Tag Archives: 1-3 HARI

GUNUNG KARUA (2.653 MDPL)

Gambar Puncak Gunung Karua
c: @agung_pasalli

GUNUNG KARUA (2.653 MDPL)
Di Provinsi Sulawesi Selatan

Gunung Karua adalah sebuah gunung yang memiliki ketinggian 2.653 mdpl yang terletak di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Gunung Karua disebut juga Gunung Delapan. Selain arti kata “Karua” itu sendiri adalah “Delapan”, jumlah puncak yang ada dalam gunung tersebut juga mencapai delapan puncak.

PENDAKIAN
Jalur pendakian Gunung Karua dimulai dari Desa Balla, Kecamatan Bittuang, Kabupaten Tana Toraja. Basecamp pendakian adalah rumah seorang pendeta. Trek pendakian berupa kawasan pinus dan pakis. Total dibutuhkan 1-2 hari untuk bisa mencapai puncak dan turun kembali.

PUNCAK
Puncak Gunung Karua ditandai dengan sebuah pilar dari semen yang dibuat pada zaman Belanda. Gunung Karua merupakan gunung api yang terindikasi masih aktif. Hal ini dikarenakan adanya bau belerang yang cukup menyengat dan ada pula aliran air yang berbau belerang. Selain itu di kaki gunung juga terdapat sumber air panas, yang tentunya semakin menguatkan kalau Gunung Karua adalah gunung api yang masih aktif.

Nama lain : Gunung Delapan, Buntu Puang
Elevasi : 2.653 mdpl
Lokasi : Sulawesi Selatan
Jenis : Volcano
Pengelola : Pemerintah Tana Toraja
Keistimewaan :
Jalur pendakian : Desa Balla
Tempat Ikonik :
Puncak : Puncak Karua
Lama pendakian : 1-2 hari
Koordinat : 2°53’01.7″S 119°41’32.0″E
Level pendakian : sulit

Baca Juga : Gunung Lompobattang & Gunung Kabentonu

Maps

GUNUNG LOMPOBATTANG (2.870 MDPL)

Gambar Puncak Gunung Lompobattang
c: @panji.96

GUNUNG LOMPOBATTANG (2.870 MDPL)
Di Provinsi Sulawesi Selatan

Gunung Lompobattang adalah sebuah gunung yang cukup terkenal di Sulawesi Selatan. Gunung Lompobattang memiliki ketinggian 2.870 mdpl dan masuk dalam kawasan Kabupaten Gowa dan Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Nama “Lompobattang” memiliki arti “perut yang besar”.

Gunung Lompobattang merupakan salah satu puncak tertinggi yang terdapat dalam jajaran gunung di Pegunungan Lompobattang. Gunung ini berdekatan dengan Gunung Bawakaraeng. Selain berdekatan, tradisi yang dilakukan oleh masyarakat setempat juga sama, yakni melakukan “lebaran haji” di puncak gunung. Selain itu, tak jarang pula pendakian yang merangkap menjadi dua puncak yakni Puncak Lompobattang dan Puncak Bawakaraeng, atau sebaliknya. Jalur antar kedua gunung memang saling terhubung.

PENDAKIAN
Jalur pendakian Gunung Lompobattang tersedia melalui Dusun Lembang Bu’ne (1.320 mdpl), dan Lengkese/Malino (1.995 mdpl), Kabupaten Gowa. Jalur Lembang terdapat air terjun setinggi 50 meter, sedangkan pada Jalur Lengkese ada air terjun bertingkat dengan total tinggi mencapai 100 meter. Keseluruhan jumlah pos pendakian adalah 10 pos (dalam angka romawi). Menuju puncak, trek pendakian berupa bebatuan terjal dengan kanan-kiri berupa jurang.

PUNCAK
Puncak Lompobattang berupa puncak tebing dan terdapat pilar sebagai penanda puncak. Terlihat pemandangan puncak Bawakaraeng dari puncak tersebut.
Jalur untuk menuju Puncak Bawakaraeng yakni dengan turun melewati jalur kiri. Trek adalah punggungan terjal dan harus dilalui dengan berjalan miring. Kita akan melewati spot Pasar setan Anjaya dan juga puncak Gunung Ko’bang. Puncak Ko’bang (2.870 mdpl) diyakini sebagai makam Raja Gowa sehingga disakralkan. Kemudian trek dilanjutkan naik-turun bukit terjal berbatu hingga mencapai Puncak Bawakaraeng. Perjalanan seterusnya turun melalui jalur Bawakaraeng.

