GUNUNG TAMBORA (2.850 MDPL)
Di Provinsi Nusa Tenggara Barat

Gunung Tambora adalah sebuah gunung yang terletak di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Gunung Tambora memiliki kaldera terbesar di Indonesia yakni dengan luas sekitar 2800 hektar dan kedalaman mencapai 600-700 meter. Gunung Tambora merupakan gunung api dengan sejarah letusan superdahsyat yang bisa diingat manusia. Beberapa gunung di Indonesia memang memiliki riwayat letusan yang lebih hebat dari Tambora namun waktu terjadinya letusan-letusan tersebut adalah ratusan tahun dan ribuan tahun silam. Satu-satunya letusan terhebat yang terjadi pada era mulainya peradaban manusia modern adalah letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883, namun letusan Krakatau kalah telak dari letusan Tambora. Letusan Tambora diperkirakan 4 kali lebih dahsyat dari letusan Krakatau. Letusan Tambora sendiri terjadi pada 1815 terpaut 68 tahun dari letusan Krakatau.

Gunung Tambora juga merupakan satu-satunya supervolcano di Indonesia yang meninggalkan bukti letusan besar yang tak terbantahkan yakni berupa kalderanya yang super besar.

Gunung Tambora Purba memiliki ketinggian sekitar 4.300 mdpl dan berbentuk strato. Tambora diteliti telah meletus sebanyak 3 kali jauh sebelum Masehi dan bertahap merubah kontur dari Gunung Tambora itu sendiri. Kemudian tidak pernah meletus kembali dalam jangka waktu yang sangat lama. Hingga pada 1812 Tambora mulai menggeliat dan terdengar gemuruh namun tidak meletus. Puncaknya yakni April 1815, Gunung Tambora meletus dahsyat dengan kekuatan mencapai 7 VEI. Letusannya terdengar hingga Sumatera yang jaraknya mencapai 2600 km. Masyarakat di Jawa bahkan mendengar letusan Tambora seperti bunyi meriam. Abu vulkanik tersebar sejauh 1300 km mencapai Kalimantan, Jawa, dan Sulawesi.

Kegelapan total tersebar sejauh 600 km selama dua hari. Aliran piroklastik berupa batu panas bercampur magma tersebar sejauh 20 km. Pohon-pohon tumbang tersebar di lautan hingga membentuk koloni sepanjang 5 km. Gelombang tsunami setinggi 2-4 meter mencapai Jawa Timur dan Maluku. Asap vulkanik membumbung setinggi 43 km mencapai lapisan stratosfer paling atas. Kematian jiwa mencapai angka 71.000 dimana 11-12 ribu adalah kematian langsung. Jumlah tersebut berpotensi lebih besar mengingat pada waktu itu pengukuran dampak bencana belum semaju sekarang. Dampak global yang dirasakan dunia adalah terjadi di tahun berikutnya yakni 1816. Tahun 1816 dikenal sebagai “A Year without Summer” atau “Tahun Tanpa Musim Panas”.

Sejarah Inggris mencatat pada “A Year without Summer” terjadi kegelapan di langit Inggris. Terjadi perubahan iklim yang menyebabkan gagal panen dan berdampak pada kelaparan global. Kelaparan di Benua Eropa menyebabkan serangkaian penyakit, salah satunya adalah penyakit tifus.

Letusan Tambora juga dijuluki sebagai “Pompeii dari Timur” (Pompeii adalah sebuah peradaban Romawi kuno yang lenyap seketika diterjang lahar dari letusan Gunung Api Vesuvius). Letusan Tambora juga melenyapkan sebuah peradaban, yakni Kerajaan Tambora dan Kerajaan Pekat. Sebuah penelitian menemukan sisa-sisa perabotan dari sebuah peradaban di kaki Gunung Tambora yang jaraknya sejauh 25 km. Beberapa juga ditemukan kerangka manusia. Temuan-temuan tersebut mengemukakan kesimpulan bahwa ada sebuah peradaban yang lenyap berbarengan dengan letusan dahsyat Gunung Tambora.

Setelah 1815, terjadi beberapa aktivitas vulkanik kembali, namun tidak besar, yakni pada tahun 1819, 1880 serta 1967. Sejak itu Gunung Tambora tidak tercatat aktivitas vulkanik yang berbahaya. Pendakian pertama Gunung Tambora pasca letusan 1815 dilakukan oleh Heinrich Zollinger (ahli Botani dari Swis) yakni pada tahun 1846.

Gunung Tambora kini berketinggian 2.850 mdpl dan masih dalam kategori gunung api aktif. Aktivitas vulkanik ada di dasar kaldera namun hanya berupa kepulan asap.

PENDAKIAN

Gunung Tambora secara administratif terletak di Kabupaten Dompu, NTB. Pendakian gunung ini tidak sepopuler Gunung Rinjani di Lombok. Namun jika melihat sejarahnya maka kita harus mendaki gunung ini. Jalur pendakian Gunung Tambora cukup jelas dan ada pos pendakiannya. Jalur yang tersedia adalah Jalur Desa Pancasila (barat laut), dan Jalur Desa Doro Mboha (tenggara). Jalur Desa Pancasila adalah jalur yang paling populer. Pendakian untuk mencapai basecamp dimulai dengan berjalan kaki ataupun bisa pula dengan jasa ojek. Perjalanan dari basecamp menuju pintu rimba kemudian dimulai trekking pendakian. Lereng gunung didominasi kebun kopi, lalu semakin ke atas adalah vegetasi hutan yang cukup rapat. Tiap-tiap pos terdapat shelter atau pondok. Beberapa satwa liar yang sering terlihat adalah babi hutan. Pendakian Gunung Tambora memakan waktu 1-2 hari.

