Tag Archives: 3000 – 4000 MDPL

PEGUNUNGAN LATIMOJONG (3.440 MDPL)

Gambar Gunung Latimojong
c: @latimojong_

PEGUNUNGAN LATIMOJONG (3.440 MDPL)
Di Provinsi Sulawesi Selatan

Pegunungan Latimojong adalah sebuah komplek deretan puncak gunung yang berjajar dari selatan ke utara. Salah satu puncaknya adalah puncak tertinggi di Sulawesi, yakni Puncak Rantemario dengan ketinggian 3.440 mdpl.

Pegunungan Latimojong terletak di tengah-tengah Provinsi Sulawesi Selatan. Pegunungan ini juga diyakini sebagai tempat tinggal nenek moyang bagi masyarakat Enrekang, Toraja, Luwu, dan juga Bone. Arwah-arwah para leluhur mendiami puncak-puncak di pegunungan Latimojong.

PENDAKIAN
Pendakian umumnya adalah pendakian Puncak Rantemario yaitu puncak tertinggi di Latimojong sekaligus di Sulawesi. Namun pendakian masih bisa dilanjutkan menuju puncak-puncak lainnya yang secara elevasi lebih rendah dari Rantemario, namun jika dilihat dari usaha untuk mencapainya bisa dikatakan lebih sulit berkali-kali lipat.

Jalur pendakian dimulai dari Desa Karangan (jalur paling populer), Kecamatan Baraka. Trek pendakian cukup jelas karena mengingat Gunung Latimojong adalah gunung yang terkenal dan menjadi destinasi pendakian favorit bagi pendaki dari berbagai penjuru wilayah. Total terdapat 7 pos pendakian hingga mencapai Puncak tertinggi Rantemario.

PUNCAK-PUNCAK
Puncak-puncak dalam rentetan puncak pegunungan Latimojong antara lain:
– Gunung Rantemario (3.440 mdpl)
– Gunung Tomoupa/Puncak Latimojong (3.305 mdpl)
– Gunung Bubundirangkang (2.410 mdpl)
– Gunung Nenemori (3.210 mdpl)
– Gunung Sumbolong (3.080 mdpl)
– Gunung Tinabang (3.000 mdpl)
– Gunung Rantekombola (3.100 mdpl)
– Gunung Sikolong (2.800 mdpl)
– Gunung Palangka (2.500 mdpl)
– Gunung Lapande (2. 500 mdpl)
– Gunung Sinaji (2.430 mdpl)
– Gunung Bajaja (3.052 mdpl)
– Gunung Katapu (2.130 mdpl)
– Gunung Pantara Siruk (2.930 mdpl)
– Gunung Aruan (3.037 mdpl)
– Gunung Pasabombo (3.200 mdpl)
– Gunung Pantelaoan (2.500 mdpl)
– Gunung Pokapinjang (2.970 mdpl)

Puncak Rantemario adalah puncak tertinggi sekaligus menjadi destinasi utama dalam pendakian Latimojong. Sedangkan puncak bernama “Latimojong” sendiri justru jarang didaki karena posisinya yang jauh dan kalah populer.

Total pendakian untuk mencapai Puncak Rantemario dan Puncak Nenemori adalah 3-4 hari. Sedangkan untuk mencapai Puncak Tinabang, Puncak Rantekombola, dan Puncak Sikolong dibutuhkan tambahan waktu 2 hari lagi. Alternatif lain jalur pendakian bisa melalui Desa Tabang dan Desa Ranterante di Kecamatan Bastem, Desa Roni di Kecamatan Mingkendek, Desa Kumila di Kecamatan Bastem, Desa Angin-angin di Enrekang, Desa Tibussan di Luwu, dan juga Desa Uluwai di Tana Toraja. Beberapa puncak bisa dicapai melalui jalur tertentu. Puncak tersulit adalah Puncak Sikolong, karena harus dilakukan panjat tebing dan peralatan climbing lengkap.

Kesimpulannya adalah pendakian Latimojong secara umum adalah pendakian mencapai Puncak Rantemario, dan pendakian keseluruhan tidak begitu sulit karena jalur dan akses yang jelas. Namun jika pendakian berlanjut ke beberapa puncak lainnya maka pendakian bisa masuk dalam kategori sulit. Begitulah keistimewaan Pegunungan Latimojong, ia menawarkan puncak tertinggi dengan pendakian yang mudah, dan menawarkan puncak-puncak lain yang tidak begitu tinggi namun dengan pendakian yang sulit.