Nama lain : Piek van Bonthain
Elevasi : 2.870 mdpl
Lokasi : Sulawesi Selatan
Jenis : Non-volcano
Pengelola : Pemerintah Gowa
Keistimewaan :
Jalur pendakian : Dusun Lembang Bu’ne, dan Lengkese/Malino
Tempat Ikonik :
Puncak : Puncak Lompobattang, Moncong Lompobattang
Lama pendakian : 1-2 hari
Koordinat : 5°20’46.3″S 119°55’54.4″E
Level pendakian : sedang

Baca Juga : Gunung Bawakaraeng & Gunung Karua

Maps

GUNUNG BAWAKARAENG (2.883 MDPL)

Gambar Puncak Gunung Bawakaraeng
c: @alvienktazthyck

GUNUNG BAWAKARAENG (2.883 MDPL)
Di Provinsi Sulawesi Selatan

Gunung Bawakaraeng adalah sebuah gunung yang terletak di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Gunung Bawakaraeng menjadi sumber air bagi kehidupan di Kabupaten Gowa, dan beberapa wilayah lain di sekelilingnya. Gunung Bawakaraeng memiliki ketinggian 2.883 mdpl, cukup tinggi untuk dijadikan sebagai objek pendakian gunung.

Nama “Bawakaraeng” memiliki arti “Mulut Tuhan”. Banyak penafsiran terkait penamaan tersebut, salah satunya yakni mengartikan Gunung Bawakaraeng adalah tempat untuk berdoa kepada Tuhan. Gunung Bawakaraeng disebut juga “Butta Toayya” yang artinya adalah “tanah yang dituakan”. Masyarakat setempat meyakini bahwa Gunung Bawakaraeng adalah tempat leluhur mereka sehingga perlu disakralkan atau dihormati.

Sebuah tradisi telah dijalankan turun-temurun oleh masyarakat kaki Gunung Bawakaraeng. Tradisi tersebut adalah “lebaran haji di Puncak Bawakaraeng”. Banyak komentar terkait tradisi tersebut. Ada yang mengatakan pengganti “haji” di Mekkah. Namun hal tersebut dibantah oleh masyarakat Bawakaraeng. Masyarakat SEtempat mengatakan bahwa penafsiran yang benar adalah “lebaran haji” atau “perayaan” saja. Setiap bulan Dzulhijjah atau bersamaan dengan pelaksanaan ibadah Haji di tanah suci, masyarakat kaki Gunung Bawakaraeng akan melakukan pendakian mencapai puncak. Kemudian, di puncak mereka akan melalukan sholat Idul Adha sebagai salah satu kegiatan yang disunahkan. Jika umat muslim umumnya menjalankan sholat tersebut di masjid, maka masyarakat Bawakaraeng menjalankannya di puncak gunung.

Gunung Bawakaraeng merupakan puncak gunung yang masuk dalam kawasan Pegunungan Lompobattang. Beberapa puncak lain yang masuk dalam kawasan pegunungan Lompobattang yakni: Gunung Lompobattang, Gunung Assuempolong, Gunung Kaca, Gunung Ko’bong, Gunung Baria, dan Gunung Porong. Bebepa satwa endemik Sulawesi juga terdapat di kawasan pegunungan tersebut, yakni anoa dan babirusa. Flora-flora yang juga banyak dijumpai yakni pinus, anggrek, dan juga lumut.

PENDAKIAN
Jalur pendakian Gunung Bawakaraeng terletak di Desa Lembanna, Kecamatan Tinggi Moncong, atau sering dikenal dengan “Wisata Malino”. Posisi Desa Lembanna (1.400 mdpl) adalah di sisi barat laut Puncak Bawakaraeng. Selain itu ada alternatif jalur lain yakni melalui Jalur Tassoso (1.320 mdpl) yang terletak di sisi Timur Laur dari Puncak Bawakaraeng.

Jalur Lembanna adalah jalur yang paling populer. Pendakian membutuhkan waktu 2-3 hari untuk sampai di puncak dan turun kembali. Trek awal adalah kawasan perkebunan, dilanjutkan dengan kawasan hutan, dan selanjutnya trek bebatuan dengan vegetasi rendah.

