Tag Archives: 6 – 10 JAM

GUNUNG DUKONO (1.185 MDPL)

Gambar Gunung Dukono
c: @magfirahbudiwati

GUNUNG DUKONO (1.185 MDPL)
Di Provinsi Maluku Utara

Gunung Dukono adalah gunung api strato dan juga kompleks yang terletak di Halmahera Utara dan gunung ini masih aktif. Gunung Dukono memiliki banyak saluran vulkanik dan ketinggiannya mencapai 1.185 mdpl. Berdasarkan catatan sejarah, Gunung Dukono sudah 21 kali meletus, yakni dari tahun 1550, 1719, 1868, 1901, 1933 dan masih terus berpotensi meletus kembali.

Halmahera Utara memiliki beberapa gunung api di antaranya yakni Gunung api kembar Tarakan Itji dan Tarakan Lamo, serta Gunung Mamuya. Sebagian besar gunung api yang berada di wilayah Provinsi Maluku Utara tersebar di pulau-pulau kecil.

PENDAKIAN
Pendakian Gunung Dukono dimulai dari Pos Pengamatan yang terdapat di Desa Mamuya, Kecamatan Galela. Pendakian membutuhkan 7 jam untuk bisa sampai puncak Dukono. Total panjang jalur mencapai puncak mencapai 14 km. Trek menuju puncak adalah trek landai berupa tumpukan abu vulkanik padat. Terdapat pula perbukitan bernama Bukit Bulan dan Bukit Bintang.

PUNCAK
Puncak Gunung Dukono terdiri dari beberapa kawah kubah yang sangat luas. Nama-nama kubah kawah tersebut yakni Malupang-Warirang, Dilekene, Malupang Magiwe, Telori, dan Heneowara. Kawah terbesar adalah Malupang-Warirang, yakni dengan diameter 360 meter dan kedalaman 230 meter.

Nama lain : Doekono, Sukoko, Dooekko, Dukoma, Tala, Tolo
Elevasi : 2.118 mdpl
Lokasi : Halmahera Utara , Maluku Utara
Jenis : Strato dan Kompleks Tipe A
Pengelola : Pemerintah Halmahera Utara
Keistimewaan :
Jalur pendakian : Desa Mamuya
Tempat Ikonik : Bukit Bulan, Bukit Bintang
Puncak : Malupang-Warirang, Dilekene, Malupang Magiwe, Telori, dan Heneowara
Lama pendakian : 7 jam
Koordinat : 1°41’58.3″N 127°52’33.0″E
Level pendakian : sedang

Baca Juga : Gunung Buku Sibela & Gunung Ibu

Maps

GUNUNG ARJUNO-WELIRANG (3.339 MDPL)

Gambar Puncak Gunung Arjuno Welirang
c: @farizkyriz

GUNUNG ARJUNO-WELIRANG (3.339 MDPL)
Di Provinsi Jawa Timur

GUNUNG ARJUNO
Gunung Arjuno atau Arjuna adalah stratovolcano tipe A yang terletak di tiga wilayah, yakni Kota Batu, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Pasuruan. Gunung Arjuno memiliki ketinggian 3.339 mdpl dan merupakan gunung tertinggi keempat di Pulau Jawa. Gunung Arjuno masuk dalam kawasan Taman Hutan Raya Raden Soerjo. Nama “Arjuno” berasal dari nama tokoh wayang Arjuna. Mitos yang berkembang mengisahkan kawasan gunung ini dahulu adalah tempat pertapaan Arjuna.

Karena kesaktiannya semakin menjadi saat bertapa, maka Semar turun dari kahyangan untuk mengakhiri pertapaan Arjuna. Dipotonglah salah satu puncak gunung tersebut dan terlempar. Arjuna pun menghentikan pertapaannya dan kembali hidup seperti biasa. Potongan gunung yang terlempar tersebut menjadi sebuah gunung bernama Gunung Wukir yang letaknya di Kota Batu.

Gunung Arjuno berdiri dalam satu kawasan dengan Gunung Welirang. Oleh sebab itu banyak pendakian Gunung Arjuno juga dilanjutkan menuju Gunung Welirang, dan sebaliknya.

