Category Archives: NTB

GUNUNG SANGEANG (SANGIANG API) (1.949 MDPL)

Gambar Gunung Sangian Api NTB
c: @expedisi_sangiang_api

GUNUNG SANGEANG (1.949 MDPL)
Di Provinsi Nusa Tenggara Barat

Gunung Sangeang atau Sangeang Api adalah sebuah gunung api tipe A yang terletak di Pulau Sangeang, NTB. Pulau Sangeang sendiri masuk dalam kawasan Kabupaten Bima. Gunung Sangeang memiliki ketinggian 1.949 mdpl dan menjadi satu-satunya gunung dalam sebuah pulau. Pulau Sangeang adalah pulau kecil dengan luas 153 km2. Gunung Sangeang tercatat meletus pada tahun 1512, 1988, 1989, 2012, dan terakhir pada Mei 2014.

Keberadaan gunung api di suatu pulau yang dikelilingi perairan ini memiliki kisah legenda yang harus dilestarikan. Kisah tersebut yakni tentang dua saudara yang telah terpisah lama. Dahulu ada sebuah kerajaan yang dipimpin oleh raja yang zalim. Tidak diperbolehkan ada bayi laki-laki di kawasan kerajaan. Suatu saat ada sepasang suami istri yang memiliki dua bayi laki-laki. Mengetahui peraturan tersebut, maka keduanya sepakat untuk pergi. Si suami pergi ke timur bersama satu bayinya, sedangkan si istri pergi ke barat bersama satu bayinya yang lain. Kedua bayi tersebut diberi masing-masing setengah batok kelapa dengan harapan suatu saat dapat saling berjumpa dan mengenali. Bertahun-tahun kemudian kedua bayi tersebut telah dewasa dan menjadi seorang kapten kapal. Mereka kemudian ditakdirkan kembali berjumpa. Namun mereka berdua berjumpa dalam kondisi saling berperang satu sama lain tanpa saling mengenal. Setelah semua awak kapal mati, dan menyisakan mereka berdua. Barulah keduanya menyadari bahwa mereka adalah saudara. Mereka melihat masing-masing setengah batok kelapa yang dibawanya. Akhirnya mereka pun berhenti berperang. Kemudian kapal mereka yang telah karam akibat peperangan berubah menjadi sebuah gunung yang bernama Gunung Sangeang.

PENDAKIAN
Hal pertama yang harus dilakukan untuk bisa mendaki Gunung Sangeang yakni menuju Pulau Sangeang. Perjalanan dari Kota Bima, kemudian dilanjutkan menuju daerah Wera, lalu diteruskan menuju pantai. Berada di pantai tersebut ada sebuah pos untuk pendakian atau Kantor Kepala Desa. Setelah pendaftaran, selanjutnya kita akan menyeberang menggunakan perahu mesin menuju Pulau Sangeang.

Pulau Sangeang dihuni oleh beberapa KK saja yang hidup dengan rumah panggung beratap rumbia. Telah ada beberapa pos pendakian yang dibuat khusus pendakian, yakni Pos Tengengeng, Pos Padang Ilalang, dan Pos Basecamp. Meski telah tersedia pos-pos pendakian, namun gunung ini masih jarang didaki oleh pendaki, karena memang lokasinya yang jauh dan kondisi gunung yang panas. Sedikit sekali tumbuhan maupun pohon yang ada di trek pendakian. Cuaca di gunung cenderung panas karena memang tidak jauh dari titik permukaan laut. Mungkin alasan tersebut menjadikan Gunung Sangeang dijuluki Gunung Sembilan Matahari.

PUNCAK
Puncak Gunung Sangeang ada dua yakni Doro Mantoi (1795 mdpl) dan Doro Api (1949 mdpl). Trek menuju puncak adalah trek gersang batu dan pasir. Jarak antar kedua Puncak Sangeang cukup jauh.

