GUNUNG SEMERU (3.676 MDPL)
Di Provinsi Jawa Timur

Gunung Semeru adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa sekaligus gunung tertinggi ke-4 di Indonesia. Gunung ini adalah sebuah stratovolcano tipe A yang masih aktif dan memiliki kawah yang meletuskan asap. Puncak Gunung Semeru bernama Mahameru yakni menjadi tanah tertinggi di Jawa. Sedangkan di sampingnya terdapat sebuah kawah yang rutin meletus tiap 15-30 menit sekali, kawah tersebut bernama Jonggring Saloko.

Berdasarkan catatan sejarah, dahulu Puncak Semeru berketinggian 3.744 mdpl, namun terjadi letusan yang kemudian meruntuhkan puncak tertingginya tersebut dan meninggalkan Kawah Jonggring Saloko. Kemudian Puncak Mahameru menjadi puncak tertinggi semeru dengan ketinggian 3.676 mdpl. Gunung Semeru sendiri secara administratif masuk dalam kawasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang.

Sebagai upaya menjaga kelestarian alam, pendakian Gunung Semeru dibatasi hanya 500 pendaki per harinya. Tiga bulan dalam setahun, Gunung Semeru akan ditutup untuk pendakian dan akan dilakukan reboisasi sekaligus mendiamkan Semeru untuk merevitalisasi diri. Gunung Semeru sendiri masuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dan merupakan kawasan dengan kunjungan wisatawan terbanyak di Jawa.

PENDAKIAN

Jalur pendakian Gunung Semeru yang paling populer adalah melalui Jalur Desa Ranu Pani yang berada di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Desa Ranu Pani sendiri adalah berupa daratan tinggi karena elevasinya yang mencapai ketinggian 2.200 mdpl. Kawasan Ranu Pani memiliki dua danau yang cukup terkenal yakni Danau Ranu Pani dan Danau Ranu Regulo. Jalur lain untuk pendakian Semeru yakni Jalur Ayek-Ayek, namun pada dasarnya jalur ini sama dengan Jalur Ranu Pani karena akan sama-sama bertemu di Ranu Kumbolo.

Trek pendakian di awal adalah berupa hutan pinus dan cemara. Banyak trek landai dan secara umum pendakian masih terasa ringan. Kemudian sampai pada spot paling favorit di pendakian Gunung Semeru, yakni Ranu Kumbolo. Ranu Kumbolo adalah cekungan di salah satu bagian Gunung Semeru yang berisi air sehingga terbentuk sebuah danau. Ranu Kumbolo terletak di ketinggian 2.400 mdpl. Selanjutnya kita akan bertemu dengan spot paling dicari mitosnya, yakni “Tanjakkan Cinta”. Konon siapa yang mendaki tanjakkan tersebut sambil memikirkan seseorang dan tanpa menoleh ke belakang sampai tanjakan berakhir, maka seseorang yang dibayangkan tersebut akan menjadi seperti apa yang diinginkan. Berjalan terus, lalu kita akan bertemu spot favorit selanjutnya yakni sebuah padang Bunga Lavender yang sangat luas yang dinamakan “Oro-Oro Ombo”. Jika kita mendaki Semeru pada awal musim kemarau, maka kita bisa menjumpai Bunga Lavender yang khas dengan warna ungunnya tersebut. Sekeliling padang Lavender adalah gunung-gunung kecil, salah satunya yakni Gunung Klopo. Kemudian, setelah itu, kita akan menjumpai hutan pohon cemara yang disebut “Cemoro Kandang”. Setelah itu sampailah kita pada pos terakhir sebelum summit attack berupa lapangan yang cukup luas bernama “Kalimati” yang terletak di ketinggian 2.700 mdpl. Sekeliling Kalimati banyak ditumbuhi Pohon Cemara, dan ada sumber air yang bernama “Sumber Mani”. Umumnya summit attack dimulai dini hari sekali yaitu sekitar pukul 01.00 wib. Perjalanan selanjutnya adalah menuju Arcopodo. Arcopodo adalah lokasi terakhir sebelum pendakian puncak, atau lokasi batas vegetasi. Arcopodo terletak di ketinggian 2.900 mdpl. Setelah Arcopodo adalah lahan pasir tanpa tumbuhan. Pendakian puncak memerlukan waktu 3-4 jam dengan melewati trek paling berbahaya di Semeru yakni trek yang sangat sangat terjal, berpasir, dan berbatu.

buku 199 gunung

PUNCAK

Titik terakhir adalah Puncak Mahameru 3.676 mdpl. Suhu di Mahameru adalah 4-10 derajat celcius. Para pendaki dibatasi untuk tidak berada di Puncak Mahameru di atas jam 10 siang karena dikhawatirkan akan ada gas beracun dari kawah Jonggring Saloko yang terbawa angin.

Arcopodo adalah spot terakhir sebelum Puncak Mahameru. Telah ditemukan dua buah arca kembar pada 1980-an di lokasi tersebut dan mungkin itulah alasan dinamakan Arcopodo. Ada spekulasi yang menyatakan bahwa arca tersebut adalah patung tokoh wayang Bima, yang mana Bima adalah tokoh penolak bala. Sehingga dapat katakan arca tersebut diletakkan sebelum Puncak Mahameru sebagai penolak bencana yang bisa ditimbulkan Mahameru. Spekulasi lain juga menyatakan bahwa arca tersebut adalah patung tokoh Kala dan Anakula yang diletakkan sebagai penjaga gerbang menuju puncak suci, tanah tertinggi di Jawa, Mahameru.