Gunung Arjuno-Welirang merupakan penyuplai aliran air ke sungai Brantas (Sungai terpanjang ke-2 di Jawa setelah Bengawan Solo). Selain itu, di kaki Gunung Arjuno juga terdapat air terjun yang dinamakan Air Terjun Kakek Bodo. Beberapa spot wisata alam yang terdapat di sekitar Gunung Arjuno maupun Welirang antara lain: Wisata Tretes, Wisata Kota Batu, Taman Safari Indonesia 2.

GUNUNG WELIRANG
Gunung Welirang adalah gunung yang berada di dekat Gunung Arjuno. Antara keduanya bisa dikatakan satu punggung dengan dua kepala. Berada dii antara dua puncak tersebut berdiri dua gunung kecil yakni Gunung Kembar I dan Gunung Kembar II. Gunung Welirang adalah gunung api strato tipe A dan memiliki ketinggian 3.156 mdpl. Gunung Welirang masuk dalam kawasan Kabupaten Malang, Kabupaten Mojokerto, dan Kota Batu. Nama “Welirang” artinya “Belerang”. Hal ini mengingat Gunung Welirang merupakan gunung api aktif.

PENDAKIAN
Pendakian Gunung Arjuno-Welirang tersedia melalui Jalur Lawang, Jalur Tretes, Jalur Batu, Jalur Karangploso, Jalur Sumberawan, dan Jalur Purwosari. Jalur Purwosari banyak ditemukan situs-situs peninggalan sejarah.
Banyak ditemukan situs-situs sejarah di Gunung Arjuno, antara lain: Onto Boego, Candi Madrim, Candi Sepilar, Mangkutoromo, Situs Eyang Semar, Situs Eyang Abiyoso, Situs Eyang Sakutrem dan masih banyak lagi.

Sejalan dengan ditemukannya situs-situs di Arjuno dan legenda yang menyertainya, beberapa tempat di jalur pendakian Gunung Arjuno juga tidak lepas dari cerita mistis. Salah satunya yang terkenal adalah “Alas Lali Jiwo” atau disebut juga “Hutan Lupa Diri”. Penamaan tersebut dikarenakan banyak kejadian pendaki yang melamun dan tersesat saat melewati lokasi tersebut.

PUNCAK
Puncak Gunung Arjuno bernama Puncak Ogal-Agil. Berada di puncak tersebut akan terlihat Puncak Welirang dan beberapa gunung di Jawa Timur.

Puncak Gunung Welirang berupa kawah yang bernama Kawah Jero dan Kawah Plupuh. Sebelum mencapai puncak, terdapat sebuah gua yang bernama Gua Sriti. Konon Gua Sriti dahulu dijadikan Belanda sebagai tempat penangkaran hewan buruan berupa Kijang. Selain itu ada juga sebuah petilasan atau makam yang menurut masyarakat sekitar lereng adalah makam Mbah Tedjo Geni.

Nama lain : Arjuna, Belirang
Elevasi : 3.339 mdpl
Lokasi : Jawa Timur
Jenis : Stratovolcano Tipe A
Pengelola : Taman Hutan Raya Raden Soerjo
Keistimewaan : Gunung tertinggi ke-4 di Pulau Jawa
Jalur pendakian : Lawang, Tretes, Batu, Karangploso, Sumberawan, dan Purwosari
Tempat Ikonik : Alas Lali Jiwo
Puncak : Puncak Ogal-Agil, Kawah Jero dan Kawah Plupuh
Lama pendakian: 6-9 jam
Koordinat : 7°44’01.7″S 112°34’31.6″E dan 7°45’53.6″S 112°35’31.6″E
Level pendakian : sedang

Baca Juga : Gunung Butak & Gunung Kawi

Maps Puncak Arjuno

Maps Puncak Welirang

GUNUNG KAWI (2.551 MDPL)

Gambar Gunung Kawi
c: @yapramitasari

GUNUNG KAWI (2.551 MDPL)
Di Provinsi Jawa Timur

Gunung Kawi adalah stratovolcano tipe B. Gunung Kawi dikenal sebagai gunung yang paling ‘spiritual’ di Jawa Timur karena sering dilakukan ritual-ritual di kawasan Gunung Kawi tersebut. Secara administratif Gunung Kawi masuk dalam kawasan Kabupaten Malang dan menjadi salah satu puncak dalam Pegunungan Butak-Kawi-Panderman.