PUNCAK

Puncak Tambora berupa tebingan kaldera di ketinggian 2.850 mdpl. Terdapat patok dan bendera di Puncak Tambora. Terlihat sepanjang mata memandang adalah kaldera raksasa Gunung Tambora. Berada di dalam kaldera tersebut tersebar kawah-kawah yang jumlahnya mencapai 20 kawah. Kawah-kawah tersebut di antaranya bernama Kawah Tahe, Kawah Molo, Kawah Doro Api Toi, dan lainnya.

LEGENDA TAMBORA

Dahulu kala di Pulau Sumbawa terdapat sebuah kerjaan bernama Kerajaan Tambora. Tanahnya subur dan hasil perkebunan melimpah karena lokasi kerajaan berada di kaki sebuah gunung. Kerajaan Tambora dipimpin oleh Raja yang bernama Rangga Mandara. Di sisi selatan kerajaan Tambora berdiri pula sebuah kerajaan bernama Kerjaan Pekat. Di sisi utara sampai timur juga berdiri beberapa kerajaan lain yakni Aga, Cempaka, dan Sanggar.

Kerajaan Tambora semakin ramai karena posisinya yang strategis dan berdekatan dengan pantai. Suatu saat, datang sebuah kapal dan turun dari kapal tersebut rombongan bersurban dan berbaju putih. Rombongan tersebut berasal dari Makassar dan Sumatera. Barang-barang yang dibawa rombongan tersebut berupa kain. Masyarakat kerajaan Tambora tampak senang dan melakukan transaksi barter dengan rombongan tersebut.

Beberapa waktu kemudian, masyarakat setempat mulai heran karena rombongan berbaju putih tersebut kerap kali melakukan ibadah dimana saat beribadah selalu dipimpin oleh satu orang yang berdiri di depan. Rombongan tersebut melakukannya sebanyak lima kali dalam sehari. Pemimpin rombongan tersebut bernama Kyai Saleh. Karena ketertarikan masyarakat setempat, maka Kyai Saleh mulai menceritakan perihal ibadah dan agama baru yang dianutnya. Salah satu yang diajarkan kepada masyarakat adalah larangan untuk memakan daging babi dan daging anjing.

Suatu saat, berita kedatangan Kyai Saleh dan rombongannya terdengar oleh Raja Tambora. Raja kemudian mengundang Kyai Saleh untuk datang ke istana. Kyai Saleh pun datang memenuhi panggilan tersebut. Kyai Saleh menceritakan tentang agama baru yang dibawanya dan ajaran untuk tidak memakan daging babi dan anjing kepada raja. Raja merasa kekuasaannya diusik. Hingga pada suatu hari, raja dan para menterinya mengadakan kenduri dan mengundang Kyai Saleh dan rombongannya untuk mencicipi masakan berupa daging rusa, kerbau, dan di dalamnya dicampuri dengan daging anjing. Tanpa pemberitahuan mengenai hal itu sebelumnya, Kyai Saleh dan rombongannya pun memakan hidangan tersebut. Raja bertanya kepada Kyai Saleh “Apakah masakan dagingnya enak?”. Kyai Saleh pun menjawah “Enak yang mulia”. Raja dan para menterinya lalu tertawa terbahak-bahak. Mereka baru mengatakan bahwa yang Kyai Saleh dan rombongannya santap itu sebenarnya adalah daging anjing. Kyai Saleh murka, dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa supaya kerajaan tersebut dilenyapkan berserta isinya. Lalu Kyai Saleh dan rombongannya pun pergi meninggalkan kerajaan dan sampailah mereka pada sebuah teluk.

Pada kemudian hari, gunung yang berada di dekat kerajaan Tambora tiba-tiba meletus sangat besar dan tak pernah terbayangkan manusia. Dunia menjadi gelap. Lahar panas meluncur dari puncak gunung. Gempa yang terjadi menimbulkan gelombang besar bernama tsunami. Seketika kerajaan kaya raya yang subur bernama Kerajaan Tambora itu lenyap tertimbun muatan lava dan batu panas dari gunung di dekatnya. Gunung tersebut kini bernama Gunung Tambora. Tambora sendiri memiliki arti “Ajakan untuk menghilang”. Sedangkan teluk dimana Kyai Saleh menuju kini bernama “Teluk Saleh”.

Ada beberapa cerita legenda lain yang berkaitan dengan Gunung Tambora. Legenda-legenda tersebut mengisahkan alur cerita yang mirip, yakni tentang tokoh Islam yang dizalimi dan juga berkaitan dengan hewan anjing.

DESKRIPSI GUNUNG

Nama lain : Tomboro
Elevasi : 2.850 mdpl
Lokasi : NTB
Jenis : Stratovolcano Tipe A
Pengelola : Pemerintah NTB
Keistimewaan : Kaldera terbesar di Indonesia
Jalur pendakian : Desa Pancasila, dan Desa Doro Mboha
Tempat Ikonik : Kawah Tambora
Puncak : Puncak Tambora
Lama pendakian : 1-2 hari
Koordinat : 8°15’58.4″S 117°57’58.8″E
Level pendakian : sedang

Baca Juga : Gunung Rinjani & Gunung Sangeang

Maps