Nama lain :
Elevasi : 3.440 mdpl
Lokasi : Sulawesi Selatan
Jenis : Non-volcano
Pengelola :
Keistimewaan : Puncak Rantemario tertinggi di Sulawesi, Puncak Sikolong tersulit di Sulawesi Selatan
Jalur pendakian : Desa Karangan, Desa Tabang, Desa Ranterante, Desa Roni, Desa Kumila, Desa Angin-angin, Desa Tibussan, dan Desa Uluwai
Tempat Ikonik :
Puncak : Rantemario, Nenemori, Tinabang, Rantekombola, Sikolong, dll
Lama pendakian : 3-4 hari
Koordinat : 3°23’06.1″S 120°01’26.9″E
Level pendakian : sulit

Baca Juga : Gunung Bawakaraeng & Gunung Nona

Maps

GUNUNG TOLANGI-BALEASE (3.016 MDPL)

Gambar Puncak Gunung Tolangi Balease
c: @andiarumislami21

GUNUNG TOLANGI-BALEASE (3.016 MDPL)
Di Provinsi Sulawesi Selatan

Gunung Tolangi dan Gunung Balease adalah serangkaian gunung dalam Pegunungan Karoue. Karena antar kedua puncak saling berdekatan maka umumnya pendakian sekaligus mencapai kedua puncak. Puncak Tolangi berketinggian 3.016 mdpl, dan Puncak Balease berketinggian 2.894 mdpl.

PENDAKIAN
Pendakian Gunung Tolangi-Balease merupakan pendakian tersulit kedua setelah Pendakian Gunung Kabentonu. Gunung Kabentonu sendiri adalah puncak setelah Puncak Balease, hanya saja masih dibutuhkan 1-2 hari lagi untuk mencapai Puncak Kabentonu. Total dibutuhkan 7-10 hari dalam pendakian Tolangi-Balease. Sedangkan jika mencapai Puncak Kabentonu dibutuhkan total 10-15 hari. Jalur pendakian adalah dimulai dari Desa Bantimurung, Kecamatan Bone-Bone.

PUNCAK
Puncak pertama yang akan dilalui adalah Puncak Tolangi (3.016 mdpl), kemudian dilanjutkan Puncak Balease (2.894 mdpl). Untuk mencapai puncak ke puncak, treking dilakukan dengan melihat ‘stringline’ atau tanda pada pohon. Hal ini dikarenakan sulitnya mencari jalur sehingga akan berakibat fatal jika sampai salah jalur. Stringline sendiri biasanya telah dibuat oleh pendaki-pendaki sebelumnya, sehingga kita hanya mengikutinya saja. Selain itu ketersediaan sumber air dalam pendakian sangat sulit karena hanya ada di beberapa spot saja sedangkan pendakian memerlukan waktu berhari-hari. Oleh sebab itu, para pendaki-pendaki sebelumnya telah meninggalkan beberapa botol yang dibelah menjadi gelas sebagai penadah air hujan, dan ditinggalkan di beberapa pos pendakian, sehingga akan berguna bagi pendaki-pendaki yang akan datang selanjutnya.

Nama lain : Buyu Tolangi, Buyu Balease
Elevasi : 3.016 mdpl
Lokasi : Sulawesi Selatan
Jenis : Non-volcano, Pegunungan
Pengelola : Pemerintah Luwu Utara
Keistimewaan : Pendakian tersulit kedua di Sulawesi
Jalur pendakian : Desa Bantimurung
Tempat Ikonik : Air terjun Bantimurung, Lembah Waru, Negeri Lumut
Puncak : Puncak Tolangi, Puncak Balease
Lama pendakian : 7-10 hari
Koordinat : 2°25’39.5″S 120°32’21.4″E dan 2°24’21.2″S 120°32’32.9″E
Level pendakian : sulit

Baca Juga : Gunung Kabentonu

Maps

Maps

GUNUNG SOJOL (3.025 MDPL)

Gambar Pemandangan Gunung Sojol
c: @pecintaalam.sulteng

GUNUNG SOJOL (3.025 MDPL)
Di Provinsi Sulawesi Tengah

Gunung Sojol adalah gunung dengan ketinggian 3.025 mdpl yang terletak di Sulawesi Tengah. Secara administratif masuk dalam perbatasan Kabupaten Donggala dan Kabupaten Tinomba, yakni antara Kecamatan Sojol dan Kecamatan Tinombo. Gunung Sojol merupakan puncak gunung tertinggi di Provinsi Sulawesi Tengah.