Terdapat makam Eyang Jugo (Kyai Zakaria II), dan makam Eyang Sujo (Raden Mas Iman Sudjono). Banyak peziarah yang mendatangi makam-makam tersebut. Berada di dalam kawasan Gunung Kawi juga terdapat sebuah pura tempat ibadah umat Hindu.

PENDAKIAN
Pendakian Gunung Kawi disediakan jalur wisata religi dan juga jalur trekking. Jalur wisata adalah jalur menuju makam, sedangkan jalur trekking bisa dilalui melalui Keraton (Desa Balesari, Kecamatan Ngajum). Jalur trekking terbilang sulit karena jarang dilalui dan vegetasi sangat rapat. Pendakian bisa memakan waktu 8 jam lebih.

PUNCAK
Puncak Gunung Kawi bernama Puncak Watu Tulis. Saat berada di Puncak Kawi kita bisa melihat Puncak Mahameru. Bentuk puncak Gunung Kawi terlihat seperti bekas cekungan kawah sehingga bisa dikatakan Gunung Kawi merupakan gunung api namun sudah mati.

Kawasan Gunung Kawi sangat terkenal dengan ritual kejawen dan praktik-praktik klenik. Beberapa tokoh pengusaha pernah ke Gunung Kawi. Ritual-ritual tersebut tidak terlepas dari sejarah Gunung Kawi itu sendiri yang merupakan tempat moksa Prabu Kamuswara dari Kerajaan Kediri. Umumnya ritual-ritual yang dilakukan adalah berupa mandi kembang, dan juga semedi. Salah satu ikon spiritual dari Gunung Kawi adalah Pohon Dewandaru. Daun pohon ini dijadikan sebagai ‘jimat’ bagi para pelaku ritual.

Nama lain : Kawi
Elevasi : 2.551 mdpl
Lokasi : Jawa Timur
Jenis : Stratovolcano Tipe B
Pengelola : Pemerintah Malang
Keistimewaan : Gunung yang terkenal dengan ‘pesugihan’
Jalur pendakian : Jalur Wisata Gunung Kawi, Jalur trekking Desa Balesari
Tempat Ikonik :
Puncak : Puncak Watu Tulis
Lama pendakian : 1-8 jam
Koordinat : 7°57’18.2″S 112°27’54.0″E
Level pendakian : wisata, sedang

Baca Juga : Gunung Arjuno Welirang & Gunung Penanggungan

Maps

GUNUNG LAWU (3.265 MDPL)

Gambar Kawah Gunung Lawu
c: gunungbagging.com

GUNUNG LAWU (3.265 MDPL)
Di Provinsi Jawa Tengah

Gunung Lawu menjadi simbol mistis bagi wilayah Jawa Tengah dan perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur. Banyak sejarah yang mengisahkan peradaban pada masa Kerajaan Majapahit yang berkaitan dengan Gunung Lawu. Kebudayaan, kepercayaan, sekaligus kesosial-masyarakatan Jawa tercurah pada keberadaan Gunung Lawu.

Gunung Lawu adalah sebuah gunung yang masuk dalam kategori stratovolcano tipe B. Gunung ini tercatat meletus terakhir kali pada tahun 1885. Gunung Lawu memiliki ketinggian 3.265 mdpl dan secara administratif terletak di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, yakni dalam kawasan Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Ngawi dan Kabupaten Magetan.

Kawasan kaki Gunung Lawu terkenal dengan wisata alamnya yakni Wisata Tawangmangu, Wisata Cemorosewu, dan juga Sarangan. Beberapa candi juga terdapat di sekitar Gunung Lawu yakni Candi Sukuh dan Candi Cetho. Selain itu terdapat pula areal pemakaman yang bernama Astana Girilayu, Astana Mangadeg, dan juga Astana Giribangun (merupakan makam keluarga Presiden Soeharto).

Gunung Lawu juga dikenal dengan gunung yang di puncaknya ada pemukiman, dan yang paling terkenal adalah Warung Mbok Yem, yaitu warung yang menjual makanan berupa pecel dan juga menyediakan shelter untuk para pendaki berteduh atau menginap. Warung Mbok Yem diklaim sebagai warung tertinggi di Jawa. Selain itu, di beberapa tempat di Puncak Lawu juga berdiri bangunan-bangunan yang di dalamnya ada makam, dan pendopo-pendopo tempat sesajen dan juga tempat bersemedi. Setiap malam 1 syuro (tanggal Jawa) banyak orang melakukan pendakian untuk berziarah dan juga bersemedi.