Nama lain : Sangeang Api, Sangiang, Sang Hyang, Gunung Sembilan Matahari
Elevasi : 1.949 mdpl
Lokasi : NTB
Jenis : Stratovolcano Tipe A, Pulau Vulkanik
Pengelola : Pemerintah Bima
Keistimewaan :
Jalur pendakian : Kaki gunung Sangeang
Tempat Ikonik :
Puncak : Doro Mantoi dan Doro Api
Lama pendakian : 1 hari
Koordinat : 8°11’49.6″S 119°04’10.8″E
Level pendakian : Sulit

Baca Juga : Bukit Pergasingan & Gunung Tambora

Maps

GUNUNG TAMBORA (2.850 MDPL)

Gambar Puncak Kaldera Gunung Tambora NTB
c: @budisatria7225

GUNUNG TAMBORA (2.850 MDPL)
Di Provinsi Nusa Tenggara Barat

Gunung Tambora adalah sebuah gunung yang terletak di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Gunung Tambora memiliki kaldera terbesar di Indonesia yakni dengan luas sekitar 2800 hektar dan kedalaman mencapai 600-700 meter. Gunung Tambora merupakan gunung api dengan sejarah letusan superdahsyat yang bisa diingat manusia. Beberapa gunung di Indonesia memang memiliki riwayat letusan yang lebih hebat dari Tambora namun waktu terjadinya letusan-letusan tersebut adalah ratusan tahun dan ribuan tahun silam. Satu-satunya letusan terhebat yang terjadi pada era mulainya peradaban manusia modern adalah letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883, namun letusan Krakatau kalah telak dari letusan Tambora. Letusan Tambora diperkirakan 4 kali lebih dahsyat dari letusan Krakatau. Letusan Tambora sendiri terjadi pada 1815 terpaut 68 tahun dari letusan Krakatau.

Gunung Tambora juga merupakan satu-satunya supervolcano di Indonesia yang meninggalkan bukti letusan besar yang tak terbantahkan yakni berupa kalderanya yang super besar.

Gunung Tambora Purba memiliki ketinggian sekitar 4.300 mdpl dan berbentuk strato. Tambora diteliti telah meletus sebanyak 3 kali jauh sebelum Masehi dan bertahap merubah kontur dari Gunung Tambora itu sendiri. Kemudian tidak pernah meletus kembali dalam jangka waktu yang sangat lama. Hingga pada 1812 Tambora mulai menggeliat dan terdengar gemuruh namun tidak meletus. Puncaknya yakni April 1815, Gunung Tambora meletus dahsyat dengan kekuatan mencapai 7 VEI. Letusannya terdengar hingga Sumatera yang jaraknya mencapai 2600 km. Masyarakat di Jawa bahkan mendengar letusan Tambora seperti bunyi meriam. Abu vulkanik tersebar sejauh 1300 km mencapai Kalimantan, Jawa, dan Sulawesi.

Kegelapan total tersebar sejauh 600 km selama dua hari. Aliran piroklastik berupa batu panas bercampur magma tersebar sejauh 20 km. Pohon-pohon tumbang tersebar di lautan hingga membentuk koloni sepanjang 5 km. Gelombang tsunami setinggi 2-4 meter mencapai Jawa Timur dan Maluku. Asap vulkanik membumbung setinggi 43 km mencapai lapisan stratosfer paling atas. Kematian jiwa mencapai angka 71.000 dimana 11-12 ribu adalah kematian langsung. Jumlah tersebut berpotensi lebih besar mengingat pada waktu itu pengukuran dampak bencana belum semaju sekarang. Dampak global yang dirasakan dunia adalah terjadi di tahun berikutnya yakni 1816. Tahun 1816 dikenal sebagai “A Year without Summer” atau “Tahun Tanpa Musim Panas”.

Sejarah Inggris mencatat pada “A Year without Summer” terjadi kegelapan di langit Inggris. Terjadi perubahan iklim yang menyebabkan gagal panen dan berdampak pada kelaparan global. Kelaparan di Benua Eropa menyebabkan serangkaian penyakit, salah satunya adalah penyakit tifus.

