalimantan Barat
Jenis : Monolit
Pengelola : Taman Nasional Gunung Palung (TNGP)
Keistimewaan : Favorit bagi para pemanjat tebing
Jalur pendakian :
Tempat Ikonik :
Puncak : Puncak Batu Daya
Lama pendakian : 1 hari
Koordinat : 1°00’39.2″S 110°19’47.9″E
Level pendakian : sulit

Baca Juga : Gunung Kelam & Gunung Bawang

Maps