PENDAKIAN
Pendakian Gunung Lawu yang paling populer adalah melalui Jalur Cemoro Kandang (Kabupaten Tawangmangu) dan Jalur Cemoro Sewu (Kabupaten Sarangan). Kedua basecamp jalur tersebut hanya berjarak 200 meter, namun melalui trek yang berbeda. Trek pendakian jelas dan mudah dikenali. Melalui Jalur Cemoro Sewu, tepatnya jalur sebelum mencapai puncak, trek adalah berupa bebatuan yang sudah ditata rapi.

Beberapa spot yang terkenal di Lawu yakni Sendang Panguripan, Sendang Drajat, Kawah Candrimuka, Telaga Kuning, Sumur Jalatunda, dan tiga puncak legendaris Gunung Lawu. Sumber air cukup tersedia di Gunung Lawu, namun saat musim kemarau umumnya sumber air tersebut kering.

PUNCAK
Puncak Gunung Lawu berupa perbukitan. Ada tiga puncak yaitu: Puncak Hargo Dalem, Puncak Hargo Dumiling, dan Puncak Hargo Dumilah. Puncak Hargo Dalem dan Hargo Dumiling berupa pemukiman. Sedangkan Hargo Dumilah terdapat tugu sebagai penanda puncak tertinggi di Lawu.

Menurut mitos, Hargo Dalem merupakan tempat pamoksan (petilasan) Prabu Brawijaya. Hargo Dumiling merupakan tempat pamoksan Ki Sabdo Palon, sedangkan Hargo Dumilah adalah puncak kebatinan. Prabu Brawijaya yang adalah Raja Majapahit (Kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang menguasai Nusantara dan dianggap sebagai salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia) kekuasaannya mulai pudar saat anaknya sendiri yakni Raden Patah, mendirikan Kerajaan Islam Demak. Prabu Brawijaya lalu menuju Gunung Lawu bersama 2 ajudan setianya, Sabdo Palon dan Noyo Genggong. Prabu Brawijaya moksa (moksa adalah Bahasa Sanskerta yang artinya meninggalkan duniawi) di Hargo Dalem, Sabdo Palon dan moksa di Hargo Dumiling. Hingga sekarang tempat-tempat di Gunung Lawu selalu berhawa mistis karena cerita-cerita yang turun temurun tersebut. Bahkan para pendaki mengklaim Gunung Lawu merupakan gunung paling angker di Jawa. Namun terlepas dari segala unsur kebudayaan dan kepercayaan, Gunung Lawu adalah tempat yang sangat indah dan objek pendakian yang patut kita datangi.

Pendakian Gunung Lawu banyak menyisakan kisah tragis dan misteri. Tahun 1989 terjadi sebuah tragedi dimana sebanyak 14 santri dari Pondok Al Mukmin Ngruki Sukoharjo ditemukan meninggal. Tahun 2015 terjadi kebakaran di Lawu yang menyebabkan 6 pendaki tewas. Tahun 2017 terjadi tragedi kekerasan saat Diksar (pendidikan dasar) Mapala UII yang menyebabkan 2 mahasiswa calon Mapala tewas, dan masih banyak kisah-kisah tragis lain yang terjadi di Gunung Lawu.

Nama lain : Wukir Mahendra Giri
Elevasi : 3.265 mdpl
Lokasi : Jawa Tengah
Jenis : Stratovolcano Tipe B
Pengelola : Pemerintah Jateng
Keistimewaan :
• Ada warung teretinggi di Jawa
• Ada pemukiman di puncak gunung
• Diklaim sebagai gunung paling angker di Jawa
Jalur pendakian : Cemoro Lawang, Cemoro Sewu
Tempat Ikonik : Sendang Panguripan, Sendang Drajat, Kawah Candrimuka, Telaga Kuning, Sumur Jalatunda
Puncak : Hargo Dalem, Hargo Dumiling, dan Hargo Dumilah
Lama pendakian : 6-8 jam
Koordinat : 7°37’38.8″S 111°11’40.6″E
Level pendakian : sedang

Maps

GUNUNG MERBABU (3.145 MDPL)