PENDAKIAN
Jalur pendakian yang tersedia untuk mendaki Gunung Sojol yakni terletak di Desa Bobala, Kecamatan Palasa, Kabupaten Parigi Moutong. Secara umum, pendakian Gunung Sojol termasuk dalam kategori sulit. Bukan hanya ketinggian yang mencapai 3000 mdpl, namun juga trek yang panjang. Pos-pos di jalur pendakiannya pun masih dihuni penduduk. Pos pertama dalam jalur ini adalah sebuah desa yang bernama Desa Pebounang. Desa tersebut dihuni oleh penduduk asli yang disebut Suku Lauje. Pos-pos pendakian berikutnya masih masuk dalam kawasan sebuah dusun, hanya saja memang adalah hutan belantara. Berada di pos empat terdapat sebuah gereja yang bisa dijadikan tempat istirahat. Pendakian menuju Puncak Sojol lebih sulit dari sebelum-sebelumnya karena trek terjal dan menanjak. Total dibutuhkan waktu 4-6 hari untuk menggapai puncak hingga turun ke desa titik pendakian.

PUNCAK
Puncak Sojol ditandai dengan sebuah pilar.

Nama lain : Fuyul Sojol
Elevasi : 3.025 mdpl
Lokasi : Sulawesi Tengah
Jenis : Non-volcano
Pengelola : Pemerintah Parigi Moutong
Keistimewaan : Gunung tertinggi di Provinsi Sulawesi Tengah
Jalur pendakian : Desa Bobala
Tempat Ikonik :
Puncak : Puncak Sojol
Lama pendakian : 4-6 hari
Koordinat : 0°35’09.8″N 120°12’23.8″E
Level pendakian : sulit

Baca Juga : Gunung Colo

Maps

GUNUNG GANDANG DEWATA (3.037 MDPL)

Gambar Puncak Gandang Dewata Sulawesi Barat
c: @adamyusuv

GUNUNG GANDANG DEWATA (3.037 MDPL)
Di Provinsi Sulawesi Barat

Gunung Gandang Dewata adalah sebuah gunung yang terletak di tiga kabupaten yakni Kabupaten Mamasa, Kabupaten Mamuju, dan Kabupaten Kalumpang, Sulawesi Barat. Gunung ini memiliki ketinggian 3.027 mdpl sekaligus menjadi puncak tertinggi di Sulawesi Barat. Nama “Gandang Dewata” memiliki arti “Gendang Dewa”, hal ini dikaitkan dengan adanya suara gemuruh seperti bunyi gendang yang berasal dari puncak gunung.

Keberadaan Gunung Gandang Dewata menjadi salah satu bagian spiritual dari masyarakat setempat. Mereka meyakini adanya masyarakat gaib yang tinggal di Gunung Gandang Dewata. Masyarakat gaib tersebut sama seperti halnya manusia pada umumnya, mereka tidur, makan, memiliki rumah, jual beli, berkebun, dan juga merokok. Masyarakat gaib tersebut dijuluki “To Membuni”.

Tahun 2017, kawasan Gunung Gandang Dewata dijadikan sebagai kawasan konservasi dan dinamakan Taman Nasional Gandang Dewata. Salah satu satwa unik yaitu berupa tikus yang melompat terbang sejauh 50 meter. Selain itu satwa endemik lain yang cukup terkenal adalah Anoa dan Rangkong.

PENDAKIAN
Jalur pendakian Gandang Dewata masing-masing terdapat di 3 kabupaten, yakni jalur via Mamasa, jalur via Mamuju, dan jalur via Kalumpang atau Majene. Jalur Mamasa adalah yang paling populer. Jalur Mamasa berada di ketinggian 1.140 mdpl yakni tepatnya dimulai dari Desa Rantepongkok.

Pendakian Gunung Gandang Dewata masuk dalam kategori sulit. Hal ini karena trek yang panjang dan berupa hutan liar. Pendakian untuk mencapai puncak Gandang Dewata harus melewati 8 gunung lainnya. Gunung-gunung tersebut adalah Gunung Lante Bobbok, Parandangan, Pappandangan, Lantang Lomo, Lombok Silenda, Demak-demak, Penga, dan Naik Daeng. Pendakian membutuhkan logistik yang banyak dan teknik survival yang bagus. Bagi para pendaki, untuk mencapai Gandang Dewata dibutuhkan waktu 5-6 hari. Sedangkan untuk turun adalah 2-3 hari. Beberapa lokasi pada jalur pendakian terdapat sungai yang airnya jernih.