PUNCAK
Puncak Gunung Bawakaraeng berupa lahan yang cukup luas dan terdapat pilar penanda puncak. Saat berada di puncak tersebut akan terlihat puncak Gunung Lompobattang. Gunung Bawakaraeng dan Gunung Lompobattan memang berdekatan, dan tak jarang pula pendakian dilanjutkan menuju Puncak Lompobattang (dan sebaliknya).

Ada sebuah kisah mistis yang terdapat di jalur pendakian Gunung Bawakaraeng dan kadung menjadi bumbu-bumbu pendakian. Cerita yang paling terkenal adalah tentang misteri Noni di Gunung Bawakaraeng. Tahun 1980 seorang wanita bernama Noni melakukan bunuh diri di Pos 3 Jalur Bawakaraeng. Ia menggantungkan diri pada sebuah pohon, diduga karena patah hati. Pohon tempat bunuh diri tersebut masih berdiri hingga sekarang dan menjadi ikon mistis bagi Pos 3. Ada pula kisah tentang meninggalnya 2 mahasiswa Universitas Hassanuddin di pos 5 akibat diterjang badai. Selain itu, ada sebuah lapangan yang diyakini sebagai pasar hantu, lapangan tersebut dijuluki “Pasar Anjaya”. Meski diliputi banyak kisah-kisah horor dan mitos, di sisi lain di bagian Bawakaraeng menyimpan sebuah keindahan. Terdapat sebuah danau yang tidak kalah indah dengan Danau Ranukumbolo di Gunung Semeru. Danau tersebut bernama Danau Tanralili. Berdekatan dengan Danau Tanralili, ada sebuah lembah yang luas yang dinamakan Lembah Ramma.

Ada orang yang tinggal sendirian di Gunung Bawakaraeng, tepatnya di dekat Lembah Ramma. Beliau adalah Tata Mandong, juru kunci Gunung Bawakaraeng sekaligus Gunung Lompobattang. Pria kelahiran 1938 tersebut bertugas menjaga hutan di Bawakaraeng. Setiap hari kegiatannya adalah memantau lingkungan di sekitar gunung, sembari mengembala sapi titipan para warga. Tahun 2004 lereng Gunung Bawakaraeng di pos 8 mengalami longsor hebat dan membuat kerusakan yang cukup parah.

Nama lain : Butta Toayya, Bulu Bawakaraeng
Elevasi : 2.883 mdpl
Lokasi : Sulawesi Selatan
Jenis : Non-volcano
Pengelola : Pemerintah Gowa
Keistimewaan :
Jalur pendakian : Desa Lembanna, Jalur Tassoso
Tempat Ikonik : Pasar Anjaya, Danau Tanralili, Lembah Ramma, Pos 3 Noni
Puncak :
Lama pendakian : 2-3 hari
Koordinat : 5°18’59.8″S 119°56’37.0″E
Level pendakian : sedang

Baca Juga : Gunung Lompobattang & Gunung Karua

Maps

GUNUNG MURKELE (MANUSELA) (2.750 MDPL)

Gambar Gunung Murkele Manusela
c:@cak_mads

GUNUNG MURKELE (MANUSELA) (2.750 MDPL)
Di Provinsi Maluku

Gunung Murkele adalah salah satu puncak gunung dalam kawasan konservasi Taman Nasional Manusela (TNM) yang terletak di Kepulauan Maluku, Provinsi Maluku. Gunung Binaiya adalah puncak tertinggi di TNM. Sedangkan Gunung Murkele adalah puncak tertinggi kedua.

Taman Nasional Manusela memiliki luas 1.890 km2 dan secara administratif masuk dalam kawasan Kecamatan Maluku Tengah, Kecamatan Seram Utara, dan Kecamatan Seram Selatan. Kawasan TNM terdapat 117 spesies burung yang di antaranya adalah spesies endemik Kepulauan Maluku, seperti Burung kakaktua, kasuari dan juga nuri. Spesies satwa endemik Maluku yang juga banyak ditemui di TNM yakni kuskus, rusa, mapea dan musang.

PENDAKIAN
Pendakian Gunung Murkele tidak sepopuler pendakian Gunung Binaiya. Meski demikian, pendakian Murkele tidak kalah dengan pendakian Binaiya. Banyak spot-spot yang tidak kalah indah dengan Gunung Binaiya. Jalur pendakian Gunung Murkele tersedia melalui Desa Selumena. Desa ini terletak di kaki Gunung Murkele.