Gambar Sabana Gunung Merbabu
c: @indrasutantoo

GUNUNG MERBABU (3.145 MDPL)
Di Provinsi Jawa Tengah

Gunung Merbabu merupakan salah satu gunung terfavorit bagi pendaki baik pendaki lokal maupun luar daerah. Gunung Merbabu memiliki ketinggian 3.145 mdpl dan masuk dalam kategori stratovolcano tipe B. Gunung ini tercatat meletus pada tahun 1797. Setelah itu tidak ada catatan aktivitas vulkanik lagi. Nama “Merbabu” berasa dari kata “Meru” dan “Abu” yang artinya adalah Gunung Abu atau gunung yang mengeluarkan abu.

Secara administratif, Gunung Merbabu terletak di Kabupaten Magelang, dan Kabupaten Boyolali. Selain itu lokasinya juga dekat dengan Daerah Istimewa Yogyakarta yang mayoritas pengunjung Merbabu berasal dari sana. Entah penduduk asli maupun pendatang berstatus mahasiswa di Yogyakarta, tiap hari libur dan weekend, Gunung Merbabu selalu dipenuhi oleh para pendaki yang mayoritas datang dari Yogyakarta.

Sama halnya dengan Gunung Merapi, di Merbabu juga ada tradisi malam 1 Syuro, yakni tradisi syukuran atas berkah alam yang diberikan Sang Kuasa melalui Gunung Merbabu.

PENDAKIAN
Jalur pendakian Gunung Merbabu tercatat cukup banyak yakni: Jalur Selo, Kopeng Thekelan, Cuntel, Genikan, Wekas, Grenden, Suwanting, Gancik, Ngagrong, Timboa, dan Ngaduman. Jalur Selo adalah favorit para pendaki. Spot paling indah di Merbabu yakni berupa Sabana (lapangan rumput luas dan berbukit-bukit). Pendakian Gunung Merbabu rata-rata memakan waktu 6-8 jam sampai puncak.

Masing-masing jalur pendakian telah tersedia sumber air, namun kadang di musim kemarau sumber air tersebut menjadi kering. Namun ada pula yang telah dibuat sedemikian rupa sehingga pendaki bisa mencari air hanya dengan memutar kran yang telah disediakan.

Beberapa satwa seperti monyet ekor panjang bisa kita temui di jalur pendakian. Selain itu, ada pula tower pemancar yang sudah tidak dipakai yang bisa kita temui jika melalui Jalur Thekelan maupun Cuntel.

PUNCAK
Puncak Gunung Merbabu bernama Puncak Syarif dan Puncak Kenteng Songo (tertinggi). Saat berada di puncak-puncak Merbabu kita bisa melihat pemandangan Gunung Lawu, Sindoro-Sumbing, Slamet, dan gunung-gunung lain di Jawa Tengah. Selain itu, Gunung Merbabu juga memiliki kawah yang disebut dengan Kawah Condrodimuko.

Nama lain : Gunung Damalung, Gunung Pamrihan
Elevasi : 3.145 mdpl
Lokasi : Jawa Tengah
Jenis : Stratovolcano Tipe B
Pengelola : TNGM
Keistimewaan : Sabana terindah di Jawa Tengah
Jalur pendakian : Jalur Selo, Kopeng Thekelan, Cuntel, Genikan, Wekas, Grenden, Suwanting, Gancik, Ngagrong, Timboa, dan Ngaduman
Tempat Ikonik : Sabana Merbabu
Puncak : Puncak Syarif dan Puncak Kenteng Songo
Lama pendakian : 6-8 jam
Koordinat : 7°27’15.4″S 110°26’22.8″E
Level pendakian : sedang

Baca Juga : Gunung Muria & Gunung Rogojembangan

Maps

GUNUNG MERAPI (2.930 MDPL)

Gambar Gunung Merapi Meletus
c: @dewiaps17

GUNUNG MERAPI (2.930 MDPL)
Di Provinsi Jawa Tengah

Gunung Merapi adalah gunung teraktif di Indonesia. Hal ini dikarenakan letusannya yang rutin terjadi setiap 4 tahun sekali. Tercatat letusan Merapi terjadi pada 1994, 1998, 2001-2003, 2006, 2010. Beberapa letusan besar pernah pula terjadi pada tahun 1006,1786,1822,1872,1930. Tahun 1930 menewaskan 1400 orang.

