Category Archives: NTT

GUNUNG LAKAAN (1.600 MDPL)

Gambar Gunung Lakaan Savana
c:@norman_rk

GUNUNG LAKAAN (1.600 MDPL)
Di Provinsi Nusa Tenggara Timur

Gunung Lakaan merupakan gunung keramat bagi masyarakat Suku Belu (masyarakat asli Pulau Timor bagian barat). Gunung Lakaan memiliki ketinggian 1.600 mdpl. Gunung ini teridentiikasi sebagai gunung api yang tidak aktif. Secara administratif, Gunung Lakaan masuk dalam kawasan Kecamatan Lamaknen Selatan, Kabupaten Belu, NTT.

Legenda tentang Gunung Lakaan mengisahkan bahwa dulu kala Pulau Timor masih berupa lautan lepas, kemudian muncul daratan pertama dan daratan itu adalah Puncak Lakaan. Suatu ketika turun seorang putri Dewata di Puncak Lakaan, putri Dewata tersebut bernama Laka Loro Kemesak. Kemudian ia melahirkan seorang anak. Anak tersebut lantas beranak pinak hingga menjadi sebuah suku. Berawal dari kisah itulah mengapa masyarakat suku setempat mengeramatkan Gunung Lakaan dan menjadikan gunung tersebut sebagai tempat nenek moyang mereka. Seratus meter sebelum mencapai puncak, diletakkan patung Maria sebagai simbolis bahwa Gunung Lakaan adalah tempat sakral dan menjadi tempat wisata religi bagi umat katolik.

Kaki Gunung Lakaan terdapat sebuah padang savana dengan rumput hijaunya yang membentang luas. Savana tersebut dinamakan Fulan Fehan. Berada di balik savana Fulan Fehan terdapat situs sejarah peninggalan masa kolonial yakni sebuah benteng yang dijuluki Benteng 7 Lapis Portugis. Berada di kawasan tersebut juga ada tempat yang dulunya adalah lokasi pemenggalan kepala.

PENDAKIAN
Pendakian Gunung Lakaan dapat dimulai dari Desa Dualasi-Raiulun. Trek pendakian berupa lahan terjal dengan vegetasi rendah. Jalur cukup jelas karena memang selain merupakan jalur pendakian umum, juga digunakan sebagai pendakian religi. Pendakian mencapai puncak Lakaan rata-rata memakan waktu 4-5 jam.

PUNCAK
Puncak Gunung Lakaan adalah punggungan gunung. Masih ditumbuhi banyak tumbuhan, namun tidak begitu lebat. Sekelilingnya terlihat hutan-hutan yang menyelimuti Gunung Lakaan.

Nama lain :
Elevasi : 1.600 mdpl
Lokasi : Nusa Tenggara Timur
Jenis : Volcano tidak aktif
Pengelola : Pemerintah Belu
Keistimewaan :
Jalur pendakian : Desa Dualasi-Raiulun
Tempat Ikonik : Fulan Fehan, Benteng 7 Lapis Portugis
Puncak : Puncak Lakaan
Lama pendakian : 4-5 jam
Koordinat : 9°06’25.1″S 125°03’39.3″E
Level pendakian : mudah

Baca Juga : Gunung Fatu Timau & Gunung Mutis

Maps

GUNUNG MUTIS (2.427 MDPL)

Gambar Padang Savana Gunung Mutis
c: @nyongbetty

GUNUNG MUTIS (2.427 MDPL)
Di Provinsi Nusa Tenggara Timur

Gunung Mutis adalah gunung tertinggi di Pulau Timor sekaligus juga tertinggi di Provinsi NTT yakni dengan ketinggian 2.427 mdpl. Gunung Mutis adalah non-volcano yang terletak di Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Gunung ini terkenal dengan batu marmernya atau yang sering disebut “Faut Kanaf”. Kawasan hutan Gunung Mutis sangat kaya akan keanekaragaman hayati. Flora dan fauna yang ada adalah khas wilayah Timor, misalnya saja Rusa Timor, Kuskus Timor, biawak, dan sanca.

Kawasan Gunung Mutis berupa bukit-bukit dengan puncak tertinggi di 2.427 mdpl. Tidak jauh dari kawasan Mutis, berdiri Gunung Fatu Timau. Keduanya berada pada satu kawasan serupa, oleh sebab itu kadang orang menyebut kedua gunung tersebut dengan nama Gunung Mutis-Timau.