PUNCAK
Puncak Gandang Dewata berupa seperti batu bulat yang besar jika dilihat dari kejauhan. Mungkin dari situlah alasan lain penamaan “Gendang”. Puncak Gandang Dewata bernama “Tanete”. Terdapat pilar penanda puncak dan sekelilingnya masih ditumbuhi tanaman lebat. Ada di puncak tersebut kita bisa melihat pemandangan Pegunungan Latimojong.

Nama lain : Gendang Dewata
Elevasi : 3.037 mdpl
Lokasi : Sulawesi Barat
Jenis : Stratovolcano Tipe B
Pengelola : Taman Nasional Gandang Dewata
Keistimewaan : Gunung tertinggi di Sulawesi Barat
Jalur pendakian : Jalur Mamasa, Jalur Mamuju, dan Jalur Majene
Tempat Ikonik :
Puncak : Tanete
Lama pendakian : 7-10 hari
Koordinat : 2°44’32.4″S 119°22’41.0″E dan 2°44’54.1″S 119°22’06.0″E
Level pendakian : sulit

Maps

Maps

KISAH HILANGNYA MAYOR LATANG
April 2007, perwira senior POM Kodam VII/Wirabuana Mayor (POM) Latang dan 3 orang sipil bernama Alexander, Rivai, Azis dan satu pemandu dari warga sekitar bernama Ambe Pampang, melakukan pendakian Gunung Gandang Dewata. Sebelum melakukan pendakian, Ambe Pampang sempat menanyakan perihal tujuan pendakian kepada Mayor Latang. Mayor Latang hanya menjawab “untuk mencari air kehidupan”, tanpa menjelaskan apa yang dimaksud air kehidupan itu. Ambe Pampang menurut saja, dan pendakian pun dimulai. Dalam perjalanan, Ambe Pampang menilai bekal dan peralatan yang dibawa rombongan Mayor Latang kurang. Mereka bahkan tidak membawa tenda dan jas hujan. Ambe Pampang yang sudah berkali-kali naik Gandang Dewata tentunya sangat paham berapa yang dibutuhkan dan apa saja yang diperlukan. Namun Mayor Latang hanya menjawab bahwa nanti ada helikopter yang akan mengantarkan logistik. Mendengar jawaban tersebut Ambe Pampang sedikit lega. Namun kejadian yang ditakutkan Ambe Pampang pun terjadi. Baru setengah jalur, rombongan mereka kehabisan logistik dan tidak ada helikopter yang datang seperti apa yang dikatakan Mayor Latang. Salah satu pendaki, Azis bahkan sekarat karena tidak makam 2 hari 2 malam. Meski demikian, Mayor Latang tetap ingin melanjutkan pendakian. Namun pada akhirnya rombongan tersebut memutuskan untuk berhenti dan turun saja. Ambe Pampang yang melihat kondisi rombongan tersebut yang memprihatinkan, mengambil inisiatif untuk turun lebih dulu supaya bisa mencarikan bantuan dan logistik sesampainya di desa nanti. Menjelang maghrib, Ambe Pampang telah sampai di desa. Ia melaporkan kejadian tersebut kepada Koramil, dan betapa terkejutnya Ambe Pampang setelah mengetahui bahwa pihak Koramil tidak tahu menahu perihal pendakian yang dilakukan Mayor Latang. Kemudian Ambe Pampang juga melapor kepada juru kunci Gunung Gandang Dewata yang bernama Daud, Daud pun mengatakan bahwa tidak ada pemberitahuan oleh Mayor Latang. Bagi Daud yang merupakan juru kunci Gandang Dewata, meyakini, jika terdengar bunyi seperti gendang dari puncak, itu menandakan ada pendaki yang hilang atau meninggal.

Keesokan harinya, seorang pendaki, Alexander, tiba di desa dengan kondisi sangat memprihatinkan. Bahkan ia sudah tidak bisa berkata-kata. Mengetahui hal tersebut maka diterjunkan tim SAR, TNI, Mapala dan masyarakat sekitar untuk melakukan pencarian terhadap Mayor Latang dan 2 pendaki lainnya.

