SUPERVOLCANO KRAKATOA (GUNUNG KRAKATAU PURBA)

GUNUNG KRAKATAU PURBA ILUSTRASI
C: Kean Collection/Getty Images

SUPERVOLCANO KRAKATAU
Sebuah catatan kuno di Kerajaan Jawa bernama “Pustaka Raja Purwa”, pada 416 Masehi mengisahkan tentang sebuah gunung bernama Batuwara telah meletus dan memuntahkan abu vulkanik dan gelombang tsunami dahsyat hingga menenggelamkan Gunung Rajabasa (adalah gunung di Lampung Selatan).

Berdasarkan Teks Jawa kuno tersebut banyak yang berpendapat bahwa Pulau Sumatera dan Pulau Jawa dulunya adalah satu kesatuan hingga terjadi letusan hebat Gunung Batuwara (dianggap sebagai Gunung Krakatau Purba) dan menjadikan keduanya terpisah. Letusan tersebut memecah Gunung Krakatau menjadi sebuah selat yang sekarang bernama Selat Sunda, dan tiga pulau: Pulau Rakata (Krakatau), Pulau Panjang, dan Pulau Sertung. Pulau Rakata adalah yang terbesar dan memiliki tiga gunung yakni Gunung Perbuwatan, Gunung Danan, dan Gunung Krakatau (baru).

Teks Jawa Kuno tersebut juga mencatat letusan-letusan lain pada tahun 850, 950, 1050, 1150, 1320, 1530.

Bertahun kemudian, Mei 1883, Gunung Krakatau bergejolak dan mengalami erupsi kecil. Banyak orang yang ingin melihat kejadian tersebut. Mereka menikmati letupan-letupan lava yang tersembur kecil dari Puncak Krakatau. Bahkan sampai dibuat sebuah festival guna menikmati pemandangan tersebut. Namun, mereka tidak mengetahui akan ada bencana maha dahsyat yang akan datang beberapa waktu ke depan.

buku 199 gunung

Tanggal 26 Agustus 1883, Gunung Krakatau meletus lebih besar dari sebelum-sebelumnya yakni menyemburkan abu vulkanik setinggi 24 km. Namun pada titik ini belum memengaruhi kondisi alam dan sosial masyarakat.

Akhirnya, 27 Agustus 1883 pukul 10 pagi, Gunung Krakatau meletus hingga membuat orang tuli. Letusannya terdengar hingga wilayah Perth di Benua Australia bagian barat daya, sampai Pulau Rodrigues dekat Afrika. Gunung ini juga membawa serta gelombang tsunami setinggi 40 meter yang menghancurkan wilayah Sumatera pesisir selatan dan Banten. Bahkan gelombang tsunami kecil-nya sampai di wilayah perairan Hawaii yang jaraknya sejauh 75.000 km. Awan panas dan debu vulkanik membumbung setinggi 80 km dan turut menghancurkan segala yang ada di bawahnya, sekaligus membuat matahari tak terlihat keesokan harinya. Abu vulkanik bahkan sampai di Amerika dan Eropa.

Letusan Krakatau 1883 menjadi tragedi alam terburuk pada era manusia modern, dimana kejadian tersebut telah tercatat secara baik. Bencana tersebut menewaskan sekitar 36.000 jiwa, tsunami yang terjadi meratakan semua wilayah di pesisir Sumatera bagian selatan dan pesisir Banten.

Sebenarnya letusan Krakatau ini tidak sedahsyat dengan letusan dua gunung purba lainnya di Indonesia yakni Gunung Samalas di Lombok dan Gunung Tambora di NTB, namun kedua gunung tersebut meletus dimana belum berlangsung peradaban manusia modern, dan tidak meninggalkan catatan yang lengkap dari manusia.

Letusan Krakatau telah memusnahkan peradaban Arabia Selatan, Kota Maya, Tika, dan Nazca. Manusia yang berada di dekatnya, bahkan pulau-pulau kecil akan tersapu tsunami dan terbakar awan panas.

Letusan Krakatau memuntahkan muatan berupa debu dan batu vulkanik sebesar 1 juta ton per detik dan membuat temperatur global turun selama 10-20 tahun setelahnya. Letusannya itu pun terhitung sama dengan 21.574 kali letusan bom atom Hiroshima-Nagasaki atau 3 kali kekuatan bom hidrogen Rusia, Tsar Bomba. Setelah letusan itu berakhir, tiga pulau sebelumnya menjadi tidak utuh. Menyisakan Pulau Rakata (Separo), Pulau Sertung, dan Pulau Panjang (Rakata Kecil).

Empat puluh tahun berselang, 1927 muncul sebuah gundukan yang kemudian menjadi sebuah gunung baru bernama “Anak Krakatau”. Gunung baru ini bertambah tinggi sekitar 6 meter dan lebar 12 meter per tahunnya. Hal ini disebabkan adanya aktivitas lava di dalamnya yang mendorong ke atas.

Anak Krakatau inilah yang diramalkan akan kembali meletus seperti ibunya beratus hingga beribu tahun ke depan. Letusan Krakatau diperingati dengan sebuah event “Krakatau” di Lampung.

Beberapa hal mengerikan akibat letusan Krakatau pada tahun 1883:
– Tsunami setinggi 40 meter
– Suara dentuman terdengar hingga Perth, Australia
– Getaran terasa hingga Benua Eropa
– Abu vulkanik mencapai Benua Amerika
– Tsunami kecil mencapai perairan Hawaii yang jauhnya 75.000 km dari Krakatau
– Ledakannya setara dengan 21.574 kali letusan bom atom Hiroshima-Nagasaki atau 3 kali bom hidrogen Rusia, Tsar Bomba
– Temperatur global turun selama 10-20 tahun setelahnya

Nama lain : Mount Krakatoa, Gunung Batuwara, Gunung Kapa
Elevasi : ± 2000 mdpl, ± 850 mdpl
Lokasi : Selat Sunda, Lampung

  • 92%
    - 92%
  • 100%
    - 100%
  • 100%
    - 100%
  • 94%
    - 94%
  • 98%
    - 98%
  • 100%
    - 100%
97.3%
Sending
User Review
0 (0 votes)