Letusan Tambora juga dijuluki sebagai “Pompeii dari Timur” (Pompeii adalah sebuah peradaban Romawi kuno yang lenyap seketika diterjang lahar dari letusan Gunung Api Vesuvius). Letusan Tambora juga melenyapkan sebuah peradaban, yakni Kerajaan Tambora dan Kerajaan Pekat. Sebuah penelitian menemukan sisa-sisa perabotan dari sebuah peradaban di kaki Gunung Tambora yang jaraknya sejauh 25 km. Beberapa juga ditemukan kerangka manusia. Temuan-temuan tersebut mengemukakan kesimpulan bahwa ada sebuah peradaban yang lenyap berbarengan dengan letusan dahsyat Gunung Tambora.

Setelah 1815, terjadi beberapa aktivitas vulkanik kembali, namun tidak besar, yakni pada tahun 1819, 1880 serta 1967. Sejak itu Gunung Tambora tidak tercatat aktivitas vulkanik yang berbahaya. Pendakian pertama Gunung Tambora pasca letusan 1815 dilakukan oleh Heinrich Zollinger (ahli Botani dari Swis) yakni pada tahun 1846.

Gunung Tambora kini berketinggian 2.850 mdpl dan masih dalam kategori gunung api aktif. Aktivitas vulkanik ada di dasar kaldera namun hanya berupa kepulan asap.

PENDAKIAN
Gunung Tambora secara administratif terletak di Kabupaten Dompu, NTB. Pendakian gunung ini tidak sepopuler Gunung Rinjani di Lombok. Namun jika melihat sejarahnya maka kita harus mendaki gunung ini. Jalur pendakian Gunung Tambora cukup jelas dan ada pos pendakiannya. Jalur yang tersedia adalah Jalur Desa Pancasila (barat laut), dan Jalur Desa Doro Mboha (tenggara). Jalur Desa Pancasila adalah jalur yang paling populer. Pendakian untuk mencapai basecamp dimulai dengan berjalan kaki ataupun bisa pula dengan jasa ojek. Perjalanan dari basecamp menuju pintu rimba kemudian dimulai trekking pendakian. Lereng gunung didominasi kebun kopi, lalu semakin ke atas adalah vegetasi hutan yang cukup rapat. Tiap-tiap pos terdapat shelter atau pondok. Beberapa satwa liar yang sering terlihat adalah babi hutan. Pendakian Gunung Tambora memakan waktu 1-2 hari.

PUNCAK
Puncak Tambora berupa tebingan kaldera di ketinggian 2.850 mdpl. Terdapat patok dan bendera di Puncak Tambora. Terlihat sepanjang mata memandang adalah kaldera raksasa Gunung Tambora. Berada di dalam kaldera tersebut tersebar kawah-kawah yang jumlahnya mencapai 20 kawah. Kawah-kawah tersebut di antaranya bernama Kawah Tahe, Kawah Molo, Kawah Doro Api Toi, dan lainnya.

LEGENDA TAMBORA
Dahulu kala di Pulau Sumbawa terdapat sebuah kerjaan bernama Kerajaan Tambora. Tanahnya subur dan hasil perkebunan melimpah karena lokasi kerajaan berada di kaki sebuah gunung. Kerajaan Tambora dipimpin oleh Raja yang bernama Rangga Mandara. Di sisi selatan kerajaan Tambora berdiri pula sebuah kerajaan bernama Kerjaan Pekat. Di sisi utara sampai timur juga berdiri beberapa kerajaan lain yakni Aga, Cempaka, dan Sanggar.

Kerajaan Tambora semakin ramai karena posisinya yang strategis dan berdekatan dengan pantai. Suatu saat, datang sebuah kapal dan turun dari kapal tersebut rombongan bersurban dan berbaju putih. Rombongan tersebut berasal dari Makassar dan Sumatera. Barang-barang yang dibawa rombongan tersebut berupa kain. Masyarakat kerajaan Tambora tampak senang dan melakukan transaksi barter dengan rombongan tersebut.

Beberapa waktu kemudian, masyarakat setempat mulai heran karena rombongan berbaju putih tersebut kerap kali melakukan ibadah dimana saat beribadah selalu dipimpin oleh satu orang yang berdiri di depan. Rombongan tersebut melakukannya sebanyak lima kali dalam sehari. Pemimpin rombongan tersebut bernama Kyai Saleh. Karena ketertarikan masyarakat setempat, maka Kyai Saleh mulai menceritakan perihal ibadah dan agama baru yang dianutnya. Salah satu yang diajarkan kepada masyarakat adalah larangan untuk memakan daging babi dan daging anjing.

