GUNUNG BAWAKARAENG (2.883 MDPL)

Gambar Puncak Gunung Bawakaraeng
c: @alvienktazthyck

GUNUNG BAWAKARAENG (2.883 MDPL)
Di Provinsi Sulawesi Selatan

Gunung Bawakaraeng adalah sebuah gunung yang terletak di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Gunung Bawakaraeng menjadi sumber air bagi kehidupan di Kabupaten Gowa, dan beberapa wilayah lain di sekelilingnya. Gunung Bawakaraeng memiliki ketinggian 2.883 mdpl, cukup tinggi untuk dijadikan sebagai objek pendakian gunung.

Nama “Bawakaraeng” memiliki arti “Mulut Tuhan”. Banyak penafsiran terkait penamaan tersebut, salah satunya yakni mengartikan Gunung Bawakaraeng adalah tempat untuk berdoa kepada Tuhan. Gunung Bawakaraeng disebut juga “Butta Toayya” yang artinya adalah “tanah yang dituakan”. Masyarakat setempat meyakini bahwa Gunung Bawakaraeng adalah tempat leluhur mereka sehingga perlu disakralkan atau dihormati.

Sebuah tradisi telah dijalankan turun-temurun oleh masyarakat kaki Gunung Bawakaraeng. Tradisi tersebut adalah “lebaran haji di Puncak Bawakaraeng”. Banyak komentar terkait tradisi tersebut. Ada yang mengatakan pengganti “haji” di Mekkah. Namun hal tersebut dibantah oleh masyarakat Bawakaraeng. Masyarakat SEtempat mengatakan bahwa penafsiran yang benar adalah “lebaran haji” atau “perayaan” saja. Setiap bulan Dzulhijjah atau bersamaan dengan pelaksanaan ibadah Haji di tanah suci, masyarakat kaki Gunung Bawakaraeng akan melakukan pendakian mencapai puncak. Kemudian, di puncak mereka akan melalukan sholat Idul Adha sebagai salah satu kegiatan yang disunahkan. Jika umat muslim umumnya menjalankan sholat tersebut di masjid, maka masyarakat Bawakaraeng menjalankannya di puncak gunung.

Gunung Bawakaraeng merupakan puncak gunung yang masuk dalam kawasan Pegunungan Lompobattang. Beberapa puncak lain yang masuk dalam kawasan pegunungan Lompobattang yakni: Gunung Lompobattang, Gunung Assuempolong, Gunung Kaca, Gunung Ko’bong, Gunung Baria, dan Gunung Porong. Bebepa satwa endemik Sulawesi juga terdapat di kawasan pegunungan tersebut, yakni anoa dan babirusa. Flora-flora yang juga banyak dijumpai yakni pinus, anggrek, dan juga lumut.

buku 199 gunung

PENDAKIAN
Jalur pendakian Gunung Bawakaraeng terletak di Desa Lembanna, Kecamatan Tinggi Moncong, atau sering dikenal dengan “Wisata Malino”. Posisi Desa Lembanna (1.400 mdpl) adalah di sisi barat laut Puncak Bawakaraeng. Selain itu ada alternatif jalur lain yakni melalui Jalur Tassoso (1.320 mdpl) yang terletak di sisi Timur Laur dari Puncak Bawakaraeng.

Jalur Lembanna adalah jalur yang paling populer. Pendakian membutuhkan waktu 2-3 hari untuk sampai di puncak dan turun kembali. Trek awal adalah kawasan perkebunan, dilanjutkan dengan kawasan hutan, dan selanjutnya trek bebatuan dengan vegetasi rendah.

PUNCAK
Puncak Gunung Bawakaraeng berupa lahan yang cukup luas dan terdapat pilar penanda puncak. Saat berada di puncak tersebut akan terlihat puncak Gunung Lompobattang. Gunung Bawakaraeng dan Gunung Lompobattan memang berdekatan, dan tak jarang pula pendakian dilanjutkan menuju Puncak Lompobattang (dan sebaliknya).

Ada sebuah kisah mistis yang terdapat di jalur pendakian Gunung Bawakaraeng dan kadung menjadi bumbu-bumbu pendakian. Cerita yang paling terkenal adalah tentang misteri Noni di Gunung Bawakaraeng. Tahun 1980 seorang wanita bernama Noni melakukan bunuh diri di Pos 3 Jalur Bawakaraeng. Ia menggantungkan diri pada sebuah pohon, diduga karena patah hati. Pohon tempat bunuh diri tersebut masih berdiri hingga sekarang dan menjadi ikon mistis bagi Pos 3. Ada pula kisah tentang meninggalnya 2 mahasiswa Universitas Hassanuddin di pos 5 akibat diterjang badai. Selain itu, ada sebuah lapangan yang diyakini sebagai pasar hantu, lapangan tersebut dijuluki “Pasar Anjaya”. Meski diliputi banyak kisah-kisah horor dan mitos, di sisi lain di bagian Bawakaraeng menyimpan sebuah keindahan. Terdapat sebuah danau yang tidak kalah indah dengan Danau Ranukumbolo di Gunung Semeru. Danau tersebut bernama Danau Tanralili. Berdekatan dengan Danau Tanralili, ada sebuah lembah yang luas yang dinamakan Lembah Ramma.

Ada orang yang tinggal sendirian di Gunung Bawakaraeng, tepatnya di dekat Lembah Ramma. Beliau adalah Tata Mandong, juru kunci Gunung Bawakaraeng sekaligus Gunung Lompobattang. Pria kelahiran 1938 tersebut bertugas menjaga hutan di Bawakaraeng. Setiap hari kegiatannya adalah memantau lingkungan di sekitar gunung, sembari mengembala sapi titipan para warga. Tahun 2004 lereng Gunung Bawakaraeng di pos 8 mengalami longsor hebat dan membuat kerusakan yang cukup parah.

Nama lain : Butta Toayya, Bulu Bawakaraeng
Elevasi : 2.883 mdpl
Lokasi : Sulawesi Selatan
Jenis : Non-volcano
Pengelola : Pemerintah Gowa
Keistimewaan :
Jalur pendakian : Desa Lembanna, Jalur Tassoso
Tempat Ikonik : Pasar Anjaya, Danau Tanralili, Lembah Ramma, Pos 3 Noni
Puncak :
Lama pendakian : 2-3 hari
Koordinat : 5°18’59.8″S 119°56’37.0″E
Level pendakian : sedang

Baca Juga : Gunung Lompobattang & Gunung Karua

Maps

  • 84%
    - 84%
  • 90%
    - 90%
  • 92%
    - 92%
  • 96%
    - 96%
90.5%
Sending
User Review
0 (0 votes)