Gunung Merapi menjadi salah satu gunung yang menjadi perhatian dunia karena masuk dalam jalur “Ring of Fire” serta merupakan gunung yang aktif meletus dalam rentetan tahun. Selain itu, banyaknya pemukiman yang berada tidak jauh dari Merapi menambah kenyataan tersebut semakin pelik. Tahun 2006, Gunung Merapi meletus dan menewaskan 2 orang yang terjebak di dalam bunker dan menghanguskan Kaliadem, Yogyakarta. Letusan tersebut membawa abu vulkanik dan mencapai Yogyakarta serta mengirim aliran lahar dingin melalui sungai-sungai besar menuju Kota Istimewa tersebut. Empat tahun kemudian, pada 2010, Gunung Merapi kembali meletus dan kali itu lebih dahsyat. Letusannya menghilangkan Puncak Merapi yang bernama Puncak Garuda. Awan panas atau yang sering disebut oleh masyarakat setempat “Wedhus Gembel” (istilah Jawa untuk Kambing domba, kiasan untuk awan yang seperti bulu domba) meluluhlantahkan Kaliadem dan menewaskan 341 penduduk. Salah satunya sang juru kunci Merapi itu sendiri, Mbah Maridjan. Mbah Maridjan ditemukan tewas tertimbun abu dalam posisi bersujud. Mbah Maridjan merupakan juru kunci yang diangkat oleh Sultan HB ke IX (Ayah dari Sultan HB X). Sejak kejadian Merapi mulai meletus di 2010, Mbah Maridjan tidak mau mengungsi dengan alasan ia-lah yang bertanggung jawab atas Merapi dan tidak ada yang bisa menyuruhnya untuk mengungsi meskipun Sultan HB X memintanya. Mbah Maridjan mengatakan bahwa Sultan HB X bukanlah raja yang memberikan titah untuk menjaga Merapi sehingga ia berhak menolaknya. Sedangkan raja yang memerintahkannya dahulu kini sudah tiada. Alhasil Mbah Maridjan tetap tinggal di Kaliadem beserta masyarakat yang turut menyertainya meskipun status Merapi telah “Awas” dan meletus. Mbah maridjan pun ‘selesai’ menjalankan tugasnya. Beliau meninggal disusul Gunung Merapi yang berhenti meletus. Kini tugas tersebut dilimpahkan Sultan HB X kepada anak Mbah Maridjan, yaitu Asihono.

Gunung Merapi adalah gunung berjenis stratovolcano tipe A. Gunung ini selalu mengalami letusan hebat tiap 10-15 tahun sekali. Nama “Merapi” adalah gabungan dari kata “Meru” dan “Api” yang artinya adalah Gunung Api. Gunung Merapi sangat kental dengan kejawen (hal-hal berkaitan dengan tradisi dan mitos Jawa). Jika ditarik garis lurus, maka Gunung Merapi bergaris lurus dengan Kraton Yogyakarta dan Pantai Selatan. Hal ini diyakini masyarakat Jawa bahwa Gunung Merapi merupakan perlambangan dari api, Pantai Selatan perlambangan dari air, sedangkan Kraton Jogja adalah penyeimbang keduanya. Pantai Selatan dilambangkan sebagai hubungan antar sesama manusia, sedangkan Gunung Merapi dilambangkan sebagai hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta.

Gunung Merapi masuk dalam kawasan Kabupaten Magelang, Kabupaten Sleman, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten. Keberadaannya sangat penting selain sebagai penyangga kehidupan daerah-daerah di sekitarnya, Merapi juga menjadi ‘bom waktu’ yang bisa mengancam kehidupan itu sendiri.

Gunung Merapi memiliki ketinggian 2.930 mdpl. Kontur tubuh Merapi mengalami retakan di sisi selatan akibat letusan hebat 2010.

PENDAKIAN
Jalur pendakian Gunung Merapi tersedia melalui Jalur New Selo (Kabupaten Boyolali), dan Jalur Sapuangin (Kabupaten Klaten). Jalur lain ada di Kineharjo Kabupaten Sleman, namun jalur ini telah runtuh akibat letusan 2010. Namun kita tetap bisa melaluinya hanya saja tidak bisa mencapai puncak, ditambah lagi treknya sangat ekstrim. Jalur yang paling populer adalah jalur melalui New Selo. Hanya dibutuhkan 4-6 jam saja untuk bisa mencapai puncak.