Suatu saat, berita kedatangan Kyai Saleh dan rombongannya terdengar oleh Raja Tambora. Raja kemudian mengundang Kyai Saleh untuk datang ke istana. Kyai Saleh pun datang memenuhi panggilan tersebut. Kyai Saleh menceritakan tentang agama baru yang dibawanya dan ajaran untuk tidak memakan daging babi dan anjing kepada raja. Raja merasa kekuasaannya diusik. Hingga pada suatu hari, raja dan para menterinya mengadakan kenduri dan mengundang Kyai Saleh dan rombongannya untuk mencicipi masakan berupa daging rusa, kerbau, dan di dalamnya dicampuri dengan daging anjing. Tanpa pemberitahuan mengenai hal itu sebelumnya, Kyai Saleh dan rombongannya pun memakan hidangan tersebut. Raja bertanya kepada Kyai Saleh “Apakah masakan dagingnya enak?”. Kyai Saleh pun menjawah “Enak yang mulia”. Raja dan para menterinya lalu tertawa terbahak-bahak. Mereka baru mengatakan bahwa yang Kyai Saleh dan rombongannya santap itu sebenarnya adalah daging anjing. Kyai Saleh murka, dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa supaya kerajaan tersebut dilenyapkan berserta isinya. Lalu Kyai Saleh dan rombongannya pun pergi meninggalkan kerajaan dan sampailah mereka pada sebuah teluk.

Pada kemudian hari, gunung yang berada di dekat kerajaan Tambora tiba-tiba meletus sangat besar dan tak pernah terbayangkan manusia. Dunia menjadi gelap. Lahar panas meluncur dari puncak gunung. Gempa yang terjadi menimbulkan gelombang besar bernama tsunami. Seketika kerajaan kaya raya yang subur bernama Kerajaan Tambora itu lenyap tertimbun muatan lava dan batu panas dari gunung di dekatnya. Gunung tersebut kini bernama Gunung Tambora. Tambora sendiri memiliki arti “Ajakan untuk menghilang”. Sedangkan teluk dimana Kyai Saleh menuju kini bernama “Teluk Saleh”.

Ada beberapa cerita legenda lain yang berkaitan dengan Gunung Tambora. Legenda-legenda tersebut mengisahkan alur cerita yang mirip, yakni tentang tokoh Islam yang dizalimi dan juga berkaitan dengan hewan anjing.

Nama lain : Tomboro
Elevasi : 2.850 mdpl
Lokasi : NTB
Jenis : Stratovolcano Tipe A
Pengelola : Pemerintah NTB
Keistimewaan : Kaldera terbesar di Indonesia
Jalur pendakian : Desa Pancasila, dan Desa Doro Mboha
Tempat Ikonik : Kawah Tambora
Puncak : Puncak Tambora
Lama pendakian : 1-2 hari
Koordinat : 8°15’58.4″S 117°57’58.8″E
Level pendakian : sedang

Baca Juga : Gunung Rinjani & Gunung Sangeang

Maps

BUKIT PERGASINGAN (1.700 MDPL)

Bukit Pergasingan Lombok Sembalun
c: @stepenpen

BUKIT PERGASINGAN (1.700 MDPL)
Di Provinsi Nusa Tenggara Barat

Bukit Pergasingan berlokasi di Sembalun, Lombok Timur. Bukit ini adalah destinasi alternatif selain Gunung Rinjani. Banyak yang mengatakan Bukit Pergasingan adalah pemanasan sebelum mendaki Rinjani, ada pula yang mengatakan Bukit Pergasingan adalah destinasi pengganti bagi yang tidak kuat mendaki Rinjani namun ingin pemandangan yang tidak kalah dari Rinjani.