Masyarakat Bali menganggap Gunung Semeru sebagai bapak dari Gunung Agung. Hal ini berkaitan erat dengan kepercayaan masyarakat Hindu Bali yang memiliki hubungan dengan masyarakat Hindu di Tengger.
Tiap tahun sekali diadakan ritual Unan-Unan oleh masyarakat Ranu Pani sebagai ucapan rasa syukur.

SOE HOK GIE

Desember 1969, delapan orang pendaki yang berasal dari Jakarta melakukan pendakian menuju Mahameru. Mereka adalah Soe Hok Gie, Herman Lantang, Abdurachman (Maman), Anton Wijaya (Wiwiek), Idhan Dhanvantari Lubis, Freddy Lodewijk Lasut, Aristides Katoppo (Tides), dan Rudy Badil.

Soe Hok Gie adalah mahasiswa UI yang sangat terkenal di Ibukota sebagai aktivis yang menentang pemerintahan Order Lama dan PKI. Ia juga seorang pendiri Mapala UI sekaligus pelopor organisasi Mapala dan juga menjadi legenda aktivis di Indonesia. Sedangkan Idhan Lubis adalah mahasiswa tingkat semester awal dari Universitas Tarumanegara.

Saat itu, kedelapan orang tersebut tengah turun dari Puncak Mahameru untuk menuju Arcopodo. Saat itu sore hari dan terjadi badai. Terlihat Idhan Lubis terduduk dan tak bergerak. Begitupun Soe Hok Gie. Mereka telah meninggal. Sontak ketujuh orang lainnya kaget setelah mengetahui bahwa kedua teman mereka telah meninggal. Mereka pun memutuskan untuk menuju Arcopodo. Tides dan Wiwiek memutuskan untuk turun hingga ke Ranu Pani yang merupakan Desa terakhir sebelum pendakian Semeru, untuk mencari bantuan. Sedangkan lima lainnya bermalam di Arcopodo dengan perasaan kedinginan dan tidak bisa tidur. Sedangkan Soe Hok Gie dan Idhan Lubis telah ‘tidur’ di puncak sana. Berita meninggalnya Soe Hok Gie menghebohkan Ibukota Jakarta. Banyak tokoh yang bersimpati dan turut datang ke Semeru. Jenazah Soe Hok Gie dan Idhan Lubis baru bisa dievakuasi tujuh hari kemudian. Belakangan diketahui bahwa Soe Hok Gie dan Idhan menghirup gas beracun. Soe Hok Gie meninggal di umur 27 tahun minus 1 hari. Sedangkan Idhan Lubis meninggal di umur 20 tahun. Ada batu memoriam di sekitar Arcopodo sebagai penghormatan terhadap Soe Hok Gie dan Idhan Lubis.

Gunung Semeru sebagai Gunung tertinggi di Jawa memiliki legenda yang berkaitan erat dengan legenda gunung-gunung di Jawa.

Dewa Siwa melihat sebuah daratan yang terombang ambing di lautan. Daratan tersebut banyak ditumbuhi Pohon Jawawut, oleh sebab itu dinamakan ‘daratan Jawa’. Lalu diputuskanlah untuk membawa gunung dari daratan Himalaya (India) untuk ditancapkan di daratan Jawa tersebut. Dewa Wisnu berubah menjadi kura-kura dan Dewa Brahma berubah menjadi ular. Keduanya bersama membawa gunung dari India tersebut menuju Jawa. Potongan-potongan gunung terjatuh berjajar di daratan yang sekarang adalah Pulau Sumatera. Kemudian ditancapkan gunung di sisi timur Jawa, namun daratan tersebut masih bergoyang, lalu ditancapkan pula gunung di sisi barat, itu pun masih belum menstabilkan daratan tersebut, akhirnya ditancapkan lah gunung di tengah-tengah dan daratan Jawa pun menjadi stabil dan tidak lagi terombang ambil di lautan. Gunung di Tengah itu adalah Gunung Semeru.

DESKRIPSI GUNUNG

Nama lain : Gunung Meru, Sumeru, Meru Agung, Kailasa, Himawan
Elevasi : 3.676 mdpl
Lokasi : Jawa Timur
Jenis : Stratovolcano Tipe A
Pengelola : Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS)
Keistimewaan :
• Gunung tertinggi di Pulau Jawa
• Gunung tertinggi keempat di Indonesia
• Gunung api tertinggi ketiga di Indonesia
Jalur pendakian : Ranu Pani, Ayek-Ayek
Tempat Ikonik : Mahameru, Jonggring Saloko, Ranu Kumbolo, Kalimati, Arcopodo, Oro-Oro Ombo, Cemoro Kandang Semeru
Puncak : Mahameru
Lama pendakian : 2-4 hari
Koordinat : 8°06’29.2″S 112°55’21.8″E
Level pendakian : sulit

Baca Juga : Gunung Ijen & Gunung Baluran

Maps