Di kemudian hari ditemukan seorang pendaki telah meninggal, yaitu Azis. Lantas Mayor Latang dan Rivai hilang dan tidak pernah diketahui keberadaannya hingga sekarang.

GUNUNG BINAIYA (3.027 MDPL)

Gambar Puncak Gunung Binaiya Maluku
c:@dio.anggaraa

GUNUNG BINAIYA (3.027 MDPL)
Di Provinsi Maluku

Gunung Binaiya merupakan stratovolcano tipe B yang terletak di Pulau Seram dan masuk dalam administratif Kabupaten Maluku Tengah. Gunung Binaiya memiliki ketinggian 3.027 mdpl sekaligus menjadikannya yang tertinggi di Provinsi Maluku. Kawasan Gunung Binaiya masuk dalam kawasan konservasi Taman Nasional Manusela (TNM).

PENDAKIAN
Jalur pendakian Gunung Binaiya memiliki banyak jalur, di antaranya adalah melalui Desa Kanikeh di sisi utara gunung. Jalur Kanikeh merupakan jalur yang populer. Kemudian ada pula jalur melalui pintu TNM di Desa Piliana. Jalur yang satu ini melalui sisi selatan gunung.

Sebelum melakukan pendakian, biasanya akan dilakukan ritual oleh ketua adat setempat. Jika melalui jalur Desa Kanikeh, maka kita akan melewati beberapa spot bernama Waiansela, Waihuhu, dan Waipuku. Terdapat beberapa sumber air berupa aliran sungai pada jalur tersebut. Jika melalui jalur pintu TNM, kita akan melewati spot bernama Yamitala, Aimoro, Highcamp, dan juga Isilali. Melalui jalur tersebut kita akan bertemu dengan kawasan pepohonan palem dan juga beberapa kawanan rusa. Rata-rata pendakian total hingga turun adalah 2-4 hari.

PUNCAK
Puncak Gunung Binaiya bernama Puncak Siale dan Puncak Telewa. Kawasan puncak adalah lahan berbatu dan terjal, serta banyak ditumbuhi tumbuhan perdu.

Nama lain : Binaia, Binaija, Mutiara Nusa Ina
Elevasi : 3.027 mdpl
Lokasi : Maluku
Jenis : Stratovolcano Tipe B
Pengelola : Taman Nasional Manusela (TNM).
Keistimewaan : Gunung Tertinggi di Provinsi Maluku
Jalur pendakian : Desa Kanikeh, Desa Piliana
Tempat Ikonik : Waiansela, Waihuhu, Waipuku, Yamitala, Aimoro, Highcamp, Isilali
Puncak : Puncak Siale dan Puncak Telewa
Lama pendakian : 2-4 hari
Koordinat : 3°10’25.9″S 129°27’18.9″E
Level pendakian : sulit

Baca Juga : Gunung Wurlali & Gunung Murkele

Maps

GUNUNG RINJANI (3.726 MDPL)

Gambar Puncak Gunung Rinjani Lombok
c: @rezamaulanamalik

GUNUNG RINJANI (3.726 MDPL)
Di Provinsi Nusa Tenggara Barat

Gunung Rinjani adalah gunung tertinggi ketiga di Indonesia, dan juga menjadi Gunung Api tertinggi kedua setelah Gunung Kerinci di Jambi. Selain itu juga menjadi yang tertinggi di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Gunung Rinjani terletak di Pulau Lombok, NTB dan secara administratif masuk dalam kawasan Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Lombok Barat, dan Kabupaten Lombok Tengah. Gunung Rinjani masuk dalam kategori Gunung Api Maar dan bertipe A. Kawasan Gunung Rinjani dijadikan sebagai kawasan konservasi dan dinamakan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR).

Ada sebuah kaldera raksasa seluas 3500 x 4800 meter yang di dalamnya berisi sebuah danau bernama “Segara Anak” dan sebuah Gunung Api kecil bernama “Gunung Barujari”. Kaldera raksasa tersebut memanjang dari timur ke barat.

Danau Segara Anak memiliki luas 11.000 m2 dan kedalaman maksimum 230 meter. Air dari Segara Anak mengalir ke bawah gunung dan menghasilkan beberapa mata air dan juga air terjun. Berada di dalam danau tersebut terdapat banyak ikan mas dan mujair dan tak sedikit pendaki yang memancing dan menjadikan ikan-ikan tersebut sebagai santapan yang mantap.