Bukit Pergasingan berketinggian 1.700 mdpl dan merupakan spot wisata gunung. Pendakian bukit ini hanya membutuhkan 2-3 jam saja. Meski pendakiannya sebentar, namun trek yang diberikan tidak kalah dengan Rinjani. Trek pendakian cukup terjal dan licin.

PENDAKIAN
Karena dijadikan spot wisata, dan telah terdapat pos pintu pendakian, maka kita tidak perlu kesusahan untuk mencari jalur pendakiannya. Kita hanya perlu menuju Pos Wisata Bukit Pergasingan Sembalun. Pendakian dimulai dengan melewaiti anak-anak tangga yang cukup banyak. Kemudian disusul trek tanah yang cukup terjal.

PUNCAK
Puncak Pergasingan merupakan tempat yang cukup luas. Oleh sebab itu kebanyakan pendaki akan bermalam dan mendirikan tenda di sini. Hal yang paling dicari dari pendakian Bukit Pergasingan adalah pemandangan sunset dan sunrise yang luar biasa. Selain itu pemandangan tak kalah mengagumkan yakni berupa persawahan kotak-kotak warna-warni Desa Sembalun. Di lain sisi Gunung Rinjani terlihat gagah dari puncak Bukit Pergasingan.

Nama lain : Bukit Pergasingan
Elevasi : 1.700 mdpl
Lokasi : Sembalun, Lombok
Jenis : Non-volcano
Pengelola : Sembalun Development Community Center
Keistimewaan :
Jalur pendakian : Sembalun
Tempat Ikonik :
Puncak : Puncak Pergasingan
Lama pendakian : 2-3 jam
Koordinat : 8°20’43.3″S 116°31’58.7″E
Level pendakian : mudah

Baca Juga : Gunung Tambora

Maps

GUNUNG RINJANI (3.726 MDPL)

Gambar Puncak Gunung Rinjani Lombok
c: @rezamaulanamalik

GUNUNG RINJANI (3.726 MDPL)
Di Provinsi Nusa Tenggara Barat

Gunung Rinjani adalah gunung tertinggi ketiga di Indonesia, dan juga menjadi Gunung Api tertinggi kedua setelah Gunung Kerinci di Jambi. Selain itu juga menjadi yang tertinggi di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Gunung Rinjani terletak di Pulau Lombok, NTB dan secara administratif masuk dalam kawasan Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Lombok Barat, dan Kabupaten Lombok Tengah. Gunung Rinjani masuk dalam kategori Gunung Api Maar dan bertipe A. Kawasan Gunung Rinjani dijadikan sebagai kawasan konservasi dan dinamakan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR).

Ada sebuah kaldera raksasa seluas 3500 x 4800 meter yang di dalamnya berisi sebuah danau bernama “Segara Anak” dan sebuah Gunung Api kecil bernama “Gunung Barujari”. Kaldera raksasa tersebut memanjang dari timur ke barat.

Danau Segara Anak memiliki luas 11.000 m2 dan kedalaman maksimum 230 meter. Air dari Segara Anak mengalir ke bawah gunung dan menghasilkan beberapa mata air dan juga air terjun. Berada di dalam danau tersebut terdapat banyak ikan mas dan mujair dan tak sedikit pendaki yang memancing dan menjadikan ikan-ikan tersebut sebagai santapan yang mantap.

Bagian selatan Segara Anak disebut dengan Segara Endut. Kemudian, di bagian timurnya berdiri Gunung Barujari atau disebut juga Gunung Tenga yang memiliki kawah berukuran 170 x 200 m dan elevasi 2.376 mdpl. Selain itu ada juga Gunung Mas atau Gunung Rombongan dengan elevasi 2.110 mdpl yang terletak tidak jauh dari Gunung Barujari. Kawah Gunung Barujari masih aktif mengeluarkan asap. Tercatat tahun 1994, 1996, 2004, 2009, dan terakhir 2015, Gunung Barujari meletus dan memuntahkan abu vulkanik.