Gunung Mutis menjadi sumber bagi Sungai Noel Mina dan Noel Benain yang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan di kawasan tersebut. Kawasan Mutis juga merupakan area dengan curah hujan tertinggi di Timor, oleh sebab itu tempat ini selalu basah dan menjadi sumber bagi daerah aliran sungai di sekitarnya.

Berada pada salah satu trek pendakian Gunung Mutis terdapat spot berupa kawasan Hutan Bonsai, dan juga kawasan Pohon Kayu Putih (untuk membuat minyak kayu putih). Selain itu kita juga bisa melihat kawanan sapi dan kuda liar di sana. Kelengkapan hayati tersebut menjadikan pendakian di Gunung Mutis layaknya sedang jalan-jalan di Eropa.

PENDAKIAN
Jalur pendakian Gunung Mutis tersedia melalui Desa Fatumnasi (bagian selatan), Desa Donleu (bagian timur), Wilayah Timur Tengah Utara (bagian utara), dan juga Lopo Mutis. Jalur-jalur yang populer adalah Desa Fatumnasi dan juga Lopo Mutis.

Pendakian dari Lopo Mutis hanya membuatuhkan 6 jam untuk sampai pada puncak tertinggi. Lopo Mutis adalah desa dengan penduduk yang masih tradisional. Rumah para penduduk bernama “Ume Kebubu”. Perjalanan awal kita akan menuju sebuah padang savana yang sangat indah yang bernama “Lelofui”. Di lokasi tersebut terdapat makam orang Belanda. Selanjutnya adalah perjalanan menuju puncak yang memakan waktu 3 jam.

PUNCAK
Terdapat dua puncak di Gunung Mutis. Puncak 2 adalah puncak yang akan dilalui dahulu. Terdapat sebuah batu penanda di sana. Kemudian berlanjut ke Puncak 1 sebagai puncak tertinggi Gunung Mutis. Terdapat tugu bertuliskan “Duta Teknik” sebagai penanda puncak tertinggi. Kawasan Puncak Mutis masih lebat akan pepohonan sehingga pemandangan ke luar sangat terbatas.

Nama lain : Moetis
Elevasi : 2.427 mdpl
Lokasi : Nusa Tenggara Timur
Jenis : Non-volcano
Pengelola : Pemerintah Timor Tengah Selatan
Keistimewaan :
• Gunung tertinggi di Pulau Timor
• Gunung tertinggi di NTT
Jalur pendakian : Desa Fatumnasi, Desa Donleu, Wilayah Timur Tengah Utara, dan Lopo Mutis
Tempat Ikonik : Lelofui
Puncak : Puncak 1, Puncak 2
Lama pendakian : 6 jam
Koordinat : 9°37’51.5″S 124°13’18.0″E
Level pendakian : mudah

Baca Juga : Gunung Fatu Timau & Gunung Lakaan

Maps

GUNUNG FATU TIMAU (1.774 MDPL)

Gambar Gunung Fatu Timau
c: @roy_riwu

GUNUNG FATU TIMAU (1.774 MDPL)
Di Provinsi Nusa Tenggara Timur

Gunung Fatu Timau adalah sebuah gunung tidak aktif yang berbentuk seperti piramida yang terletak di Kupang, NTT. Gunung ini berbentuk kerucut piramid dilihat dari sisi manapun. Gunung Fatu Timau memiliki ketinggian 1.774 mdpl.

Kaki Gunung Fatu Timau adalah kawasan hutan yang luas. Kawasan Hutan Fatu Timau merupakah salah satu yang terluas di Pulau Timor, NTT. Kawasan hutan tersebut terdiri dari savana-savana yang berbukit-bukit. Berada di kawasan Fatu Timau, kita bisa melihat tata surya dari segala penjuru. Hal ini ada kaitannya dengan bidang astronomi. Oleh sebab itu, pemerintah mencanangkan pembangunan pusat observasi Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) di kawasan ini. Jika pembangungan tersebut telah terealisasikan, maka itu adalah Pusat Observasi Antariksa terbesar di Asia Tenggara.

