GUNUNG KELIMUTU (1.639 MDPL)
Di Provinsi Nusa Tenggara Timur

Gunung Kelimutu adalah sebuah gunung api berjenis kompleks dan bertipe A. Terdapat sumber-sumber vulkanik yang tersebar di beberapa titik. Secara administratif, Gunung Kelimutu terletak di Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, NTT. Gunung ini berketinggian 1.639 mdpl dan tercatat meletus terakhir kali yakni pada tahun 1968. Sejak tahun 1830 hingga 1996 tercatat adanya aktivitas vulkanik yang bergejolak di gunung ini. Namun sekarang tingkat keaktifannya sangat minim, sehingga Gunung Kelimutu ini bisa dibilang aman untuk pendakian. Gunung Kelimutu berjenis gunung kompleks. Terdapat beberapa puncak di area Gunung Kelimutu yakni Gunung Kelido dan Gunung Kelibara (terpisah). Puncak Gunung Kelimutu yang terdiri dari tiga danau kawah adalah hasil bentukan dari letusan dahsyat Gunung Api Purba bernama Sokoria Purba.

Spot paling utama dan menjadi spot menarik di Gunung Kelimutu ialah puncaknya yang memiliki tiga buah danau kawah. Oleh sebab itulah masyarakat lebih sering menyebut Gunung Kelimutu dengan “Danau Kelimutu”. Tiga danau kawah Kelimutu terisi air yang memiliki warna berbeda-beda, kemudian atas keunikan inilah danau kawah Kelimutu selanjutnya dijuluki sebagai “Danau Tiga Warna”. Warna dasar ketiga danau tersebut adalah biru, merah, dan putih. Nama “Kelimutu” sendiri memiliki arti “Gunung mendidih”. Keindahan danau tiga warna Kelimutu diabadikan dalam uang kertas lima ribu rupiah keluaran tahun 1992.

Ketiga danau kawah tersebut memiliki cerita legenda yang diceritakan turun-temurun oleh masyarakat sekitar. Dahulu kala, di puncak gunung hidup dua orang yang sakti. Mereka bernama Ata Polo dan Ata Bupu. Ata Polo adalah sosok jahat yang memangsa manusia. Sedangkan Ata Bupu adalah sosok kakek tua yang baik hati. Keduanya memiliki kesaktian yang sama. Suatu saat datang dua anak kecil kepada Ata Bupu. Mereka meminta Ata Bupu untuk mengasuh mereka, karena orangtua mereka telah tiada. Ata Bupu menerimanya. Kemudian datanglah Ata Polo ke tempat Ata Bupu dan mencium bau manusia, lantas Ata Polo hendak memangsanya. Namun dihadang oleh Ata Bupu. Ata Bupu membuat sebuah kesepakatan dengan Ata Polo, yakni Ata Polo boleh memangsa dua anak manusia tersebut ketika mereka telah dewasa. Ata Polo pun menyanggupinya dan kemudian pergi. Bertahun-tahun berlalu, kedua anak tersebut tumbuh dewasa. Mereka diberi nama Ko’ofai (gadis muda) dan Nuwa Muri (laki-laki muda). Mereka berdua pamit kepada Ata Bupu untuk pergi dan bermukim di gua. Suatu ketika datanglah Ata Polo menagih janji, namun tidak ditemukan kedua manusia yang hendak dimangsanya itu. Ata Polo marah besar. Terjadilah pertarungan sengit antara Ata Polo dan Ata Bupu. Ata Bupu yang sudah tua akhirnya kalah dan menghilang ke dalam bumi. Kemudian, Ata Polo yang semakin marah justru termakan oleh kekuatannya sendiri dan ikut pula lenyap ke dalam bumi. Ko’ofai dan Nawa Muri yang tinggal di gua turut tenggelam ke dalam bumi akibat kekuatan yang dahsyat itu. Tempat menghilangnya Ata Bupu berubah menjadi danau kawah putih, tempat menghilangnya Ata Polo menjadi danau kawah merah, dan tempat menghilangnya Ko’ofai dan Nawa Muri menjadi danau kawah biru.