Bagian selatan Segara Anak disebut dengan Segara Endut. Kemudian, di bagian timurnya berdiri Gunung Barujari atau disebut juga Gunung Tenga yang memiliki kawah berukuran 170 x 200 m dan elevasi 2.376 mdpl. Selain itu ada juga Gunung Mas atau Gunung Rombongan dengan elevasi 2.110 mdpl yang terletak tidak jauh dari Gunung Barujari. Kawah Gunung Barujari masih aktif mengeluarkan asap. Tercatat tahun 1994, 1996, 2004, 2009, dan terakhir 2015, Gunung Barujari meletus dan memuntahkan abu vulkanik.

Gunung Barujari mulai muncul yakni tahun 1944. Beberapa letusan Gunung Barujari tidak berdampak langsung, namun banjir lahar dingin yang disalurkan ke bawah gunung menjadi ancaman serius bagi masyarakat setempat. Rekahan jalur lahar membentuk sebuah tebing lembah yang dinamakan Kokok Putih. Kokok Putih sendiri kemudian disebut sebagai Sungai Kokok Putih. Selain itu pula aliran sungai lain yakni Sungai Batusantek.

Gunung Rinjani sendiri adalah sebuah gunung di sisi kaldera raksasa yang di dalamnya ada Segara Anak. Puncak Rinjani berbentuk kerucut dan terdapat kawah dan di salah satu sisinya tergerus sangat dalam dan mengarah ke Segara Anak. Gerusan itu dinamakan “Tapal Kuda”. Jika dilihat dari atas terlihat bentuknya mirip ‘tapal kuda’. Kemudian gerusan atau longsoran di salah satu sisi Gunung Rinjani tersebut menjadi semacam lautan pasir yang dijuluki “Segara Muncar”.

Segara Anak di kelilingi tebing-tebing curam dan lahan datar yang cukup luas. Lahan datar inilah tempat camp para pendaki. Banyak aktivitas yang bisa dilakukan oleh para pendaki. Selain memancing, pendaki juga bisa mandi di sumber air panas yang letaknya tidak jauh dari tempat camp Segara Anak. Ada pula beberapa gua yang disakralkan oleh masyarakat Rinjani, yakni Gua Susu, Gua Manik, dan Gua Payung. Gua Susu di dalamnya menetes air dari batu-batu yang bentuknya seperti puting susu oleh sebab itulah dinamakan Gua Susu. Gua Susu ini adalah tempat untuk bersemedi masyarakat setempat. Ada pula sumber air panas bernama Aik Kalak Pengkerman Jembangan. Air panas di lokasi tersebut memiliki tingkat panas yang berbeda-beda, hal ini disebabkan aliran air panas mengalir pada batuan yang membentuk anak tangga, sehingga tiap alirannya pada tiap anak tangga berbeda suhu panasnya. Sumber panas Aik Kalak ini digunakan untuk menyucikan benda-benda pusaka.

PENDAKIAN
Pendakian Gunung Rinjani paling populer adalah melalui Jalur Sembalun dan Jalur Senaru. Umumnya kedua jalur tersebut merupakan jalur naik-turun yang dijadikan satu paket pendakian. Jadi misalnya naik melalui Sembalun, maka turunnya lewat Senaru, atau sebaliknya. Jalur Sembalun memiliki karakteristik trek yang lebih landai dan panjang. Vegetasinya rendah dan berupa padang savana luas. Cuaca akan lebih panas namun sepanjang mata memandang adalah pemandangan yang luar biasa. Sedangkan Jalur Senaru adalah jalur yang lebih pendek, namun treknya didominasi trek menanjak.

Vegetasinya adalah kawasan hutan, sehingga cuaca lebih dingin. Kedua jalur tersebut, Sembalun dan Senaru, nantinya akan bertemu. Jalur Senaru memiliki trek yang dijuluki ‘Bukit Penyiksaan’, yakni trek naik-turun bukit yang sungguh menyiksa. Ada pula trek ‘Bukit Penyesalan’, yakni trek yang lebih menyiksa dari Bukit Penyiksaan sehingga pendaki seakan-akan merasa menyesal.