Nama lain : Gunung Manusela
Elevasi : 2.750 mdpl
Lokasi : Maluku
Jenis : Non-volcano
Pengelola : Taman Nasional Manusela
Keistimewaan :
Jalur pendakian : Desa Selumena
Tempat Ikonik :
Puncak : Puncak Manusela
Lama pendakian : ?
Koordinat : 3°14’10.1″S 129°35’16.3″E
Level pendakian : sulit

Baca Juga : Gunung Wurlali & Gunung TNS (Teon-Nila-Serua)

Maps

GUNUNG BINAIYA (3.027 MDPL)

Gambar Puncak Gunung Binaiya Maluku
c:@dio.anggaraa

GUNUNG BINAIYA (3.027 MDPL)
Di Provinsi Maluku

Gunung Binaiya merupakan stratovolcano tipe B yang terletak di Pulau Seram dan masuk dalam administratif Kabupaten Maluku Tengah. Gunung Binaiya memiliki ketinggian 3.027 mdpl sekaligus menjadikannya yang tertinggi di Provinsi Maluku. Kawasan Gunung Binaiya masuk dalam kawasan konservasi Taman Nasional Manusela (TNM).

PENDAKIAN
Jalur pendakian Gunung Binaiya memiliki banyak jalur, di antaranya adalah melalui Desa Kanikeh di sisi utara gunung. Jalur Kanikeh merupakan jalur yang populer. Kemudian ada pula jalur melalui pintu TNM di Desa Piliana. Jalur yang satu ini melalui sisi selatan gunung.

Sebelum melakukan pendakian, biasanya akan dilakukan ritual oleh ketua adat setempat. Jika melalui jalur Desa Kanikeh, maka kita akan melewati beberapa spot bernama Waiansela, Waihuhu, dan Waipuku. Terdapat beberapa sumber air berupa aliran sungai pada jalur tersebut. Jika melalui jalur pintu TNM, kita akan melewati spot bernama Yamitala, Aimoro, Highcamp, dan juga Isilali. Melalui jalur tersebut kita akan bertemu dengan kawasan pepohonan palem dan juga beberapa kawanan rusa. Rata-rata pendakian total hingga turun adalah 2-4 hari.

PUNCAK
Puncak Gunung Binaiya bernama Puncak Siale dan Puncak Telewa. Kawasan puncak adalah lahan berbatu dan terjal, serta banyak ditumbuhi tumbuhan perdu.

Nama lain : Binaia, Binaija, Mutiara Nusa Ina
Elevasi : 3.027 mdpl
Lokasi : Maluku
Jenis : Stratovolcano Tipe B
Pengelola : Taman Nasional Manusela (TNM).
Keistimewaan : Gunung Tertinggi di Provinsi Maluku
Jalur pendakian : Desa Kanikeh, Desa Piliana
Tempat Ikonik : Waiansela, Waihuhu, Waipuku, Yamitala, Aimoro, Highcamp, Isilali
Puncak : Puncak Siale dan Puncak Telewa
Lama pendakian : 2-4 hari
Koordinat : 3°10’25.9″S 129°27’18.9″E
Level pendakian : sulit

Baca Juga : Gunung Wurlali & Gunung Murkele

Maps

GUNUNG WANGGAMETI (1.225 MDPL)

Gambar Gunung Wanggameti
c:@tyasthuwel

GUNUNG WANGGAMETI (1.225 MDPL)
Di Provinsi Nusa Tenggara Timur

Gunung Wanggameti memiliki elevasi 1.225 mdpl dan menjadi gunung tertinggi di Pulau Sumba, NTT. Secara administratif, Gunung Wanggameti masuk dalam kawasan Kecamatan Matawi Lapau dan Kecamatan Karera, Kabupaten Sumba Timur.

Gunung Wanggameti merupakan gunung non-volcano yang terdiri dari bukit-bukit yang di dalamnya terdapat beberapa puncak antara lain: Puncak Nggiku, Puncak Kuang, Puncak Halawala, dan masih banyak lagi lainnya.