Lereng Merapi berupa pemukiman warga dan juga perkebunan. Lebih ke atas adalah kawasan hutan, dan sesekali kita akan menjumpai monyet ekor panjang. Masih banyak satwa liar seperti macan tutul, macan kumbang, elang jawa, dan lainnya yang ada di Hutan Merapi. Suatu gejala alami akan terjadi saat Merapi menunjukkan tanda-tanda akan meletus, yakni para hewan-hewan tersebut akan turun gunung. Kawasan Merapi sendiri telah ditetapkan menjadi kawasan konservasi sejak tahun 2004 yakni dengan nama Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM).

PUNCAK
Puncak Merapi adalah berupa tebing atau bibir kawah. Tebing-tebing ini sangat curam. Tahun 2015, seorang pendaki terjatuh ke Kawah Merapi karena memanjat tebing batu Merapi yang sangat curam, dan kemudian berhasil dievakuasi oleh tim SAR dalam kondisi meninggal. Kawah merapi masih tertutup dan berupa jurang yang dalamnya mencapai 300 meter lebih dan dikelilingi bebatuan besar. Sangat tidak mungkin untuk turun ke Kawah Merapi, dan jika ada yang terjatuh ke jurang kawah tersebut kemungkinan hidup adalah sangat kecil, oleh sebab itu, pengelola Merapi melarang dengan keras bagi para pendaki untuk tidak mendaki sampai puncak (bibir kawah), apalagi memanjat batu tebing yang telah memakan korban tersebut. Pendakian hanya diperbolehkan mencapai Pasar Bubrah, yaitu lokasi berupa lapangan pasir dan batu yang berada tepat di bawah puncak. Lokasi ini sama sekali tidak ditumbuhi tumbuhan karena adanya aktivitas vulkanik di dalamnya. Pasar Bubrah atau Pasar Bubar merupakan ikonik dari Gunung Merapi. Mitosnya lokasi Pasar Bubrah adalah sebuah pasar makhluk gaib. Masyarakat Jawa dan terutama abdi dalem kraton Jogja, menjadikan Gunung Merapi sebagai bagian penting kesejahteraan, dan mereka menganggap Gunung Merapi adalah sebuah kerajaan bagi jin atau makhluk gaib yang tidak bisa dilihat, namun mereka melihat kita. Ada jin yang bertugas menjaga alam Merapi, ada yang bertugas menjaga hutan, ada yang bertugas menjaga ternak, ada pula yang menjaga gerbang masuk kerajaan. Serta ada juga ‘tentara’ Merapi, yang dijuluki “Petruk”. Masyarakat beranggapan bahwa saat Merapi meletus mengeluarkan Wedhus Gembel, saat itulah Petruk keluar. Adanya kepercayaan terhadap Kerajaan Merapi tersebut menghasilkan suatu budaya yang selalu dilestarikan turun temurun. Ada sebuah tradisi ‘slametan’ yang diadakan di Gunung Merapi. Tradisi ini dinamakan “Labuhan”.

Kawasan Gunung Merapi juga memiliki destinasi alam lain yang bisa kita kunjungi seperti Camping Ground dan juga wisata sejarah Letusan Merapi 2010 di Kaliadem, Museum Merapi, Golf di Kaliurang, Bukit Kuning di Cangkringan, Bunker Kaliadem, Situs Sejarah Stonehenge di Cangkringan, The Lost Castle di Cangkringan, dan juga Tlogo Putri di Kaliurang.

Nama lain : Candrageni
Elevasi : 2.930 mdpl
Lokasi : Jawa Tengah
Jenis : Stratovolcano Tipe A
Pengelola : Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM)
Keistimewaan :
• Gunung api terakti di Indonesia
• Meletus tiap 4 tahun sekali
Jalur pendakian: Jalur New Selo (Kabupaten Boyolali), dan Jalur Sapuangin (Kabupaten Klaten)
Tempat Ikonik : Pasar Bubrah
Puncak : Puncak Tebing Merapi
Lama pendakian : 4-6 jam
Koordinat : 7°32’22.9″S 110°26’48.5″E
Level pendakian : sedang

Baca Juga: Gunung Merbabu & Gunung Andong

Maps