PENDAKIAN
Jalur pendakian Gunung Fatu Timau terletak di Kecamatan Amfoang Tengah, Kabupaten Kupang. Jalur untuk menuju titik pendakian terbilang cukup terjal. Pendakian mencapai puncak hanya membutuhkan 1,5 jam saja mengingat titik pendakian adalah berada di ketinggian 1.400 mdpl.

PUNCAK
Puncak Gunung Fatu Timau adalah lahan yang berbatu dan tidak ada tumbuhan. Ada pilar dari semen yang menandakan puncak tertinggi Gunung Fatu Timau. Berada di puncak akan terlihat pemandangan Gunung Mutis.

Nama lain :
Elevasi : 1.774 mdpl
Lokasi : Nusa Tenggara Timur
Jenis : Non-volcano
Pengelola : Pemerintah Kupang
Keistimewaan : Tempat melihat tata surya dari segala penjuru
Jalur pendakian : Amfoang Tengah
Tempat Ikonik :
Puncak : Puncak Fatu Timau
Lama pendakian : 1,5 -2 jam
Koordinat : 9°34’49.2″S 123°56’22.2″E
Level pendakian : mudah

Baca Juga : Gunung Mutis & Gunung Lakaan

Maps

GUNUNG WANGGAMETI (1.225 MDPL)

Gambar Gunung Wanggameti
c:@tyasthuwel

GUNUNG WANGGAMETI (1.225 MDPL)
Di Provinsi Nusa Tenggara Timur

Gunung Wanggameti memiliki elevasi 1.225 mdpl dan menjadi gunung tertinggi di Pulau Sumba, NTT. Secara administratif, Gunung Wanggameti masuk dalam kawasan Kecamatan Matawi Lapau dan Kecamatan Karera, Kabupaten Sumba Timur.

Gunung Wanggameti merupakan gunung non-volcano yang terdiri dari bukit-bukit yang di dalamnya terdapat beberapa puncak antara lain: Puncak Nggiku, Puncak Kuang, Puncak Halawala, dan masih banyak lagi lainnya.

Gunung Wanggameti merupakan main system bagi kehidupan di Sumba Timur. Sungai besar seperti Sungai Kambaniru, Sungai Ananjaki, dan Sungai Parrunggading berhulu di Gunung Wanggameti. Karena kawasan yang sangat luas dan memiliki keanekaragaman hayati yang lengkap dan khas Pulau Sumba, maka kawasan Gunung Wanggameti dijadikan sebagai kawasan konservasi dan dinamakan Taman Nasional Laiwangi-Wanggameti (TNLW). TNLW sendiri mencakup wilayah Kecamatan Tabundun, Kecamatan Paberiwai, dan Kecamatan Pinu Pahar. TNLW memiliki kawasan Hutan Elfin yang khas dan terdapat pula pohon kayu Ai Marra, yaitu pohon tempat tinggal bagi burung kakak tua. TNLW memiliki 176 spesies burung dan salah satu yang paling khas adalah Burung Kakak Tua. Terdapat 22 spesies mamalia, 115 spesies kupu-kupu, dan 29 spesies reptil. Selain itu terdapat juga air terjun yang eksotis di antaranya yakni Air Terjun Laputi, Air Terjun Waikanabu, dan Air Terjun Wanggameti.

Bagi masyarakat Sumba, mereka mengeramatkan tiga lokasi yakni Wanggameti, Tanadaru, dan Yawilla. Ketiga lokasi tersebut dianggap menjadi pelindung di Pulau Sumba. Nama “Wanggameti” sendiri memiliki arti yakni “Menghalau kematian”. Arti kata tersebut bermakna; alam memberikan pangan, air, tanaman obat, kayu untuk membangun tempat tinggal sehingga manusia dapat bertahan hidup (menghalau kematian).

Masyarakat setempat memiliki ritual “Kalarat Wai”, yakni sembahyang di pusat-pusat sumber air. Orang-orang Sumba mayoritas memiliki kepercayaan Karapu, yakni memuji kebesaran alam. Karena mengeramatkan sumber-sumber air, maka nama-nama ibukota kabupaten di Pulau Sumba pada awalannya diberi kata “wai” yang artinya “sumber air”. Misalnya; Waingapu, Waikabukak, Waibakul, Waitabula, dan lainnya.

Ada festival “Wai Humba”, yakni membangun komitmen dari masyarakat sekitar untuk menolak aktivitas pengalihan lahan seperti pembangunan maupun pertambangan. Ekosistem TNWL adalah kawasan luas yang terdiri dari savana, hutan pegunungan rendah, hutan hujan, dan kawasan pantai.