Gunung Wanggameti merupakan main system bagi kehidupan di Sumba Timur. Sungai besar seperti Sungai Kambaniru, Sungai Ananjaki, dan Sungai Parrunggading berhulu di Gunung Wanggameti. Karena kawasan yang sangat luas dan memiliki keanekaragaman hayati yang lengkap dan khas Pulau Sumba, maka kawasan Gunung Wanggameti dijadikan sebagai kawasan konservasi dan dinamakan Taman Nasional Laiwangi-Wanggameti (TNLW). TNLW sendiri mencakup wilayah Kecamatan Tabundun, Kecamatan Paberiwai, dan Kecamatan Pinu Pahar. TNLW memiliki kawasan Hutan Elfin yang khas dan terdapat pula pohon kayu Ai Marra, yaitu pohon tempat tinggal bagi burung kakak tua. TNLW memiliki 176 spesies burung dan salah satu yang paling khas adalah Burung Kakak Tua. Terdapat 22 spesies mamalia, 115 spesies kupu-kupu, dan 29 spesies reptil. Selain itu terdapat juga air terjun yang eksotis di antaranya yakni Air Terjun Laputi, Air Terjun Waikanabu, dan Air Terjun Wanggameti.

Bagi masyarakat Sumba, mereka mengeramatkan tiga lokasi yakni Wanggameti, Tanadaru, dan Yawilla. Ketiga lokasi tersebut dianggap menjadi pelindung di Pulau Sumba. Nama “Wanggameti” sendiri memiliki arti yakni “Menghalau kematian”. Arti kata tersebut bermakna; alam memberikan pangan, air, tanaman obat, kayu untuk membangun tempat tinggal sehingga manusia dapat bertahan hidup (menghalau kematian).

Masyarakat setempat memiliki ritual “Kalarat Wai”, yakni sembahyang di pusat-pusat sumber air. Orang-orang Sumba mayoritas memiliki kepercayaan Karapu, yakni memuji kebesaran alam. Karena mengeramatkan sumber-sumber air, maka nama-nama ibukota kabupaten di Pulau Sumba pada awalannya diberi kata “wai” yang artinya “sumber air”. Misalnya; Waingapu, Waikabukak, Waibakul, Waitabula, dan lainnya.

Ada festival “Wai Humba”, yakni membangun komitmen dari masyarakat sekitar untuk menolak aktivitas pengalihan lahan seperti pembangunan maupun pertambangan. Ekosistem TNWL adalah kawasan luas yang terdiri dari savana, hutan pegunungan rendah, hutan hujan, dan kawasan pantai.

Ada sebuah kisah yang menceritakan bahwa dahulu ada segerombolan orang yang menebangi pohon di Hutan Wanggameti. Lalu datang sekor burung berwarna putih bernama “Kulla Kanubu”. Burung tersebut mengeluarkan suara “Whuuu.. whuuu” sehingga gerombolan penebang pohon tersebut lari ketakuan. Kejadian tersebut membuat orang-orang tidak lagi berani menebangi pohon sembarangan. Burung tersebut diyakini sebagai burung kakak tua yang memang hidup di Hutan Wanggameti.

PENDAKIAN
Pendakian Gunung Wanggameti bisa melalui Desa Nangga, Desa Wanggametei, dan juga Dataran Tinggi Katikuwai. Namun yang paling populer adalah melalui gerbang masuk TNWL. Langkah awal untuk mencapai gerbang masuk TNWL yakni harus melalui jalan terjal berupa savana yang panjang. Kemudian dari pos TNWL kita akan ditemani oleh guide yang berpengalaman. Selanjutnya pendakian akan menyusuri hutan dan hanya berjarak sekitar 7 km kita akan mencapai puncak tertinggi Wanggameti.

PUNCAK
Puncak Gunung Wanggameti adalah berupa lahan sempit yang masih rimbun akan pepohonan. Terdapat papan penanda puncak di sana. Tidak terlihat pemandangan sekitar karena lebatnya pepohonan yang ada.

Nama lain :
Elevasi : 1.225 mdpl
Lokasi : Nusa Tenggara Timur
Jenis : Non-volcano
Pengelola : Taman Nasional Laiwangi-Wanggameti (TNLW)
Keistimewaan : Gunung tertinggi di Pulau Sumba
Jalur pendakian : Desa Nangga, Desa Wanggametei, dan Dataran Tinggi Katikuwai
Tempat Ikonik : Air Terjun Laputi, Air Terjun Waikanabu, dan Air Terjun Wanggameti.
Puncak : Puncak Nggiku, Puncak Kuang, Puncak Halawala, Puncak Wanggameti
Lama pendakian : 1-2 hari
Koordinat : 10°07’02.7″S 120°14’10.7″E
Level pendakian : mudah

Baca Juga : Gunung Batutara & Gunung Labalekang

Maps