Gunung Barujari mulai muncul yakni tahun 1944. Beberapa letusan Gunung Barujari tidak berdampak langsung, namun banjir lahar dingin yang disalurkan ke bawah gunung menjadi ancaman serius bagi masyarakat setempat. Rekahan jalur lahar membentuk sebuah tebing lembah yang dinamakan Kokok Putih. Kokok Putih sendiri kemudian disebut sebagai Sungai Kokok Putih. Selain itu pula aliran sungai lain yakni Sungai Batusantek.

Gunung Rinjani sendiri adalah sebuah gunung di sisi kaldera raksasa yang di dalamnya ada Segara Anak. Puncak Rinjani berbentuk kerucut dan terdapat kawah dan di salah satu sisinya tergerus sangat dalam dan mengarah ke Segara Anak. Gerusan itu dinamakan “Tapal Kuda”. Jika dilihat dari atas terlihat bentuknya mirip ‘tapal kuda’. Kemudian gerusan atau longsoran di salah satu sisi Gunung Rinjani tersebut menjadi semacam lautan pasir yang dijuluki “Segara Muncar”.

Segara Anak di kelilingi tebing-tebing curam dan lahan datar yang cukup luas. Lahan datar inilah tempat camp para pendaki. Banyak aktivitas yang bisa dilakukan oleh para pendaki. Selain memancing, pendaki juga bisa mandi di sumber air panas yang letaknya tidak jauh dari tempat camp Segara Anak. Ada pula beberapa gua yang disakralkan oleh masyarakat Rinjani, yakni Gua Susu, Gua Manik, dan Gua Payung. Gua Susu di dalamnya menetes air dari batu-batu yang bentuknya seperti puting susu oleh sebab itulah dinamakan Gua Susu. Gua Susu ini adalah tempat untuk bersemedi masyarakat setempat. Ada pula sumber air panas bernama Aik Kalak Pengkerman Jembangan. Air panas di lokasi tersebut memiliki tingkat panas yang berbeda-beda, hal ini disebabkan aliran air panas mengalir pada batuan yang membentuk anak tangga, sehingga tiap alirannya pada tiap anak tangga berbeda suhu panasnya. Sumber panas Aik Kalak ini digunakan untuk menyucikan benda-benda pusaka.

PENDAKIAN
Pendakian Gunung Rinjani paling populer adalah melalui Jalur Sembalun dan Jalur Senaru. Umumnya kedua jalur tersebut merupakan jalur naik-turun yang dijadikan satu paket pendakian. Jadi misalnya naik melalui Sembalun, maka turunnya lewat Senaru, atau sebaliknya. Jalur Sembalun memiliki karakteristik trek yang lebih landai dan panjang. Vegetasinya rendah dan berupa padang savana luas. Cuaca akan lebih panas namun sepanjang mata memandang adalah pemandangan yang luar biasa. Sedangkan Jalur Senaru adalah jalur yang lebih pendek, namun treknya didominasi trek menanjak.

Vegetasinya adalah kawasan hutan, sehingga cuaca lebih dingin. Kedua jalur tersebut, Sembalun dan Senaru, nantinya akan bertemu. Jalur Senaru memiliki trek yang dijuluki ‘Bukit Penyiksaan’, yakni trek naik-turun bukit yang sungguh menyiksa. Ada pula trek ‘Bukit Penyesalan’, yakni trek yang lebih menyiksa dari Bukit Penyiksaan sehingga pendaki seakan-akan merasa menyesal.

Jalur lain selain Sembalun dan Senaru adalah Jalur Torean, Jalur Timbanuh, serta Jalur Benang Stokel. Ketiga jalur tersebut adalah jalur tidak resmi. Jalur Torean adalah jalur yang berada di antara jalur Sembalun dan Senaru atau disebut juga jalur yang melewati rekahan kaldera, yakni melalui Kokok Putih. Sedangkan Jalur Timbanuh adalah jalur tebing yang sangat curam. Jalur ini disebut juga Jalur Selatan Rinjani. Jalur Timbanuh merupakan trek paling ekstrim dari semua jalur pendakian Gunung Rinjani. Kemudian, Jalur Benang Stokel adalah jalur yang baru dibuka dan masih minim informasi terkait jalur tersebut.

