GUNUNG BATU DAYA (1.116 MDPL)

GUNUNG BATU DAYA (1.116 MDPL)
Di Provinsi Kalimantan Barat

Gunung Batu Daya adalah gunung yang berada di Ketapang, Kalimantan Barat. Gunung ini adalah sebuah batu raksasa dan bukan seperti gunung pada umumnya yang berteksturkan tanah melainkan seluruhnya adalah batu. Gunung ini berdekatan dengan salah satu aset alam yang berharga lainnya di Kalimantan Barat, yakni Gunung Palung. Keduanya sama-sama masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP). Gunung Batu Daya lokasi lengkapnya berada di antara perbatasan Kecamatan Laor dan Kecamatan Sukadana (Kab. Ketapang), Simpang Hilir, Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Nama Batu Daya bukan tanpa silsilah atau sejarahnya. Ada mitos yang menceritakan bahwa nama tersebut berasal dari sebuah batu kecil yang membesar menjadi sebesar gunung. Tapi itu hanya sekadar mitos dan kepercayaan masyarakat setempat. Nama “Batu Daya” sendiri menurut penduduk yakni memiliki pengertian ‘batu yang memperdaya’. Pasalnya pada lokasi pandang tertentu, jika dilihat dari tempat yang berbeda maka terlihat bentuk yang berbeda pula pada gunung tersebut. Bila kita berlayar dari Pontianak atau Pulau Karimata, maka Bukit Batu Daya ini tampak menonjol pada gugusan Gunung Palung, karena bentuknya yang kokoh bersegi seperti gantang, yaitu takeran padi. Namun bentuk yang paling populer yakni bentuk menyerupai sebuah punggung unta. Oleh sebab itu Batu Daya dijuluki juga dengan “Bukit Unta” atau “Tebing Unta”.

LEGENDA

Gunung Batu Daya juga memiliki cerita legenda yang berkembang di tengah masyarakat. Dahulu ada sebuah keluarga yang hanya terdiri dari ibu dan satu anaknya saja yang masih berumur 3 tahun. Anak itu bernama Daya. Keluarga itu tinggal di sebuah kampung di Kalimantan Barat. Suami ibu itu sudah lama meninggal sehingga ibu itu harus hidup berdua saja dengan anaknya yang masih kecil. Setiap melakukan pekerjaan dan pergi dari rumah, ibu itu selalu membawa anaknya. Suatu ketika si ibu hendak mencuci pakaian di sungai. Ia pun membawa turut serta anaknya. Sesampainya di tepian sungai, ibu itu meletakkan anaknya yang masih kecil di atas sebuah batu yang cukup besar dan atasnya berbentuk datar sehingga bisa untuk duduk dan meletakkan cuciannya yang banyak. Ibu itu pun disibukkan dengan urusan mencucinya sampai ia lupa untuk memperhatikan anaknya. Anaknya pun lantas memanggil si ibu “Mak…junjung batu!!” lalu ia menjawab “Ya..”, sekali lagi anak itu memanggil “Mak..junjung batu!!” kembali si ibu menjawab “Ya!” hingga beberapa kali anak itu memanggil ibunya namun si ibu sedang sibuk dengan cuciannya. Lama kelamaan suara anak tersebut semakin kecil dan menghilang, barulah si ibu sadar kalau ia benar-benar dipanggil anaknya. Lantas ia menoleh ke belakang dan betapa kagetnya ibu itu ketika melihat batu tempat anaknya duduk telah berubah menjadi batu yang teramat besar bahkan sebesar gunung. Dan anaknya pun tak terlihat batang hidungnya lagi. Kemudian gunung itu dijuluki gunung “Batu Daya”. Penduduk sekitar memiliki kepercayaan bahwa Gunung Batu Daya adalah gunung keramat. Oleh sebab itu setiap tahun rutin diadakan ritual untuk mempertahankan budaya kepercayaan tersebut.

PENDAKIAN

Bagi para pemanjat tebing atau rock climber, nama Gunung Batu Daya sudah tidak asing lagi. Si Unta ini menjadi lokasi yang sangat menawan bagi para pemanjat tebing. Namun di balik semua itu ternyata Tebing Unta ini dibilang sangat ekstrim dan bahaya. Tercatat beberapa pemanjat tewas akibat terjatuh saat memanjat. Tahun 1987 Ekspedisi Wanadri menyelesaikan pemanjatan Tebing Bukit Batudaya dan tahun 1998 Ekspedisi UKL UNPAD kehilangan satu anggotanya, Yanto Martogi Sitanggang yang tewas terjatuh dari Bukit Batu Daya. Kemudian pemanjat tebing dari UI juga meninggal akibat terjatuh.

Tahun 2012, Pemanjat tebing asal Jepang Ryosuke Obhu (25) dan Kenichiro Kosaka (24), keduanya juga mencoba memanjat Tebing Unta tersebut namun gagal mencapai puncaknya. Baru pada tahun 2013 mereka berhasil menaklukan ketiga Puncak Batu Daya.

buku 199 gunung

DESKRIPSI GUNUNG

Nama lain : Bukit Batu Daya, Bukit Unta, Tebing Unta
Elevasi : 499 mdpl
Lokasi : Kalimantan Barat
Jenis : Monolit
Pengelola : Taman Nasional Gunung Palung (TNGP)
Keistimewaan : Favorit bagi para pemanjat tebing
Jalur pendakian :
Tempat Ikonik :
Puncak : Puncak Batu Daya
Lama pendakian : 1 hari
Koordinat : 1°00’39.2″S 110°19’47.9″E
Level pendakian : sulit

Baca Juga : Gunung Kelam & Gunung Bawang

Maps