PENDAKIAN

Kawasan Gunung Kelimutu dijadikan sebagai wilayah konservasi yang dinamakan Taman Nasional Kelimutu (TNK). Cara untuk menuju puncak danau kawah yakni dengan menuju pintu masuk TNK yang terletak di Desa Moni, Kecamatan Kelimutu. Pendakian menuju puncak terbilang mudah, karena sudah disediakan trek berupa anak tangga dengan pembatas kanan-kiri. Kemudian dilanjutkan dengan trek berbatu.

Kawasan kaki Gunung Kelimutu adalah berupa hutan pinus, hutan cemara, dan kayu merah. Ada pula wisata pemandian air panas di kawasan Gunung Kelimutu. Berada di sekitar kawasan danau sudah ada berbagai fasilitas berupa losmen, toilet, pondok, warung, dan resto. Hal tersebut membuktikan bahwa pemerintah setempat telah memaksimalkan potensi wisata di Gunung Kelimutu.

buku 199 gunung

Masalah lain yang timbul yakni berkaitan dengan kebersihan. Para wisatawan maupun pedagang kadang masih membuang sampah sembarangan. Hal tersebut tentunya menjadi masalah yang perlu ditangai segenap pengampu kepentingan di sana.

Hukum adat setempat melarang jual beli tanah di kawasan sekitar Kelimutu. Hal tersebut menjadi komitmen masyarakat setempat untuk menjaga kelestarian kawasan Gunung Kelimutu. Kawasan hutan Kelimutu dihuni mayoritas oleh monyet, babi hutan, dan rusa.

PUNCAK

Puncak Gunung Kelimutu terdiri dari tiga buah danau legendaris. Danau warna biru bernama “Tiwu Nuwa Muri Ko’ofai” yakni artinya “Danau Pemuda dan Gadis”. Danau biru tersebut memiliki kedalaman 127 meter. Danau warna merah bernama “Tiwu Ata Polo” yang artinya “Danau Orang Jahat”. Danau merah tersebut memiliki kedalaman 64 meter. Dan danau warna putih dinamakan “Tiwu Ata Bupu” yang artinya “Danau orang tua baik”. Kedalamannya mencapai 67 meter.

Antara danau kawah dibatasi oleh dinding batu yang sempit dan tipis dengan ketinggian 50-150 meter. Warna dari danau kawah tersebut kadang berubah-ubah menjadi coklat tua, hijau muda, dan hitam. Perubahan warna tersebut akibat pengaruh dari aktivitas gunung api di dalam gunung, pembiasan cahaya matahari, mikrobiota air, zat kimia terlarut, gangga dan pantulan warna dinding dan dasar danau. Penelitian lain mengungkapkan bahwa perubahan warna danau disebabkan oleh aktivitas proses geokimia di dasar danau yang menghasilkan zat kimia dan mengubah warna air. Ada mitos yang berkembang di tengah masyarakat, yakni perubahan warna Danau Kelimutu dipengaruhi oleh kondisi politik nasional. Jika sedang ‘adem’ maka warna danau adalah biru, namun jika sedang ‘panas’ maka warna danau menjadi merah.

Ada ritual pemberian sesaji jika terjadi perubahan warna air danau. Ada pula festival “Pati Ka” yaitu ritual memberi makan kepada leluhur di Gunung Kelimutu.

DESKRIPSI GUNUNG

Nama lain : Danau Kelimutu, Danau Tiga Warna, Tiwu Kelimutu
Elevasi : 1.639 mdpl
Lokasi : Nusa Tenggara Timur
Jenis : Volcano Kompleks Tipe A
Pengelola : Taman Nasional Kelimutu (TNK)
Keistimewaan : Gunung dengan tiga danau kawah yang memiliki warna air berbeda-beda
Jalur pendakian : Desa Moni
Tempat Ikonik :
Puncak : Tiga Danau Kawah Kelimutu
Lama pendakian : 30 menit – 1 jam
Koordinat : 8°46’08.1″S 121°49’19.2″E
Level pendakian : mudah

Baca Juga : Gunung Uye Lewun & Gunung Ile Ape

Maps