PUNCAK
Puncak Gunung Rinjani bernama Puncak Dewi Anjani. Pendakian summit attack menuju Puncak Dewi Anjani adalah trek dengan kontur batu berpasir yang sangat terjal. Jarak dari Segara Anak hingga puncak mencapai 700 meter. Sebelum mencapai puncak, biasanya para pendaki akan menginap di lokasi punggungan yang merupakan spot favorit untuk menikmati sunset, lokasi ini bernama Plawangan.

Dari Puncak Dewi Anjani, kita bisa melihat pemandangan Segara Anak dan Gunung Barujari. Melihat ke sisi lain nun jauh di sana ada Gunung Agung di Pulau Bali, dan Gunung Raung di Pulau Jawa. Sebaliknya di sisi berlawanan kita bisa melihat Gunung Tambora dengan kaldera besarnya.

Gunung Rinjani adalah gunung yang menjadi favorit para pendaki di Indonesia bahkan juga pendaki mancanegara. Selain dari spot alam yang sangat menakjubkan, mitos, legenda, sejarah asal usul Gunung Rinjani juga menjadi salah satu alasan lain mengapa banyak pendaki yang mau mendaki gunung ini.

Segara Anak di Gunung Rinjani menjadi gambar latar pada uang keras sepuluh ribu rupiah keluaran tahun 1998. Kawasan Wisata Gunung Rinjani juga memiliki banyak penghargaan dari dunia internasional yang berkaitan dengan wisata dan alam. Ada padang savana yang sangat indah di Jalur Sembalun, ada pula air terjun yang jumlahnya mencapai 20 buah, ada sumber air panas di beberapa tempat, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Beberapa spot unik yang ada di Gunung Rinjani antara lain:
– Bunut Ngengkang (Bunut = Beringin, Ngengkang = ngangkang), yaitu Pohon Beringin tinggi besar yang berbetuk seperti kaki yang mengangkang
– Montong Satas, yaitu Batu besar yang digunakan untuk orang duduk atau tiduran sembari mengingat-ingat kesalahan. Batu besar ini disebut juga “Batu Penyesalan”
– Sanggah Basong (Sanggah = Rusa, Basong = Anjing), yaitu binatang khas Rinjani berupa hewan rusa yang memiliki lima puting susu seperti Anjing. Dan juga bau hewan ini mirip anjing.
– Kali Mantong, yaitu buah straberry khas Gunung Rinjani
– Sandar Nyawa, yaitu nama sebutan bagi bunga Edelweis
– Segara Anak, adalah danau di bawah Puncak Rinjani. Segara artinya “Lautan”, sedangkan Anak, diartikan sebagai “miniatur”.

Masyarakat Sasak (suku asli Gunung Rinjani dan Pulau Lombok), khususnya yang tinggal di kaki Gunung Rinjani memberikan suatu penghormatan kepada Gunung Rinjani dengan cara menghadapkan rumah-rumah mereka ke arah Gunung Rinjani. Masyarakat Sasak mayoritas beragama Islam, dan sebagian kecil lain adalah hindu yang dibawa dari Bali. Masyarakat Hindu Rinjani mempunyai sebuah tradisi yakni Ritual Mulam Pakelem, yakni ritual menenggelamkan sesembahan ke Danau Segara Anak.

Bagi masyarakat muslim Lombok, Gunung Rinjani dianggap sebagai tempatnya para wali (gaib) dan tempat berdirinya kerajaan jin islam. Ada masjid yang tak kasat mata di kawasan Gunung Rinjani.
Nama ‘Rinjani’ memiliki kisah asal-usul yang cukup panjang, yakni berkaitan dengan Legenda Gunung Rinjani itu sendiri. Ada beberapa versi, pertama adalah Legenda Dewi Rinjani dan kedua adalah Legenda Dewi Anjani.