Ada sebuah kisah yang menceritakan bahwa dahulu ada segerombolan orang yang menebangi pohon di Hutan Wanggameti. Lalu datang sekor burung berwarna putih bernama “Kulla Kanubu”. Burung tersebut mengeluarkan suara “Whuuu.. whuuu” sehingga gerombolan penebang pohon tersebut lari ketakuan. Kejadian tersebut membuat orang-orang tidak lagi berani menebangi pohon sembarangan. Burung tersebut diyakini sebagai burung kakak tua yang memang hidup di Hutan Wanggameti.

PENDAKIAN
Pendakian Gunung Wanggameti bisa melalui Desa Nangga, Desa Wanggametei, dan juga Dataran Tinggi Katikuwai. Namun yang paling populer adalah melalui gerbang masuk TNWL. Langkah awal untuk mencapai gerbang masuk TNWL yakni harus melalui jalan terjal berupa savana yang panjang. Kemudian dari pos TNWL kita akan ditemani oleh guide yang berpengalaman. Selanjutnya pendakian akan menyusuri hutan dan hanya berjarak sekitar 7 km kita akan mencapai puncak tertinggi Wanggameti.

PUNCAK
Puncak Gunung Wanggameti adalah berupa lahan sempit yang masih rimbun akan pepohonan. Terdapat papan penanda puncak di sana. Tidak terlihat pemandangan sekitar karena lebatnya pepohonan yang ada.

Nama lain :
Elevasi : 1.225 mdpl
Lokasi : Nusa Tenggara Timur
Jenis : Non-volcano
Pengelola : Taman Nasional Laiwangi-Wanggameti (TNLW)
Keistimewaan : Gunung tertinggi di Pulau Sumba
Jalur pendakian : Desa Nangga, Desa Wanggametei, dan Dataran Tinggi Katikuwai
Tempat Ikonik : Air Terjun Laputi, Air Terjun Waikanabu, dan Air Terjun Wanggameti.
Puncak : Puncak Nggiku, Puncak Kuang, Puncak Halawala, Puncak Wanggameti
Lama pendakian : 1-2 hari
Koordinat : 10°07’02.7″S 120°14’10.7″E
Level pendakian : mudah

Baca Juga : Gunung Batutara & Gunung Labalekang

Maps

GUNUNG BATUTARA (P. KOMBA) (748 MDPL)

Gambar Gunung Batutara
c:@kebarekntt

GUNUNG BATUTARA (P. KOMBA) (748 MDPL)
Di Provinsi Nusa Tenggara Timur

Gunung Batutara merupakan gunung api aktif yang terletak di pulau kecil bernama Pulau Komba, sekitar 50 km dari Pulau Lembata, NTT. Karena keaktifan gunung yang intensif meletuskan lava dan muatan piroklastik serta luas pulau yang kecil, maka tidak ada masyarakat yang mendiami pulau tersebut. Jika dilihat dari kejauhan, atau dari dalam pesawat, Gunung Baturata lebih cocok disebut sebagai puncak gunung di tengah laut daripada sebuah pulau.

Gunung Batutara masuk dalam kategori stratovolcano tipe A. Gunung ini tercatat telah aktif sejak 1852, namun tidak diketahui kalau gunung ini pernah meletus. Hingga pada tahun 2007 akhir, terjadi letusan yang cukup mengagetkan masyarakat di Pulau Lembata. Pasalnya selama ini masyarakat lebih mengetahui kalau Batutara hanya sebuah gunung batu di tengah Laut Flores. Keaktifan Gunung Batutara berlanjut hingga tahun 2008. Seterusnya hingga kini, Gunung Batutara dikenal sebagai gunung api yang aktif meletus tiap 20 menit sekali. Potensi bahaya yang bisa ditimbulkan jika gunung ini meletus hebat yakni berupa gelombang tsunami dan awan panas. Meskipun Pulau Komba tidak berpenduduk, namun Pulau Lembata yang berpenghuni dan hanya berjarak 50 km patut menjadi perhatian.