Jalur lain selain Sembalun dan Senaru adalah Jalur Torean, Jalur Timbanuh, serta Jalur Benang Stokel. Ketiga jalur tersebut adalah jalur tidak resmi. Jalur Torean adalah jalur yang berada di antara jalur Sembalun dan Senaru atau disebut juga jalur yang melewati rekahan kaldera, yakni melalui Kokok Putih. Sedangkan Jalur Timbanuh adalah jalur tebing yang sangat curam. Jalur ini disebut juga Jalur Selatan Rinjani. Jalur Timbanuh merupakan trek paling ekstrim dari semua jalur pendakian Gunung Rinjani. Kemudian, Jalur Benang Stokel adalah jalur yang baru dibuka dan masih minim informasi terkait jalur tersebut.

PUNCAK
Puncak Gunung Rinjani bernama Puncak Dewi Anjani. Pendakian summit attack menuju Puncak Dewi Anjani adalah trek dengan kontur batu berpasir yang sangat terjal. Jarak dari Segara Anak hingga puncak mencapai 700 meter. Sebelum mencapai puncak, biasanya para pendaki akan menginap di lokasi punggungan yang merupakan spot favorit untuk menikmati sunset, lokasi ini bernama Plawangan.

Dari Puncak Dewi Anjani, kita bisa melihat pemandangan Segara Anak dan Gunung Barujari. Melihat ke sisi lain nun jauh di sana ada Gunung Agung di Pulau Bali, dan Gunung Raung di Pulau Jawa. Sebaliknya di sisi berlawanan kita bisa melihat Gunung Tambora dengan kaldera besarnya.

Gunung Rinjani adalah gunung yang menjadi favorit para pendaki di Indonesia bahkan juga pendaki mancanegara. Selain dari spot alam yang sangat menakjubkan, mitos, legenda, sejarah asal usul Gunung Rinjani juga menjadi salah satu alasan lain mengapa banyak pendaki yang mau mendaki gunung ini.

Segara Anak di Gunung Rinjani menjadi gambar latar pada uang keras sepuluh ribu rupiah keluaran tahun 1998. Kawasan Wisata Gunung Rinjani juga memiliki banyak penghargaan dari dunia internasional yang berkaitan dengan wisata dan alam. Ada padang savana yang sangat indah di Jalur Sembalun, ada pula air terjun yang jumlahnya mencapai 20 buah, ada sumber air panas di beberapa tempat, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Beberapa spot unik yang ada di Gunung Rinjani antara lain:
– Bunut Ngengkang (Bunut = Beringin, Ngengkang = ngangkang), yaitu Pohon Beringin tinggi besar yang berbetuk seperti kaki yang mengangkang
– Montong Satas, yaitu Batu besar yang digunakan untuk orang duduk atau tiduran sembari mengingat-ingat kesalahan. Batu besar ini disebut juga “Batu Penyesalan”
– Sanggah Basong (Sanggah = Rusa, Basong = Anjing), yaitu binatang khas Rinjani berupa hewan rusa yang memiliki lima puting susu seperti Anjing. Dan juga bau hewan ini mirip anjing.
– Kali Mantong, yaitu buah straberry khas Gunung Rinjani
– Sandar Nyawa, yaitu nama sebutan bagi bunga Edelweis
– Segara Anak, adalah danau di bawah Puncak Rinjani. Segara artinya “Lautan”, sedangkan Anak, diartikan sebagai “miniatur”.

Masyarakat Sasak (suku asli Gunung Rinjani dan Pulau Lombok), khususnya yang tinggal di kaki Gunung Rinjani memberikan suatu penghormatan kepada Gunung Rinjani dengan cara menghadapkan rumah-rumah mereka ke arah Gunung Rinjani. Masyarakat Sasak mayoritas beragama Islam, dan sebagian kecil lain adalah hindu yang dibawa dari Bali. Masyarakat Hindu Rinjani mempunyai sebuah tradisi yakni Ritual Mulam Pakelem, yakni ritual menenggelamkan sesembahan ke Danau Segara Anak.

Bagi masyarakat muslim Lombok, Gunung Rinjani dianggap sebagai tempatnya para wali (gaib) dan tempat berdirinya kerajaan jin islam. Ada masjid yang tak kasat mata di kawasan Gunung Rinjani.
Nama ‘Rinjani’ memiliki kisah asal-usul yang cukup panjang, yakni berkaitan dengan Legenda Gunung Rinjani itu sendiri. Ada beberapa versi, pertama adalah Legenda Dewi Rinjani dan kedua adalah Legenda Dewi Anjani.