DEWI RINJANI
Dahulu, di Lombok ada seorang raja bernama Datu Tuan, dan istrinya bernama Dewi Mas. Pasangan tersebut tidak memiliki Anak. Lantas, Raja Datu Tuan memohon untuk menikah lagi, dan Dewi Mas merestuinya. Datu Tuan pun menikah lagi dengan seorang perempuan bernama Putri Sanggar Tutul. Namun, Dewi Mas, istri pertama si raja justru hamil tak terduga. Raja pun senang. Namun Putri Sanggat Tutul selaku istri muda tak senang dengan keadaan tersebut, lantas ia membuat sebuah konspirasi dengan mengatakan bahwa Dewi Mas telah berselingkuh dengan rakyat bernama Lok Deos. Raja percaya, dan mengusir Dewi Mas dalam keadaan mengandung. Dewi Mas pergi ke Pulau Bali dan melahirkan anak kembar laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki dinamakan Raden Nuna Putra Janjak, yang perempuan dinamakan Dewi Rinjani. Yang laki-laki mempunyai keris, dan yang perempuan mempunyai anak panah. Kedua anak tersebut tumbuh dewasa dan menjadi sakti. Suatu hari, Raden Nuna yang telah dewasa mengetahui perihal diusirnya ibundanya oleh raja yang juga ayahnya. Ia pun pergi ke Lombok untuk bertemu raja. Singkat cerita, raja menyesali perbuatannya yang dulu, lalu mengundang Dewi Mas dan anak-anaknya tinggal di kerajaan. Kemudian Raden Nuna naik tahta menjadi Raja. Suatu ketika Datu Tuan dan anak perempuannya, Dewi Rinjani, pergi ke gunung untuk bertapa. Namun hal aneh terjadi, Dewi Rinjani menghilang dan dijadikan ratu oleh kerajaan gaib. Dialah ratu di Gunung Rinjani.

DEWI ANJANI
Dewi Anjani adalah anak dari Resi Gotama dan Dewi Windradi. Ia memiliki saudara bernama Suwarsa (Subali) dan Guwa Resi (Sugriwa). Dewi Windradi, ibunya, telah berhubungan gelap dengan Bhatara Surya. Demi menutupi kenyataan tersebut, Bhatara Surya memberikan pusaka sakti “Cupumanik Astagina” kepada Dewi Windradi dan memerintahkannya untuk tidak memberitahu siapapun bahkan kepada anaknya sendiri. Namun Dewi Windradi justru memberikan pusaka tersebut kepada anak tercintanya, Dewi Anjani. Suatu saat Dewi Anjani sedang mencoba pusaka pemberian ibunya tersebut, lantas tak disengaja saudara-saudaranya melihat pusaka tersebut. Singkat cerita, semua rahasia perselingkuhan Dewi Windradi dan pusaka sakti terbongkarlah sudah. Resi Gotama murka dan mengutuk Dewi Windradi menjadi batu. Dan ketiga anaknya pun turut dikutuk, mereka dikutuk menjadi kera. Suatu ketika, Bhatara Guru sedang lewat di atas telaga dan ia melihat Dewi Anjani (kera) berperawakan kurus dan kering. Dilemparkanlah ‘daun sinom’ supaya dimakan Dewi Anjani. Deni Anjani memakannya dan hamil. Dari kehamilan itu lahirlah sosok kera putih bernama Hanoman. Dalam kisah ini Dewi Anjani menjadi ikon Gunung Rinjani dan dijadikan sebagai nama puncak tertinggi Gunung Rinjani.

Nama lain : Anjani
Elevasi : 3.726 mdpl
Lokasi : NTB
Jenis : Stratovolcano Tipe A
Pengelola : Sembalun Development Community Center, Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR)
Keistimewaan :
• Gunung tertinggi ketiga di Indonesia
• Gunung api tertinggi kedua di Indonesia
• Gunung tertinggi di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
Jalur pendakian : Sembalun, Senaru, Torean, Timbanuh, dan Benang Stokel
Tempat Ikonik : Kokok Putih, Tapal Kuda, Segara Muncar, Gunung Baru Jari, Segara Anak, Bukit Penyiksaan, Bukit Penyesalan, Plawangan
Puncak : Puncak Dewi Anjani
Lama pendakian : 2-4 hari
Koordinat : 8°24’41.6″S 116°27’30.6″E
Level pendakian : sulit

Baca Juga : Bukit Pergasingan & Gunung Tambora

Maps