PENDAKIAN
Pendakian Gunung Batutara hanya bisa dilakukan melalui punggungan gunung, atau bagian belakang pulau. Namun tentunya pendakian tidak bisa mencapai puncak dikarenakan gunung yang masih aktif meletus. Bagian belakang pulau ini kadang dijadikan spot para nelayan untuk singgah, sebagian lain menjadikan laut di sisi belakang Pulau Komba sebagai spot diving. Banyak terlihat burung-burung yang terbang dan hinggap di Pulau Komba. Hal ini mengingat Pulau Komba satu-satunya daratan yang bisa disinggahi oleh burung- burung tersebut.

Nelayan sekitar sering menyebut Batutara sebagai Pulau Hantu, atau ‘Pulau Suanggi’ dalam bahasa setempat. Banyak kisah misteri yang berdar di kalangan masyarakat Lembata yang menceritakan perihal kejadian banyaknya nelayan yang tengah melaut di perairan dekat Gunung Batutara hilang secara misterius dan tidak pernah ditemukan. Oleh sebab itu, kawasan Pulau Komba dianggap angker oleh masyarakat Lembata. Masyarakat Pulau Lembata memiliki kebijakan yang aneh, yakni peraturan untuk memisahkan makam bagi orang yang meninggal secara wajar dan yang meninggal secara tidak wajar. Hal ini erat kaitannya dengan nelayan-nelayan yang meninggal misterius di laut dekat Pulau Komba.

Nama lain : Gunung Hantu, Gunung Betar
Elevasi : 748 mdpl
Lokasi : Nusa Tenggara Timur
Jenis : Stratovolcano tipe A, Pulau Vulkanik
Pengelola : Pemerintah Lembata
Keistimewaan :
Jalur pendakian : Jalur Pulau Lembata
Tempat Ikonik :
Puncak : Puncak Batukaru
Lama pendakian : 3-4 jam
Koordinat : 7°47’25.1″S 123°35’07.2″E
Level pendakian : sulit

Baca Juga : Gunung Ile Labalekang & Gunung Ile Mandiri

Maps

GUNUNG SIRUNG (862 MDPL)

Gambar Puncak Kawah Gunung Sirung
c: @traval.co

GUNUNG SIRUNG (862 MDPL)
Di Provinsi Nusa Tenggara Timur

Gunung Sirung adalah sebuah gunung api kompleks bertipe A. Gunung ini memiliki ketinggian 862 mdpl dan terletak di Pulau Pantar, Kepulauan Alor, NTT. Gunung Sirung telah aktif sejak 1904. Tahun 2012 tercatat sebagai letusan terakhirnya. Setelah itu Gunung Sirung tidak terindikasi adanya aktivitas vulkanik lagi yang membahayakan. Bahkan Gunung Sirung dijadikan sebagai obyek wisata alam.

PENDAKIAN
Jalur pendakian Gunung Sirung terletak di Kampung Kakamauta, Desa Mauta , Kecamatan Pantar Tengah. Trek menuju Desa Mauta masih terjal karena memang lokasi desa yang berada di pelosok. Rumah-rumah warga juga adalah rumah tradisional yakni masih beratapkan ijuk. Pendakian di awal akan melewati kawasan hutan kayu putih, yakni populasi pohon yang kayunya berwarna putih (Melaleuca leucadendra).

PUNCAK
Puncak Gunung Sirung berupa kawah yang terisi air yang warnanya berubah-ubah. Warna-warna yang terjadi di Kawah Sirung adalah hijau tosca, hijau mint, hijau kebiruan, hijau keabuan. Ada beberapa lubang keluarnya sulfur. Kawah Gunung Sirung berbentuk seluas lapangan sepak bola dan airnya tidak terlalu dalam, terlihat pinggiran-pinggirannya masih kering dan datar. Kita bisa menuruni Kawah Sirung. Berada di puncak kawah akan terlihat pemandangan pantai yang indah.

Nama lain : Kawah Sirung
Elevasi : 862 mdpl
Lokasi : Nusa Tenggara Timur
Jenis : Stratovolcano Tipe A
Pengelola : Pemerintah Alor
Keistimewaan :
Jalur pendakian : Kampung Kakamauta
Tempat Ikonik :
Puncak : Kawah Sirung
Lama pendakian : 1-2 jam
Koordinat : 8°31’09.9″S 124°06’20.7″E dan 8°30’27.7″S 124°07’42.2″E
Level pendakian : wisata

Baca Juga : Gunung Batutara & Gunung Wanggameti

Maps

Maps