DEWI RINJANI
Dahulu, di Lombok ada seorang raja bernama Datu Tuan, dan istrinya bernama Dewi Mas. Pasangan tersebut tidak memiliki Anak. Lantas, Raja Datu Tuan memohon untuk menikah lagi, dan Dewi Mas merestuinya. Datu Tuan pun menikah lagi dengan seorang perempuan bernama Putri Sanggar Tutul. Namun, Dewi Mas, istri pertama si raja justru hamil tak terduga. Raja pun senang. Namun Putri Sanggat Tutul selaku istri muda tak senang dengan keadaan tersebut, lantas ia membuat sebuah konspirasi dengan mengatakan bahwa Dewi Mas telah berselingkuh dengan rakyat bernama Lok Deos. Raja percaya, dan mengusir Dewi Mas dalam keadaan mengandung. Dewi Mas pergi ke Pulau Bali dan melahirkan anak kembar laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki dinamakan Raden Nuna Putra Janjak, yang perempuan dinamakan Dewi Rinjani. Yang laki-laki mempunyai keris, dan yang perempuan mempunyai anak panah. Kedua anak tersebut tumbuh dewasa dan menjadi sakti. Suatu hari, Raden Nuna yang telah dewasa mengetahui perihal diusirnya ibundanya oleh raja yang juga ayahnya. Ia pun pergi ke Lombok untuk bertemu raja. Singkat cerita, raja menyesali perbuatannya yang dulu, lalu mengundang Dewi Mas dan anak-anaknya tinggal di kerajaan. Kemudian Raden Nuna naik tahta menjadi Raja. Suatu ketika Datu Tuan dan anak perempuannya, Dewi Rinjani, pergi ke gunung untuk bertapa. Namun hal aneh terjadi, Dewi Rinjani menghilang dan dijadikan ratu oleh kerajaan gaib. Dialah ratu di Gunung Rinjani.

DEWI ANJANI
Dewi Anjani adalah anak dari Resi Gotama dan Dewi Windradi. Ia memiliki saudara bernama Suwarsa (Subali) dan Guwa Resi (Sugriwa). Dewi Windradi, ibunya, telah berhubungan gelap dengan Bhatara Surya. Demi menutupi kenyataan tersebut, Bhatara Surya memberikan pusaka sakti “Cupumanik Astagina” kepada Dewi Windradi dan memerintahkannya untuk tidak memberitahu siapapun bahkan kepada anaknya sendiri. Namun Dewi Windradi justru memberikan pusaka tersebut kepada anak tercintanya, Dewi Anjani. Suatu saat Dewi Anjani sedang mencoba pusaka pemberian ibunya tersebut, lantas tak disengaja saudara-saudaranya melihat pusaka tersebut. Singkat cerita, semua rahasia perselingkuhan Dewi Windradi dan pusaka sakti terbongkarlah sudah. Resi Gotama murka dan mengutuk Dewi Windradi menjadi batu. Dan ketiga anaknya pun turut dikutuk, mereka dikutuk menjadi kera. Suatu ketika, Bhatara Guru sedang lewat di atas telaga dan ia melihat Dewi Anjani (kera) berperawakan kurus dan kering. Dilemparkanlah ‘daun sinom’ supaya dimakan Dewi Anjani. Deni Anjani memakannya dan hamil. Dari kehamilan itu lahirlah sosok kera putih bernama Hanoman. Dalam kisah ini Dewi Anjani menjadi ikon Gunung Rinjani dan dijadikan sebagai nama puncak tertinggi Gunung Rinjani.

Nama lain : Anjani
Elevasi : 3.726 mdpl
Lokasi : NTB
Jenis : Stratovolcano Tipe A
Pengelola : Sembalun Development Community Center, Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR)
Keistimewaan :
• Gunung tertinggi ketiga di Indonesia
• Gunung api tertinggi kedua di Indonesia
• Gunung tertinggi di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
Jalur pendakian : Sembalun, Senaru, Torean, Timbanuh, dan Benang Stokel
Tempat Ikonik : Kokok Putih, Tapal Kuda, Segara Muncar, Gunung Baru Jari, Segara Anak, Bukit Penyiksaan, Bukit Penyesalan, Plawangan
Puncak : Puncak Dewi Anjani
Lama pendakian : 2-4 hari
Koordinat : 8°24’41.6″S 116°27’30.6″E
Level pendakian : sulit

Baca Juga : Bukit Pergasingan & Gunung Tambora

Maps